Elephant Kind tumbuh dan berkembang selama hampir dua tahun terakhir. Belum punya satu album penuh, namun mereka telah merilis dua EP alias album mini.
Menariknya, dua EP yang masing-masing berjudul 'Scenarios' dan Promenades' itu punya dua elemen yang jarang didapati pada rilisan musisi Indonesia lainnya. Pertama, munculnya karakter fiksi bernama Julian Day yang punya kisah cinta tragis, dan kedua, konsep film pendek yang terkandung di dalamnya.
Dalam perbincangan dengan detikHOT di kawasan Radio Dalam, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu, Bam Mastro, Dewa Pratama dan Bayu Adisapoetra menuturkan seputar proses kreatif mereka dalam melahirkan karya-karya awal tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Walaupun segmen kita beda (dengan Barasuara), tapi ya dengan dua EP ini kita jadi tahu market Elephant Kind seperti apa," sambungnya.
"Kita juga sekalian mau nunjukin, lo masih mau ngefans sama Elephant Kind nggak kalau lagunya beda dari EP pertama dan kedua? Karena memang dua EP itu berbeda banget musiknya," tambah Bam lagi.
Dari situ, perbincangan kemudian meluas ke soal keunikan karakter fiksi Julian Day dan konsep film pendek yang mereka usung. Sekedar gaya-gayaan untuk cari perhatian?
"Pesan paling intinya adalah showbiz dan semua orang-orang di dalamnya sudah punya skenario tentang apa yang mau dilakukan. Kalau Julian Day adalah karakter fiksi ciptaan Bam yang divisualisasikan oleh Dewa. Di EP pertama, diceritakan Julian Day bunuh diri karena patah hati. Tapi, lagu-lagu di dalamnya semangat semua beat-beat-nya. Ingin lebih memberikan semangat kepada orang-orang yang lagi bitter," terang sang drummer Bayu panjang-lebar.
Kenapa bunuh diri? Dengan menghadirkan adegan itu, mereka justru ingin mendapatkan efek yang sebaliknya. "Nggak gampang juga lho bunuh diri. Nggak tahu apa yang ada di depan dan hidup lo langsung habis gitu. Jadi, daripada bunuh diri mending dengerin 'Promanades'. EP 'Promenades' itu prekuelnya, kenapa Julian Day mau bunuh diri, dia patah hati sama siapa aja," timpal Dewa mengungkapkan pesan moral konsepnya.
"Kalau film ya karena memang kita semua suka film tapi nggak bisa bikin film. Jadi, film di itu berasal dari track di dalamnya yang divisualisasikan sama pendengar sendiri. Ya sebetulnya berawal dari ide-ide liar aja sih," sambung Dewa lagi.
'Scenario II', 'Oh Well', 'Down Hill' adalah beberapa hits yang lahir dari EP 'Scenarios'. Sedangkan 'Why Did You Have To Go' dan ''With Grace' dan 'She Was Her' menjadi andalan dari EP keduanya, 'Promenades'.
"Di manapun, EP selalu disajikan ala kadarnya. Nah, we're gonna take EP to the next level, EP yang berkonsep dengan matang. Kita mau menunjukkan bahwa dari EP saja kita nggak main-main. Sore, White Shoes and The Couples Company itu sudah break the celling, tinggal kita nongol aja. Kita mau meneruskan legacy mereka dengan karya yang lebih baik," tegas Bam lagi-lagi menyebut contoh band yang telah lebih dulu sukses.
"Syukur-syukur kalau bisa menjadi standar baru," tandas Dewa seraya tersenyum.
Lantas, kapankah Elephant Kind benar-benar merilis debut album penuhnya? Tunggu bocorannya hanya di 'Main Stage' detikHOT hari ini
(mif/mmu)











































