Hal itu diceritakan Tumpal kepada detikHOT di sela-sela kesibukannya syuting KTP di Studio Palem, Jakarta Selatan, Senin (1/7/2013). "Saya dari kecil memang hidup susah," ungkapnya membuka obrolan.
Dikisahkan, Tumpal terlahir dari keluarga berekonomi lemah. Tinggal di rumah kontrakan membuatnya sering berpindah dari satu tempat ke tempat lain. "Dulu ngontrak, 12 kali pindah rumah. Diusir beberapa kali juga pernah," kenangnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tumpal mengawali karier pada 2006 dengan menjadi koki di sebuah hotel di Jakarta, sambil mengikuti kursus alat musik drum di Lembaga Pendidikan Music Farabi. Memasak, dan bermusik diakuinya memang sudah menjadi kegemarannya sejak kecil.
"Suatu ketika saya harus ujian musik, dan waktunya bentrok sama kerjaan di hotel. Saya izin, nggak dikasih. Akhirnya mau nggak mau, waktu itu saya memilih keluar," terang pria bertubuh tambun itu.
Karena berhenti dari hotel tempatnya bekerja, kondisi keuangan Tumpal saat itu terancam. Pemilik tinggi 168cm dan berat 105kg itu pun mengamen di daerah Jakarta Selatan demi bertahan hidup.
"Tahun 2008 saya pernah ngamen di jalanan di daerah Blok M selama 8 bulan. Saya masih inget banget," kenang Tumpal. Untungnya, pada 2009 pria yang masih menjomblo tersebut diterima bekerja sebagai koki di RSUD Cengkareng, Jakarta Barat.
Setahun kemudian, sulung dari tiga bersaudara itu pun diterima bekerja di talent management Trans TV. Dari situ pulalah ia akhirnya secara tak sengaja ditawari kesempatan untuk bermain dalam sitkom KTP.
Tumpal mengaku sangat bersyukur kehidupannya kini lebih baik setelah membintangi KTP yang tayang di Trans TV setiap Senin-Jumat pukul 18.00WIB itu. Meski makin terkenal, ia tak mau jumawa.
"Saya ngawalin semua dari nol. Sekarang alhamdulillah, mungkin rezekinya di sini. Saya selalu bersyukur, dinikmatin aja semuanya. Semoga karier saya makin baik ke depan," tandasnya penuh harap.
(bar/mmu)











































