Walikota Taiji, Kazutaka Sangen lah yang mengajukan protes. "Sangat disesalkan kalau film itu bisa menang. Karena ceritanya banyak yang tidak sesuai fakta dan lebih cenderung mendiskreditkan masyarakat kami," ujar Sangen seperti yang dilansir Yahoo! News, Senin (8/3/2010).
Sangen merasa tersinggung dengan cerita film 'The Cove' yang menggambarkan kalau masyarakat Taiji adalah pembantai lumba-lumba. Sangen menambahkan kalau masyarakatnya memburu lumba-lumba bukan untuk kesenangan, tapi demi kebutuhan hidup.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain menjadi tradisi, memburu lumba-lumba dan paus adalah tindakan yang sah di Jepang. Karena kebijakannya itulah Jepang sering diprotes oleh para pecinta alam dan sejumlah negara Eropa.
Jepang memang menjadi konsumen ikan terbesar di dunia. Diperkirakan puluhan juta ton ikan dan hewan laut berakhir di perut masyarakat Jepang setiap tahunnya.
'The Cove', yang disutradarai oleh mantan fotografer National Geographic, memang menggambarkan secara gamblang kisah perburuan lumba-lumba di Taiji, sebuah kota pelabuhan di selatan Jepang. Dalam film itu diceritakan bagaimana para aktivis lingkungan hidup melakukan kampanye anti perburuan lumba-lumba.
Saat melakukan aksinya, para aktivis tersebut mendapat perlawanan dari nelayan setempat, bahkan dari kepolisian Taiji.
Film 'The Cove' mengalahkan para nominator lainnya di Oscars 2010 seperti 'Burma VJ' (Anders Γstergaard & Lise Lense-MΓΈller), 'Food, Inc.' (Robert Kenner dan Elise Pearlstein), 'The Most Dangerous Man in America: Daniel Ellsberg and the Pentagon Papers' (Judith Ehrlich and Rick Goldsmith) serta 'Which Way Home' (Rebecca Cammisa). (fjr/fjr)











































