Cerita Pendek

Ayah Memotong Rambutku

Mochamad Bayu Ari Sasmita - detikHot
Sabtu, 31 Okt 2020 09:25 WIB
ilustrasi cerpen
Foto: Ilustrasi: Edi Wahyono
Jakarta -

Ayah telah memotong rambutku, begitu pendek, sehingga aku harus merasa malu ketika akan bertemu dengan teman-teman sekolahku.

Rambut panjang adalah sebuah harta yang paling indah yang dimiliki oleh seorang perempuan. Rambut perempuan adalah mahkota baginya. Mahkota adalah sebuah lambang kehormatan. Barang siapa yang merampas kehormatan seseorang, pantas diperlakukan serendah-rendahnya.

***

Aku baru saja pulang sekolah saat itu. Di depan pagar rumah, aku berpisah dengan Tama-chan dengan mengatakan sampai jumpa besok. Kami memiliki rencana untuk pergi ke lapangan bisbol untuk melihat murid-murid laki-laki di kelas kami bertanding dalam sebuah laga persahabatan sebelum turnamen dua minggu lagi. Tama-chan menyukai pitcher kami.

Aku berjalan dengan riang, menikmati sisa-sisa musim panas yang akan segera berakhir. Rumah pasti akan kosong karena ayah akan berada di pabrik cat dan ibu akan berada di pusat perbelanjaan untuk melayani setiap pembayaran pelanggan di sana. Aku, anak perempuan berusia 11 tahun, sudah terbiasa tinggal di rumah seorang diri.

Aku tidak pernah takut hantu karena ayah selalu berkata bahwa hantu telah lenyap ketika bola lampu ditemukan oleh seorang pria Inggris di masa lalu. Awalnya aku memang takut untuk berada di rumah sendiri, tetapi ayah selalu berkata, "Tekan tombol ini," tombol lampu di rumah kami dibuat serendah mungkin, "Begitu lampu menyala, hantu-hantu itu akan ketakutan. Mereka takut cahaya."

Aku membuka pintu, melepas sepatu di genkan dan meletakkannya di rak sesuai yang selalu diajarkan oleh mama. Aku juga menggantung topi kuningku ke cantolan yang terletak di samping rak sepatu. Aku berjalan melalui lorong untuk sampai ke kamarku. Rumah itu kecil dan sepi, hampir tidak ada suara apapun, kecuali langkah kaki kecilku; tapi aku juga harus benar-benar mendengarkan untuk dapat mendengarkan langkah kakiku sendiri.

Sampai di depan pintu, aku menggeser pintu itu dengan kedua tangan mungilku. Kamarku masih rapi sejak kutinggalkan pagi tadi. Aku meletakkan tasku di atas meja belajar dan berlari kecil untuk pergi ke dapur guna mengambil segelas air.

Ketika aku sampai di dapur, aku melihat ayahku sedang memperbaiki sesuatu.

"Oh, Hana-chan, kau sudah pulang."

"Ayah tidak kerja?"

Ayahku mengarahkan lingkaran hitam matanya ke sudut kiri atas untuk beberapa saat dan berkata, "Ayah sengaja pulang lebih awal. Ada suatu urusan."



Simak Video "Suka Cita Syakir Daulay 6 Tahun Jadi Santri"
[Gambas:Video 20detik]