Pria blasteran Indonesia, China dan Hawaii ini sudah mulai mengenal musik dari belia. Sandy kecil rajin mengikuti kegiatan drama musikal di gereja. Sandy pun tidak menggali bakatnya lebih dalam dan memilih fokus untuk menempuh pendidikan di Australia dan masuk Gemology Institute of Amerika di New York.
Setelah kembali ke Tanah Air pada 2007, Sandy pun meneruskan hobi bernyanyinya di sela-sela kesibukan kantor. Sandy mulai menjadi jalan menggali bakatnya dengan ikut latihan suara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hingga pada awal 2010, Sandy merilis single bertajuk 'Hello' ciptaan penyanyi Mus Mudjiono. Lagu tersebut bercerita tentang perasaan cinta terhadap seseorang. Cinta yang dikira sudah berlalu, ternyata masih pada tempatnya.
Selain dibantu Mus, beberapa musisi lain juga terlibat. Sebut saja Iwang Noorsaid dan Alam Urbach. Ada tujuh lagu yang akhirnya dituangkan Sandy dalam album tersebut.
Ia juga mendaur ulang lagu Utha Likumahuwa yang bertajuk 'Untuk Apa Lagi'. Sandy mengaku sudah jatuh cinta pada lagu tersebut sejak kecil.
"Lagu Utha itu sebenarnya pengen ambil yang 'Mungkinkah Terjadi' tapi ternyata udah diambil penyanyi lain. Penciptannya nawarin lagu ini. Dan lagu ini jadi beda banget. Karena range vokal aku sama Om Utha kan beda jauh," tutur Sandy.
Sandy pun percaya diri dengan album perdananya. Lalu seperti apa sih suara Sandy?
"Banyak yang bilang suaraku romantis. Tapi saya ya biasa aja. Tapi ternyata banyak yang bilang cocoknya lagu-lagu sweet, romantic song. Aku dibilang kayak Christian Bautista Indonesia," ucap Sandy seraya tertawa.
(yla/mmu)











































