'Get M4rried': Mengkompromikan Konsistensi Jilid 4

Shandy Gasella - detikHot
Rabu, 07 Agu 2013 11:50 WIB
Jakarta - Sepertinya Chand Parwez sebagai salah seorang produser yang paling produktif di negeri ini sangat konsisten dengan selalu merilis sekuel film 'Get Married' setiap dua tahun sekali, sejak jilid pertamanya mencoba mengocok perut penonton pada 2007 silam. Bisa dibilang seri 'Get Married' ini adalah anak emasnya, dan bolehlah disebut film franchise kesayangannya.

Film ini diisi oleh karakter-karakter yang sama, juga memiliki kontinuitas cerita yang signifikan dari satu jilid ke jilid berikutnya. Fenomena tersebut yang jarang ditemui di dunia perfilman Indonesia kontemporer, di luar seri suster ngesot, pocong, dan nenek gayung tentunya. Kini, dalam rangka penyemarak libur Lebaran tahun ini, jilid keempatnya pun dirilis dengan mengusung judul yang sedikit alay,'Get M4rried'.

Monty Tiwa masih duduk di kursi sutradara melanjutkan apa yang telah ia capai pada 'Get Married 3' (2011), dan Cassandra Massardi -- sejauh ini -- menjadi penulis naskah tetap sejak keterlibatannya di 'Get Married 2' (Hanung Bramantyo, Iqbal Rais, 2009) menggantikan Musfar Yasin, senior yang menulis naskah jilid pertamanya.

Bila setia mengikuti keseluruhan seri 'Get Married', Anda akan menemukan nuansa komedi yang berbeda antara jilid pertama dengan tiga sekuelnya. Tak seperti Musfar Yasin yang hanya mengandalkan komedi slapstick semata, Cassandra Massardi terasa memberi bobot lebih pada komedi yang ia tawarkan. Walaupun sesekali Cassandra tetap tak kuasa menghindari slapstick juga, tapi paling tidak ia terlihat berusaha keras untuk menghindarinya, terlebih pada 'Get M4rried' ini.

Mae (Nirina Zubir) kini mulai merasa bosan dengan kehidupan rumah tangganya bersama Rendy (Nino Fernandez) dan ketiga anaknya yang selalu ia antar-jemput ke sekolah. Entah karena tuntutan skrip atau memang kebetulan fisik Nirina Zubir yang agak 'gembrot' itu terasa pas sekali dengan karakter Mae yang ia perankan sekarang, layaknya kebanyakan ibu-ibu lain; cuek, tak lagi gemar berdandan. Namun begitu, Rendy adalah sosok suami idaman semua wanita; selain pengertian, ia pun tak bosan-bosannya menunjukkan rasa sayangnya kepada Mae. Pada satu adegan, Rendy mengetahui bahwa Mae sering bertemu dengan laki-laki lain bernama Max (Ajun Perwira). Alih-alih marah terbakar cemburu, ia memeluk Mae sambil mengucap kata sayang, dan Mae berlalu begitu saja mendengar kata-kata manis dari suaminya itu.

Max adalah teman Sophie (Tatjana Saphira), adiknya Rendy. Sophie gadis berusia 16 tahun, replika Cinta Laura di film ini. Ia ingin menikahi Kim (Math Wang Kie), cowok barunya yang berkewarganegaraan Korea. Mae merasa rencana pernikahan Sophie di usia belianya itu harus digagalkan demi kebaikan Sophie sendiri. Dibantu sahabat-sahabat veterannya, Benny (Ringgo Agus Rahman) yang kini berlagak ustad, Guntoro (Deddy Mahendra Desta) dan Eman (Amink), mereka berusaha menghalang-halangi Sophie untuk menikah dengan Kim. Sebagai gantinya mereka mencoba menjodohkan Sophie dengan Jali (Ricky Harun), cowok Betawi yang sedang magang di kantor kelurahan. Dari sini gelak tawa pun digelar tanpa henti.

