Kualitas Film Indonesia Dipuji Pejabat Thailand

ASEAN Film Festival 2011

Kualitas Film Indonesia Dipuji Pejabat Thailand

- detikHot
Kamis, 17 Nov 2011 18:22 WIB
 Kualitas Film Indonesia Dipuji Pejabat Thailand
Jakarta - Sejumlah delegasi dari negara-negara ASEAN sempat menyaksikan film 'Di Bawah Lindungan Kabah' (DBLK) yang diputar di ASEAN Film Festival 2011 yang digelar di Bali pada 16 - 17 November 2011. Apa komentar mereka?

Deputy Permanent Secretary Ministry of Culture Thailand Chandsuda Rukspollmuang mengaku kagum dengan kualitas film Indonesia. "Saya belum pernah sama sekali menyaksikan film Indonesia. Luar biasa, ini melebihi ekspektasi saya," ujarnya saat ditemui di Planet Hollywood Galleria, Kuta, Bali.

"Film yang bagus, aktor-aktris yang bagus, dan jalan cerita bagus," tambahnya memuji.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

DBLK merupakan sebuah film drama hasil adaptasi dari novel yang terbit pada 1978 karya Buya Hamka. Film yang dibintangi Laudya Cynthia Bella dan Herjunot Ali itu mengambil latar perkampungan Minangkabau di Sumatera Barat dekade 1920-an.

Film itu berkisah tentang kesetiaan dan pengorbanan cinta seorang pemuda bernama Hamid yang lahir dari keluarga tidak mampu. Dalam film tersebut diceritakan Hamid (Junot) terpaksa diusir dari kampungnya karena bersentuhan dan memberikan napas buatan pada Zainab (Bella) saat tenggelam di sungai.

"Saya jadi bisa lebih memahami mengenai kehidupan religi kalian melalui film ini," tuturnya.

Chandsuda ingin menyaksikan lebih banyak film-film dari negara ASEAN lain untuk memahami kebudayaan dan tradisinya. Menurutnya saat ini sudah ada kerjasama representatif asosiasi film dari negara-negara tersebut.

"Mudah-mudahan akan ada kerja sama co-production," harapnya.

Sementara itu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI Mari Elka Pangestu tertarik untuk menjalin kerjasama soal distribusi film dan promosi lokasi dalam produksi film-film di negara ASEAN.

"Lokasi film sangat mengangkat, seperti kita lihat sendiri Bangka-Belitung dengan 'Laskar Pelangi', dan 'Eat Pray Love' di Bali karena melibatkan banyak pihak dan mengembangkan industri kreatif," paparnya.


(ich/ast)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads