Rumah warga di sekitar pesisir itu juga hampir serupa. Berdinding kayu, beratapkan seng. Bahkan, warung-warung yang menjajakan dagangannya pun sangat jarang terlihat.
Selama 1 jam perjalanan, debu tak pernah hilang dari pandangan di pesisir pantai yang terkenal dengan pasir putihnya tersebut. Monoton, begitu kata seorang teman menilai perjalanan menuju tempat syuting Laskar Pelangi itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Belitung tampaknya mulai membangun. Kendaraan berat dan pegawai-pegawai tampak semangat bekerja diterik matahari. Cucuran keringat mereka membasahi jalan sepanjang 33 KM itu.
Namun, setelah sampai di Pantai Tanjung Tinggi, rasa bosan itu hilang dalam sekejap. Pantai dengan air jernih dengan kedalaman yang rendah membuatnya terlihat bak kolam renang yang sering kita jumpai. Batu-batu tinggi menggunung disepanjang pantai. Tak hanya itu, pasir putih juga jelas terlihat di dasar lautan.
Sang tuan rumah, yang juga penulis novel 'Laskar Pelangi' Andrea Hirata tampak bangga. Sesekali ia pun mengejek salah seorang rekan yang sebelumnya sering menyebutnya terlalu berlebihan menilai pantai itu.
"Lihat, alam ini. Gue nggak berlebihan menulis keindahan alam ini, bahkan tak ada kata yang pantas untuk menilainya," ungkapnya dengan mengangkat kedua tangannya menunjuk ke atas.
Laskar Pelangi memang membuat Andrea Hirata kini sangat terkenal, dan tentunya kelimpahan materi. Namun, untuk novel terbarunya yang berjudul '11 Patriot', Ia mengaku tak terlalu mengejar royalti. Menurutnya, novelnya kali ini khusus untuk mengekspresikan kebimbangannya soal persepakbolaan Tanah Air.
"Novel ini nggak mengejar pragmatis dan royalti," ungkap Andrea saat mengajak wartawan untuk napak tilas di lokasi pembuatan film 'Laskar Pelangi' di Pantai Tanjung Tinggi, Belitung, Jumat, (10/6/2011).
(nu2/ich)











