Konsistensi adalah hal utama yang dikompromikan dalam film ini, dan memang masih menjadi permasalahan umum yang lekat pada kebanyakan film-film Indonesia lainnya. Pada satu sisi 'Get M4rried' ingin menampilkan realitas, syukur-syukur bisa jadi satu acuan amatan sosiologis atas kehidupan masyarakat urban Jakarta dari kelas paling bawah hingga teratas. Realitas dalam film dibangun tak hanya oleh naskah film dengan jalinan cerita yang masuk akal, namun juga lewat penyutradaraan yang baik dan anggaran produksi film yang memadai. Anggaran yang terbatas memang sering membatasi kreativitas pembuat film. Dan, ketiga hal itu alih-alih membangun reka percaya yang baik, mereka malah saling menghalangi 'Get M4rried' untuk menampilkan realitasnya, membuat film ini hanya mampu menggelar lawakan dengan tanpa disadari telah mengganggu realitas yang ingin dibangunnya tadi.

Penggambaran Rendy dan Mae sudah cukup baik, pun begitu dengan Babeh (Jaja Miharja) dan Bu Mardi (Meriam Bellina) lewat segala aktivitas mereka yang ditampilkan dengan cukup masuk akal. Rendy sehari-hari ngantor, di rumah pun ia masih sibuk menerima telepon soal kerjaan, sedangkan Babeh dan Bu Mardi sibuk dengan kegiatan mereka sebagai Pak Lurah dan Bu lurah, maka intensitas kehadiran mereka di layar yang tak begitu sering jadi terasa pas. Hal ini kontras sekali dengan keberadaan ketiga sahabat Mae, yang masih tak terjelaskan bagaimana kehidupan pribadi mereka atau apa pekerjaan mereka selain nongkrong main gaple di pinggir kali. Motivasi mereka membantu Mae menggagalkan rencana pernikahan Sophie pun terasa tak kuat. Maka, keberadaan mereka di film ini masihlah sebatas sebagai badut penghibur saja. Ini PR bagi Cassandra Massardi bila masih akan tetap menulis jilid kelimanya nanti.

Kehadiran grup musik Slank yang berlebihan di film ini amat mengganggu, terlebih adegan konser. Tak pernah terjadi konser Slank dihadiri oleh seratusan orang penggemar, dan film ini memang membuatnya tampak begitu. Karena anggaran produksikah? Bila ya, sebaiknya adegan konser ini tak dibuat saja, karena hal tersebut hanya membuatnya menjadi cupu, dan (tentu saja) konyol.

Di luar segala kekonyolan itu, 'Get M4rried' memang mampu mengocok perut dengan beberapa dialognya yang lucu secara telak. Nino Fernandez tampil mengejutkan. Tak seperti beberapa lawan mainnya yang tampak berusaha keras untuk melucu, ia tampil bak tanpa usaha sama sekali dan justru kelucuan yang dibuatnya jadi terasa jujur. Aksi pendatang baru Tatjana Saphira dan Ricky Harun pun jadi tambahan yang manis di film ini. Keduanya berhasil mencuri perhatian. Ini adalah satu lompatan yang baik bagi Ricky Harun, dan akun Twitter Tatjana Saphira sepertinya bakal kebanjiran follower baru, well sort of real fans -- begitu kata Cinta Laura, eh Sophie, karakter yang ia perankan di film ini.

Di penghujung film ada twist yang sebaiknya tak pernah ada. Tampak sekali twist tersebut diniatkan untuk menguras air mata lewat cara yang usang, bila tak mau disebut gampangan. Dan, cara gampangan itu sudah sering dipakai oleh para pembuat film sebagai trik jitu pemancing air mata, atau mungkin inilah usaha terbaik yang bisa dilakukan si pembuat film agar 'Get M4rried' tampak berkesan. Sayangnya, itu adalah usaha yang tak perlu, dan lagi pula siapa yang butuh air mata saat penonton hanya ingin bersenang-senang?

Shandy Gasella - pengamat perfilman Indonesia

(mmu/kmb)