"Film ini bercerita tentang kisah-kisah yang benar-benar terjadi di tengah masyarakat kita," ungkap Garin Nugroho di rumahnya di Jayengprawiran, Beji, Pakualaman Yogyakarta, Kamis (18/8/2011) malam.
Menurut Garin, gejala fundamentalisme agama telah menghalalkan jalan kekerasan dan memakan korban. Yang mengejutkan, justru institusi pendidikan (sekolah) jadi lahan subur tumbuhnya fundamentalisme agama yang menolak keberbedaan dan tepa-selira.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Film 'Mata Tertutup' berdurasi 90 menit dan menceritakan 3 karakter utama masing-masing Rima, Nanda dan Ibu Asimah. Kisahnya merupakan perpaduan antara ketidakharmonisan keluarga, kesulitan ekonomi, keputusasaan sosial-politik, dan kepicikan pandangan yang merupakan rumput kering yang siap terbakar kapan saja.
"Sudah 75 persen film ini selesai. Setting-nya di Jogja dengan sutradara saya sendiri dibantu teman-teman yang masih muda yang berbakat dan enerjik serta mampu bekerja dengan baik, dengan dibantu pemain multi talent Jajang C. Noer," jelas Garin.
Dalam penggalan film yang diputar tampak kisah seorang anak muda yang direkrut oleh jaringan Negara Islam Indonesia (NII). Di film itu digambarkan dua orang wanita yang naik mobil dengan mata ditutup terlebih dulu untuk diajak hijrah ke tempat yang lebih mulia di suatu tempat. Di tempa lain, keduanya kemudian dipertemukan dengan seorang ustad yang siap mencuci otak.
(bgs/mmu)











































