"Kalau dilihat-lihat, Superglad ini band profesional tapi tidak punyak manajemen secara profesional. Karena dari dulu kalaupun ada yang disebut manajer itu teman kita sendiri juga, malah di album terakhir gue yang jadi manajernya," cerita Buluk kepada detikHOT saat wawancara di Kantor Demajors di Kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan.
"Biasanya pas mau ada event aja baru semuanya lengkap mulai dari road manager sampai kru-kru alat," sambungnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Makanya Superglad tidak punya plan untuk promo media, kita nunggu bola jadinya, kita nggak bisa jemput bola, nawarin ke radio atau media kalau kita sedang ada karya baru. Itu yang membuat Superglad beberapa kali terkesan menghilang atau digosipkan bubar," tutur vokalis klimis itu lagi.
"Karena kita mikirnya, udah bikin lagu aja, manggung biar dompet bisa terisi. Media belakangan aja. Tapi setelah 10 tahun barulah kita sadar, gimana dompet mau keisi kalau orang aja nggak tahu kita," tambah sang gitaris, Dadi.
Setelah resmi dipinang Demajors sebagai manajemen dan label, Superglad pun langsung tancap gas mengejar ketertinggalan mereka dalam hal promosi. "Terasa lho bedanya, sekarang interview sana-sini, kita punya akun email band sendiiri, terus ada yang ingetin tiap hari buat acara-acara ke depan. Kalau dulu kan, 'cuy, lo di mana? Kita mau latihan nih'," kenang masing-masing personel.
Termasuk keinginan mereka untuk bisa melaju ke ranah internasional.
"Selama ini belum terjadi saja mungkin, karena dulu kan kita belum punya manajer profesional yang punya link untuk ke sana. Mudah-mudahan lewat mulai saat ini ke depannya bisalah," tutup Buluk.
(hap/mmu)











































