Semasa muda, Aty pun pernah kuliah, namun tak selesai. Alasannya, ia tak mau perhatiannya terpecah, sebab kala itu ia sudah mulai sibuk mengisi peran di berbagai judul film.
Namun, meski telah merasakan asam garam di dunianya itu, bintang film 'Puisi Tak Terkuburkan' karya Garin Nugroho itu merasa dirinya tak pernah 'naik kelas' dalam kariernya itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Dari dulu peran saya selalu peran-peran baik. Saya sebenarnya ingin main jadi jahat atau psikopat. Saya yakin, saya bisa lho, berakting jadi jahat,” ujarnya serius.
Namun, apa daya, para sutradara lebih percaya Aty memerani sosok pembantu rumah tangga, atau orang miskin. Ia ingat, sutradara besar macam Arifin C. Noer dan Teguh Karya pernah mengatakan kepadanya bahwa dirinya memang sosok yang paling pas memerankan tokoh-tokoh seperti itu. Dalam peran-peran tersebut, sosoknya tak bisa digantikan oleh siapapun.
“Arifin C. Noer sampai rela menunda proses syuting film Supersemar yang ia garap dulu, demi nunggu saya datang dari Padang ke Jakarta untuk main di film tersebut. Padahal peran saya kecil banget, dua scene saja, berperan sebagai pembantu yang melayani majikannya,” kenang Aty sambil tertawa.
Hal itu pun sering menjadi dilema baginya di kemudian hari. Sambil menyuap sendok terakhir dari seporsi soto betawi di hadapannya kala berbincang dengan detikHOT, Aty menuturkan di usianya yang tak lagi muda kini, ia berharap bisa berperan menjadi sosok yang menyebalkan meski hanya sekali saja.
“Masih kepengen untuk nyoba peran lain. Mudah-mudahan ada kesempatan untuk saya berperan antagonis suatu saat nanti,” harapnya.
(doc/mmu)











































