Yanus Putrada: Memotong Rambut, Menyambung Hidup

ADVERTISEMENT

Pergaulan

Yanus Putrada: Memotong Rambut, Menyambung Hidup

M. Iqbal Fazarullah Harahap - detikHot
Minggu, 10 Jul 2022 18:52 WIB

Berjalan, 2009 menuju 2011, potong rambut membawa pria kelahiran Maret ini menyambung lagi kehidupan kuliahnya. Lulus kuliah 2015, perjalanan membawanya merantau ke Jakarta setahun kemudian. Di Jakarta hingga saat ini, Yanus kemudian menjadi andalan bagi banyak tokoh publik, mulai dari mereka yang tidak bisa disebut namanya sampai para selebriti. Untuk tarif, sebetulnya siapapun bisa mencoba dengan menghubungi nomor kontak di media sosialnya, yang jelas angkanya mencapai jutaan rupiah.

"Gue itu berprinsip, prioritas gue adalah mood-nya orang yang mau potong rambut. Dia mau potong rambut saat itu, sebisa mungkin gue akomodir. Makanya jam kerjanya nggak ada jam kerja. gue ngikutin aja. Paling pagi misalnya jam 3 juga pernah."

Yanus PutradaYanus Putrada Foto: Grandyos Zafna

"Lokasinya juga ngikutin klien. Pernah potong rambut anaknya Asri Welas yang waktu itu masih bayi, gue potong di kolam renang, ikut nyemplung. Di restoran pernah, di bengkel ketok magic juga pernah. Jadi gue lagi service mobil, langganan gue mau potong tapi gue lagi di bengkel. Dia mau, ya sudah nggak apa-apa, kita potong rambut di pos satpamnya gitu. Intinya, gue sebisa mungkin nggak menolak klien, cuman mungkin kalo nggak ketemu jadwalnya aja. Cuman kalau alasan menolak, nggak ada."

Tiap helai rambut yang dipotong, tentunya akan tumbuh lagi. Dan itu, tidak hanya tumbuh bagi si pemilik rambut, tidak hanya menumbuhkan karier Yanus. Tapi juga, menumbuhkan semangat dan menyambung hidup orang-orang yang ditemuinya. Pasalnya, Yanus, kerap mengajarkan ilmunya kepada orang-orang jalanan yang membutuhkan alternatif pekerjaan dan mereka yang memiliki keterbatasan. Dalam cerita ini, teman tuli.

"Dulu gue nggak bisa ngomong kalo potong rambut ini untuk menyambung hidup, ternyata memang bisa. Potong rambut bukan pekerjaan sampingan, bukan pekerjaan yang memalukan. Skill ini nggak salah untuk lo miliki. Misal ngelamar kerja nggak diterima, belajar potong aja. Kalau bisa, lo bisa potongin tetangga lo, temen. 10 orang lo tarik Rp20.000, dapat Rp200.000. Lo mau kuliah ke luar negeri, mau melakukan apa, kan nggak langsung jadi. Lo bisa potong rambut, lumayan buat tambah-tambah. Nggak salah untuk belajar."

"Ada yang bantuan kerja di sini, namanya Baim dari komunitas Bisindo. Berawal dari keinginan gue, kita kalau nggak bisa komunikasi dengan baik waktu potong rambut, hasilnya beda dengan yang kita mau. Bagaimana mereka? Pasti lebih susah. Kemudian gue menawarkan diri untuk ngajarin mereka potong rambut. Beberapa kali gue juga nawarin pemulung untuk belajar. Ada yang mau, ada yang sudah tolak duluan takut diminta bayaran. Ada yang nggak mau karena ngerasa nggak butuh."

Yanus sudah melakukan itu sejak masih tinggal di Surabaya dulu. Baginya, ini adalah bentuk utang budi pada semesta dan usaha melakukan tanggung jawabnya, meskipun belum berdampak pada skala besar.

Yanus PutradaYanus Putrada Foto: Grandyos Zafna

"Gue pengen berbagi aja dan yang bisa gue lakukan potong rambut. Gue ngeliat bapak-bapak mendorong gerobak sambil mulung, ada anaknya di dalam gerobak Gue sempet nawarin mau belajar potong atau nggak. Maksud gue, nggak perlu berhenti jadi pemulung juga, tapi mudah-mudahan nggak bingung mau makan. Selebihnya, tinggal tergantung lo mau gimana, kalau sampai survive itu keputusan mereka, pokoknya gue ngajarin kalau mau potong kaya gini, nggak perlu perfect fit., Cukup rapih, lo nggak bakal bingung makan deh. Potong rambut nggak ada aturan harga minimalnya, terserah."

Kepada detikHOT, Yanus juga berbagi cerita menarik di balik perjalanannya mencukur rambut para klien, dari yang waras sampai yang gila. Selain itu, dia juga membagi perkembangan akademi miliknya yang memiliki murid dari Jakarta, Medan sampai Kupang. Ikuti terus selengkapnya hanya di detikHOT.


(mif/nu2)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT