"Aku tahu banyak pembaca akan menonton film ini dan aku ingin mereka bahagia. Untuk masalah apakah aku sudah dengan benar memerankan penyakitnya atau yang lain, itu bukanlah sebuah masalah besar karena kami tak memerankan penyakitnya, namun kami berperan sebagai si penderita," ujar Ansel.
Ansel berperan sebagai sosok Gus, remaja berusia 17 tahun mantan pemain basket yang harus mengamputasi kakinya karena Osteosarcoma. Ia dideskripsikan sebagai sosok yang memiliki ketakutan untuk dilupakan karena telah didiagnosis mengidap kanker.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berperan sebagai Gus adalah sebuah pembelajaran hidup bagi Ansel. Ia tak hanya bertemu dengan orang-orang profesional di dunia akting, namun mereka yang mengidap penyakit kanker.
"Kami menghabiskan waktu dengan doktor dan anak-anak yang mengidap kanker. Ada seorang anak yang kehilangan kakinya dan sedang dalam proses untuk pemasangan prostetik. Tapi yang penting anak-anak ini membuktikan bahwa mereka bukanlah penyakit dan mereka hanyalah anak-anak biasa," paparnya.
Sehingga, 'The Fault in Our Stars' adalah sesuatu yang baru, yang berhasil mengangkat sisi lain dari kehidupan yang sebenarnya. Yang jarang ditampilkan sebagai tokoh utama di film-film lainnya.

"Dalam film soal kanker, pemeran utama biasanya orang sehat dan ceritanya tentang orang sehat yang belajar dari mereka yang sekarat. Hal ini seperti berkata bahwa mereka tak begitu penting jadi pemeran utama di film," lanjut Ansel.
Namun di buku dan film tersebut, kata Ansel, berbicara tentang kebenaran. Tak peduli berapa lama kau hidup, semua orang bisa menjalani kehidupan yang sama pentingnya.
(kmb/mmu)










































