Sebetulnya jawaban ini di luar perkiraan detikHOT ketika mewawancarai Superglad di Kantor Demajors di Kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan. Ketika bertanya soal salah satu album mereka yang dirasa hasil negosiasi dengan pasar, ternyata jawabannya justru sangat berbeda.
"Superglad tidak pernah bernegosiasi dengan label manapun! Tapi kita negosiasinya dengan istri," samber Buluk disambut tawa membahana seisi ruangan dari para personel lain yang menandakan bahwa hal itu benar adanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebetulnya, album yang dimaksud adalah 'Flamboyan' yang dirilis tahun 2008, dimana Superglad menyajikan karya-karya pelan yang tidak pernah diciptakan Superglad sebelumnya. Tak ayal album tersebut pun menjadi gunjingan negatif di berbagai media.
"Awalnya itu waktu single 'Satu' yang buat HIV tahun 2005, kan kita meledak banget, gila-gilanya. Nah dari situ, akhirnya istri-istri kita bilang 'bikin lagu yang kaya gitu dong, yang temponya pelan bisa didengerin'. Jadilah album 'Flamboyan' begitu semua," kenang Bassis, Giox menimpali.
Di luar itu, band yang sudah berjalan satu dekade itu memang selalu terbuka pada keluarga mereka. Tak hanya istri, saran dari orang tua pun menjadi pertimbangan apakah lagu tersebut enak untuk didengarkan atau tidak.
"Istri memang suka kasih masukan. Kayak Akbar bilang, 'istri gue bilang lagu ini enak nih' atau Giox bilang, 'nyokap gue suka cuy sama yang itu'. Kaya gitu. So far kalau ada saran-saran dari keluarga pasti akan kita omongin," jelas Buluk lagi.
Tapi memang tak bisa dipungkiri bahwa musik rock yang kemudian menyatukan empat berandalan sayang istri itu. Sehingga pada perjalanannya, para istri dan orangtua pun memaklumi bahwa Superglad tak bisa selamanya menghasilkan karya seperti lagu 'Satu'
"Superglad berdiri dibalut dengan musik rock ala Superglad. Pada akhirnya mereka ngerti kalau kita nggak bisa kalau nggak main musik rock yang biasanya," tandas drummer, Akbar.
(hap/mmu)











































