Sedari kecil Solena telah bercita-cita ingin jadi perempuan. Lahir sebagai laki-laki, Solena sadar sejak dini bahwa nuraninya menolak fisiknya. Di usia sebelas tahun, ia bilang pada kedua orangtuanya tentang keinginannya mengubah kelamin menjadi perempuan.
Terkejut dan tak menyangka mendengar pengakuan Solena, kedua orangtuanya pun berusaha meyakinkan bahwa ia adalah murni laki-laki normal pada umumnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Waktu nyatanya tak menyurutkan keinginan Lena untuk mengubah diri. Meski kemudian ia dijodohkan dan menikah di tahun 2003 kala usianya 25 tahun, Lena bak terombang-ambing atas keinginannya menjadi perempuan.
"Setiap pulang kerja saya belajar les make-up. Istri nggak tahu, karena saya umpetin peralatan make-up di bagasi mobil," ungkapnya.
Tak tahan terus-menerus membohongi sang istri, Lena akhirnya memutuskan untuk bercerai. Usai berpisah, ia akhirnya 'kabur' ke New York. Kota itu dipilihnya sebagai tempat bagi Lena untuk memulai lembaran baru. Dari karier hingga menentukan jati diri.
Setelah dua tahun mengumpulkan uang dari pekerjaannya sebagai pelayan dan tukang cuci piring di beberapa restauran, Lena kemudian melanjutkan sekolah di bidang hairstylist dan make-up.
"Di sana saya menjadi saya yang saya inginkan sejak dulu. Menjadi perempuan tanpa ada cemoohan dari orang-orang di sekitar dan melakukan pekerjaan yang saya suka," kata Lena.
Solena pernah menjadi penata rambut khusus pria di sebuah salon dan spa, Paul Labrecque, New York. Ia pun pernah menjadi penata rambut kalangan selebriti serta tokoh ternama, termasuk Presiden Amerika Serikat ke-42 Bill Clinton hingga manajer Justin Bieber, dan Scooter Braun. Selain itu ia sempat berakting dalam film Hollywood, 'The Brooklyn Finest' dan 'The Extra Man'.
"Saya ke Indonesia ingin melanjutkan karier saya. Akting atau jadi model, saya mau coba apapun di sini," paparnya.
(doc/mmu)










































