Sejak satu dekade lalu, sutradara James Wan sudah tersohor di genre horror lewat film 'Saw', yang kemudian dilanjutkan 'Insidious' dan 'The Conjuring'. Film-film berbujet 'rendah' (US$ 1 juta - US$ 5 juta) itu mampu mendapatkan pemasukan lebih dari US$ 100 juta. Maka tak heran bila film-film Wan memiliki kelanjutan karena kesuksesannya.
Jika 'Insidious' dan 'Saw' dibuat berseri, cerita 'The Conjuring' melebar ke 'Annabelle', boneka mistis seukuran balita yang menyeramkan. Dikisahkan sebelum bersemayam di kediaman pasangan paranormal Ed dan Lorraine Warren, Annabelle sudah menyebarkan teror yang memakan korban.
Semua berawal dari kisah pasangan Mia (Annabelle Wallis) dan John (Ward Horton). Mia yang merupakan kolektor boneka sedang hamil besar. Ia tinggal berdua bersama suaminya di rumah yang berdampingan dengan pasangan setengah baya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini bukan darahku. Lekas telepon polisi," kata Jon pada istrinya.
Adegan dramatis itu adalah awal dari semua mimpi buruk. Pasangan setengah baya di sebelah rumah mereka dibantai dengan sadis oleh putrinya sendiri, Annabelle, yang tiba-tiba muncul ke rumah dengan pisau terhunus setelah menghilang karena masuk sekte sesat.
Ketika John masih berada di rumah sebelah, Mia beranjak masuk ke rumah dan tanpa sadar menghampiri teror lain yang menunggu. Keadaan kacau itu berujung pada tewasnya Annabelle sambil memeluk salah satu boneka koleksi Mia. Ketika darahnya menetes ke mata boneka tersebut, koleksi Mia itu tak lagi sekadar pemanis ruangan.

Dalam film 'Annabelle' James Wan masih memberikan sentuhannya dengan duduk di kursi produser. Film ini dipercayakan pada John R. Leonetti sebagai sutradara. John sebelumnya menjadi sinematografer 'Insidious', 'Insidious 2' dan 'The Conjuring.'
Film dengan biaya produksi US$ 5 juta atau sekitar Rp 60,9 miliar (setara dengan bujet produksi 'The Raid 2: Berandal') ini hanya melakukan syuting dengan set di rumah, toko buku, rumah sakit dan apartemen di kawasan South Normandie Avenue, dimana 55 kru melakukan pengambilan gambar hanya beberapa hari.
Cerita-cerita horor dari film James Wan cs mungkin tak lebih menyeramkan dari kisah mistis kuntilanak, genderuwo dan dedemit lainnya asal Indonesia. Selain teknologi, teknik menakut-nakuti mereka lah yang membuat film-film horor Hollywood itu begitu menyeramkan. Masih ingat adegan 'clap clap' di The Conjuring' yang tak terduga?
Bagaimana bisa suara musik anak bayi yang begitu menenangkan, membuat jantung berdegup lebih cepat? Lantai kayu yang berderit sanggup membuat penonton menahan napas? Dan, musik yang tepat melengkapinya, hingga membuat penonton mencengkram bangku dengan erat.
John R. Leonetti menggunakan racikan horor yang tak jauh berbeda dari film-film sebelumnya untuk 'Annabelle.' Kemunculan sekilas dari sang hantu yang mendebarkan, penampakan tiba-tiba sosok setan yang mengagetkan, hingga penggunaan musik pemompa adrenalin.
Meskipun memberikan pengulangan sensasi horor, tetapi John juga bisa memberikan memorable scene yang mendebarkan. Tunggu saat Anda melihat Mia terjebak di sebuah gudang dan berusaha melarikan diri dengan lift. Hii...!
Menonton 'Annabelle' seolah membuat kita tengah merasakan love-hate relationship. Membuat perut mulas ketika menyaksikan, tetapi penasaran menunggu adegan lanjutan. Dan James Wan cs pun akan terus mengembangkan formula horornya dengan teknik-teknik baru sebagai mesin pencetak uang.
(ich/mmu)