"Dari pertama aja, saya sudah nggak setuju film itu jadi wakil Indonesia. Ada film Indonesia lain yang diproduksi dari 2005 yang lebih bagus dan representatif," ujarnya saat ditemui usai Seminar Film di Asean Film Festival 2011 di Hotel Mercure, Kuta, Bali.
Mira tak menyangsikan novel karangan Buya Hamka yang diadaptasi untuk film tersebut memiliki cerita yang bagus. Namun menurutnya, dalam adegan 'Di Bawah Lindungan Ka'bah' terlalu banyak mengandung pesan sponsor yang tidak pada tempatnya.
Salah satu alasan DBLK jadi wakil di AFF 2011 juga karena film tersebut dikirim ke ajang Academy Awards untuk kategori Foreign Language Film. "Tapi siapa yang memilih film itu untuk dikirim Academy Award?," singgungnya.
Produser 'Laskar Pelangi' itu kemudian beranggapan jika product placement yang salah dalam film Indonesia, seolah menjadi semacam "penyakit" baru. Mira melihat banyak pembuat film yang tergiur dengan tawaran dana, namun sarat dengan pesan sponsor yang justru bisa merusak estetika film tersebut.
"Bukannya ngga boleh tapi caranya harus pintarlah. 'Laskar Pelangi' sponsornya Pertamina, tapi nggak ada adegan Ikal isi bensin," sindir produser lulusan Institut Kesenian Jakarta itu.
Mira tak memungkiri jika dalam produksi film memang seringkali terbentur masalah dana, apalagi ketika jumlah penonton film Indonesia semakin menurun. Namun ia tak mau mengorbankan idealismenya dan merusak keindahan film itu sendiri demi tawaran dana yang tak seberapa.
"Saya seringkali ditawari dan seringkali menolak. Kalau saya memang butuh duit, mending saya bikin iklan produk itu. Kalau film, saya punya respect terhadap filmnya, so i will never do that. Bukannya saya nggak pernah product built in, tapi gimana caranya," paparnya.
Produser kelahiran Jakarta, 8 Agustus 1964 itu kemudian sedikit memberi bocoran dari mana dirinya mendapatkan dana selain dari sponsor atau perusahaan. Mira kebanyakan mendapatkan dana dari individual yang tertarik berinvestasi di filmnya, selain itu ada juga dana hibah dari pihak luar negeri.
"Misalkan Belanda yang kasih dana, jadi paling mereka minta filmnya diputar pertama kali di sana," tutupnya.
(ich/ast)










































