Bagaimana Seorang Sutradara Menemukan (Kembali) Idealismenya?

Hari Film Nasional

Bagaimana Seorang Sutradara Menemukan (Kembali) Idealismenya?

- detikHot
Rabu, 30 Mar 2011 20:06 WIB
Bagaimana Seorang Sutradara Menemukan (Kembali) Idealismenya?
Jakarta - Hanung Bramantyo memakai topi 'kodok' dan celana pendek kotak-kotak dengan kedua tangannya sibuk mengarahkan kamera film. Namun, kali ini, ia tidak sedang syuting. Melainkan, itu terjadi di atas panggung pertunjukan musikal plesetan 'Laskar Dagelan' di TIM. Menyusul Joko Anwar dan Riri Riza yang sebelumnya telah 'menyeberang' ke teater?

Raut muka sutradara 'Catatan Akhir Sekolah' itu mendadak berubah, mengekspresikan perasaan tak senang ketika ditanya, apakah dirinya sedang melebarkan sayap ke dunia teater. Hanung (35 tahun) pun lantas bercerita tentang perjalanan kariernya yang penuh gejolak, sebelum akhirnya menjadi seorang sutradara film seperti sekarang.

Rupanya, panggung teater bukanlah hal baru baginya. Hanung telah mengenalnya sejak bangku SMP pada 1988 di Yogyakarta. Di sana Hanung remaja diasuh oleh Sanggar Anom pimpinan Gentong HSA. Perjalanannya menimba ilmu teater saat itu mengantarkan Hanung berkenalan dengan Butet Kartaredjasa dan Djaduk Ferianto.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya sering nonton pementasan Mas Butet dan Mas Djaduk, saya lebih banyak belajar sendiri soal teater. Tapi, formal ya sama Pak Gentong," kenangnya.

Tidak hanya dengan Gentong, Hanung pun mencari guru lain. Sanggar Jeprik pun menjadi pelabuhan kedua Hanung menimba ilmu panggung. Banyak yang ia pelajari, terutama soal akting. Hanung muda begitu mencintai dunianya saat itu meski tidak menghasilkan banyak uang untuk hidup. Bukti kecintaan Hanung dengan teater ditunjukkan saat dirinya memberanikan diri mendirikan sanggar teater bernama Teater Kanvas.

Cukup lama Kanvas eksis. Hingga akhirnya pada 1996 Hanung berhenti dari panggung teater, untuk kemudian hijrah ke Jakarta mendalami dunia film setahun kemudian. Pergolakan batin pun dimulai. "Pada saat saya ke Jakarta, ada satu hal yang saya katakan, ke Jakarta itu hanya untuk bekerja kok, tetap hati saya, roh saya itu di Jogja," paparnya.

Itu adalah hal yang terberat. Terlebih saat Hanung harus meninggalkan Marzuki, presiden Jogja Hip Hop Foundation. "Dia sahabat saya, waktu saya pergi kita emosional, kita terpisah. Karena dia itu partner saya dalam berkesenian," lanjut Hanung.

Awalnya, Hanung berharap Jakarta hanya tempat untuk mampir sementara. Namun, setelah lulus dari Institut Kesenian Jakarta, ia larut dalam keasyikan dunia film.Β  "Akhirnya saya akui saya kalah, dan akhirnya Jogja saya lupakan. Keinginan pentas drama sama teman-teman saya pendam. Saya harus membunuh kerinduan saya ke dunia panggung. Padahal sebenarnya dunia saya itu di sana," ujarnya.

"Seperti ada pikiran, kalau saya di sana (di dunia teater), saya tidak bisa hidup. Ada pertentangan antara komersil, saya mencari uang. Saya harus ada idelisme, di kepala saya harus bergejolak," lanjutnya.

"Karena Yogya sudah saya tinggalkan, maka akhirnya saya harus memilih saya mau ke mana. Ya saya harus di Jakarta, Jakarta harus saya hadapi. Istilahnya saya jadi pelacur, jadi pelacur deh. Dan terus-terang saya jadi pelacur, berkompromi dan meninggalkan idealisme saya," sambungnya lagi dengan nada emosional.

Setelah cukup lama bergelut menjadi sutradara dengan melahirkan film-film seperti 'Lentera Merah', 'Jomblo', 'Get Merried', Hanung mengaku baru menemukan sosok dirinya di film saat menggarap 'Sang Pencerah'.

"Sebelumnya saya kan tidak jujur, saya bohong selama ini dalam membuat film. Nah, akhirnya saya bisa membuat film tentang Jogja, 'Sang Pencerah'. Sebenarnya itu adalah akumulasi saya. Ini idalisme saya, dan alhamdulillah sukses. Saya menunjukkan itulah jujur dari diri saya," ungkapnya.

Sekarang, Hanung sudah menemukan idealismenya (kembali) setelah membuat 'Sang Pencerah'. Ia pun bertekad akan jujur dalam film-film berikutnya, dan tak mau lagi 'dijajah' oleh komersialisasi industri film.

"Sekarang, please, jangan memaksa saya berkompromi, jangan menyuruh saya membuat film yang bukan keinginan saya," tutup sutradara yang segera meluncurkan film barunya, berjudul '?" (Tanda Tanya) itu.

(ebi/mmu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads