"Iya, di-drop. Awal bulan ini aku full latihan, sehari bisa 4 jam," kata Olga usai syukuran persiapan syuting film "Soegija" di Gereja Gedangan Semarang, Jalan Ronggowarsito, Jumat (4/11/2011).
Dalam film itu, saat perang pada awal-awal kemerdekaan berkecamuk, Ling Ling yang berusia 9 tahun (diperankan Reva) terpisah dengan ibunya (Olga Lidya). Keterpisahan ini juga dialami sejumlah keluarga dari suku mana pun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Aku belajar banyak. Tidak hanya untuk akting, tapi juga situasi-situasi pada jaman itu," kata perempuan 35 tahun ini.
Olga mengaku tidak mudah memerankan sosok Tionghoa dalam film tersebut. Menyitir berbagai referensi, ia menyebut pada awal-awal kemerdekaan, keluarga Tionghoa banyak menjadi korban perang. Ada yang mati, diperkosa, dan terpisah dari keluarga.
Beruntung, lanjut Olga, dirinya mendapat banyak input dari orang-orang yang berpengalaman di film seperti Garin Nugroho, Landung Simatupang, dan lain-lain. "Pokoknya senang sekali bisa main di film ini," jelasnya.
"Soegiya" bercerita tentang sosok uskup pribumi pertama di Indonesia, Mgr Soegijapranata. Film ini bersetting pada periode 1940-1949.
Biaya Rp 12 miliar diproduseri Studio Audio Visual (SAV) Puskat Yogyakarta. Dana sebanyak itu didapat dari donatur, penggalangan dana, dan pihak-pihak yang konsen terhadap sosok Soegijapranata, termasuk Universitas Katolik Soegijapranata (Unika) Semarang.
(try/ich)











































