Garin Nugroho Filmkan Gejala Fundamentalisme Agama

Garin Nugroho Filmkan Gejala Fundamentalisme Agama

- detikHot
Jumat, 19 Agu 2011 10:28 WIB
Garin Nugroho Filmkan Gejala Fundamentalisme Agama
Yogyakarta - Sutradara Garin Nugroho bersama Maarif Institute memproduksi film berjudul 'Mata Tertutup'. Film tersebut menceritakan kisah nyata dari golongan yang biasa disebut sebagai kaum fundamentalis agama di Indonesia.

"Film ini bercerita tentang kisah-kisah yang benar-benar terjadi di tengah masyarakat kita," ungkap Garin Nugroho di rumahnya di Jayengprawiran, Beji, Pakualaman Yogyakarta, Kamis (18/8/2011) malam.

Menurut Garin, gejala fundamentalisme agama telah menghalalkan jalan kekerasan dan memakan korban. Yang mengejutkan, justru institusi pendidikan (sekolah) jadi lahan subur tumbuhnya fundamentalisme agama yang menolak keberbedaan dan tepa-selira.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini benar terjadi di negeri ini. Fundamentalisme agama telah mengikis semangat ke-Indonesiaan yang multikultur. Sekolah telah kehilangan ruang publiknya sendiri. Tidak hadirnya budaya pendidikan kewargaan yang mengakomodasi ruang-ruang dialog kritis dalam institusi publik merupakan akar masalah fundamentalisme," papar Garin.

Film 'Mata Tertutup' berdurasi 90 menit dan menceritakan 3 karakter utama masing-masing Rima, Nanda dan Ibu Asimah. Kisahnya merupakan perpaduan antara ketidakharmonisan keluarga, kesulitan ekonomi, keputusasaan sosial-politik, dan kepicikan pandangan yang merupakan rumput kering yang siap terbakar kapan saja.

"Sudah 75 persen film ini selesai. Setting-nya di Jogja dengan sutradara saya sendiri dibantu teman-teman yang masih muda yang berbakat dan enerjik serta mampu bekerja dengan baik, dengan dibantu pemain multi talent Jajang C. Noer," jelas Garin.

Dalam penggalan film yang diputar tampak kisah seorang anak muda yang direkrut oleh jaringan Negara Islam Indonesia (NII). Di film itu digambarkan dua orang wanita yang naik mobil dengan mata ditutup terlebih dulu untuk diajak hijrah ke tempat yang lebih mulia di suatu tempat. Di tempa lain, keduanya kemudian dipertemukan dengan seorang ustad yang siap mencuci otak.


(bgs/mmu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads