Sarasehan yang diadakan pekan lalu, tepatnya (14/04/2014) di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki itu, diisi oleh narasumber antara lain Romo Mudji Sutrisno, Retno Maruti, Maria Hartiningsih dan Edi sedyawati.
Dalam dialog ini, Romo Mudji Sutrisno, selaku tokoh agama dan budayawan melihat bahwa dengan diadakannya sebuah pagelaran yang membawa nilai dari akar budaya kita ini, maka akan ada proses yang kaya dan panjang di dalamnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Romo Mudji, akan sangat baik sekali bila proses eksplorasi semacam itu rutin dilakukan dan dijadikan sebuah kebiasaan. Kemudian ia juga bertutur soal tiga lapisan yang mengisi nilai dalam falsafah hidup orang Jawa.
"Lapis yang pertama adalah lapis kebijaksanaan hidup, artinya falsafah Jawa punya pandangan soal asal mula manusia dan itu sebagai siklus. Ini digambarkan salah satunya dengan wayang," jelasnya. Pada struktur wayang kulit, saat kita masih kecil kita menonton wayang melihat gambar yang berwarna. Sementara saat sudah dewasa, kita akan melihatnya dari belakang, dari bayang-bayang itu sendiri.
"Kenapa? Ini menunjukan saat sudah dewasa kita melihat apa yang ada di balik bayangan itu, dengan mata hati atau mata batin, dan itulah sebenarnya nilai dari wayang," jelasnya.
Pada lapis kedua, falsafah Jawa melihat soal etika dan estetika. Di mana manusia membandingkan mana yang baik, mana yang buruk, mana yang benar ataupun yang indah. Etika dan estetika menyatu dalam lapisan ini.
"Yang ketiga adalah lapisan yang merupakan perjalanan menziarahi kebahagiaan hidup yang dihayati, sebagai hamba bagi Gustinya." Kisah-kisah ini perlu kita hayati, menurut Romo Mudji. Sebagai bekal bagi jiwa-jiwa yang kuat untuk menghadapi konteks zaman apapun.
Ia juga menambahkan, bahwa manusia dewasa ini dibagi menjadi tiga jenis generasi.
"Kita sekarang ini di Indonesia, sebenarnya ada tiga generasi. Satu generasi tutur atau dongeng, dimana kita tumbuh dengan penuturan dongeng. Selanjutnya adalah generasi tulis, generasi dimana kalau tidak pegang kertas belum merasa membaca. Jadi apa-apa serba ditulis," jelasnya.
Dan generasi yang ketiga adalah generasi digital, dimana sekali sentuh semua informasi sudah ditangan tapi ekstrimnya ini membuat yang jauh jadi dekat, yang dekat jadi jauh.
Menurut Romo Mudji, tiga generasi ini saling menuding, dan hanya tradisi yang bisa dijadikan landasannya. Namun sayang, kekayaan tradisi yang hendak dioper ke generasi terkini, seringkali dianggap sebagai hal yang sudah tertinggal.
(ass/utw)











































