Cerita 'seram' itu berawal ketika Matari yang sedang bertandang ke kantor detikHOT bercerita mengenai untung-rugi bermain musik saat jauh lebih populer sebagai aktor. Sesaat kemudian, Indra Birowo pun menyinggung bahwa ada 'mafia' di industri hiburan Indonesia yang sudah tidak bisa diganggu gugat lagi.
"Kalau semuanya seimbang, harusnya musik Matari bisa diterima dengan baik. Karena begini, sekarang yang megang media itu kan ada 'mafia'. Jadi, bisa dibilang nggak semudah itu memperdengarkan karya bagus kalau memang nggak bisa ikut cara main mereka," cerita suami dari Noella Adrianty itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Gue ada kenal orang di stasiun televisi yang ada acara musiknya, kenal cukup baiklah. Tapi tetap saja mau masuk lagu ke sana, sebentar dulu, harus melewati prosedur-prosedur 'ploncoan'. Walaupun kita buka orang baru," sambungnya.
Meskipun begitu, harapan untuk diterima seluruh penikmat musik di Ibu Pertiwi tidak pernah surut dari Indra, Roby dan Rendi. Berjuang dari indie label sampai kemudian berlabuh di Universal Music Indonesia, band pelantun 'Karma yang Sama (single di indie label)' itu akan terus berusaha.
"Menjadi booming, hits itu impian semua musisi yang berkarya. Tapi kita cukup bangga kalau setidaknya sekarang punya segmen dulu, pendengar setia Matari. Itu dulu aja," tutup Roby tegas.
Panjang-lebar tentang Matari sudah diceritakan oleh tiro power pop itu kepada detikHOT. Tinggal satu lagi, rencana masa depan mereka. Apa saja? Simak hanya di detikHOT!
(hap/mmu)











































