Demonstran yang semuanya menggunakan jilbab ini menganggap film tersebut tidak mendidik dan lebih banyak menampilkan adegan syur.
"Kami melihat film 'Suster Keramas' itu, lebih banyak menampilkan adegan syur yang mengarah kepada aksi pornografi. Tidak ada penyampaian edukatif dalam film tersebut," kata Humas FSLDK Iffa Waffa disela-sela aksi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami menyayangkan LSI tidak menyaring lebih dalam atas film tersebut. Sebab film ini tidak cocok ditonton anak-anak karena merusak akhlak," ujarnya.
Maka dari itu, kata Iffa, pihaknya menuntut perusahaan perfilman bersikap arif dan menghormati bangsa Indonesia yang sedang berjuang memberantas pornografi, dengan tidak membuat film yang mengandung unsur pornografi atau yang menghadirkan ikon film porno.
"Di saat masyarakat sedang memperjuangkan UU Anti Pornografi dan Pornoaksi, banyak film di Indonesia yang menampilkan aksi pornografi. Kita berharap UU APP ini diharapkan menjadi benteng," jelasnya.
Pantauan detikbandung, demonstran tersebut membawa spanduk yang di antaranya bertuliskan 'Lembaga sensor kemana saja', 'Stop penayangan 'Suster Keramas' perusak moral bangsa'. Mereka juga membawa bendera Merah Putih, dan bendera FSLDK.
Mereka membentuk lingkaran, dan menaruh pocong bertuliskan UU APP di tengah lingkaran tersebut. Mereka juga membakar foto bintang film porno asal Jepang Rin Sakuragi, dan juga membakar gambar film 'Suster Keramas'.
Demo yang dimulai pukul 10.00 WIB, dijaga puluhan aparat keamanan. Namun aksi tersebut tidak mengganggu arus lalu lintas sekitar Jalan Diponegoro.
(bbp/hkm)











































