Pameran bertajuk 'Dari Stupa Ke Stupa' itu lahir dari gairah keheningan spiritualitas yang ditapakinya selama ini. Dia bilang, yang terpenting bukan pada banyaknya pengalaman seseorang.
"Saya suka merenung. Kebiasaan seperti sapi ketika sudah banyak makan, dia akan berhenti sejenak. Esensinya bukan soal banyaknya pengalaman, tapi pengolahan pengalaman dalam keheningan doa," kata Romo Mudji dalam pembukaan pameran, Rabu (8/1/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ada estetika yang dianggapnya sebagai kemampuan kreatif manusia dalam kebudayaannya. Kemampuan kreatif yang kemudian memberi bahasa pengucapan tentang keindahan.
"Kalau sumber inspirasinya dari religiusitas, maka akan menjadi estetika religius. Kalau (inspirasinya) dari nilai-nilai kemanusiaan, maka akan jadi estetika kemanusiaan," ujarnya.
Dalam membuat sketsa, Romo Mudji lebih banyak mengandalkan spontanitas. Ya, karena sketsa memang berbeda dengan lukisan. Harus diselesaikan saat itu sehingga pengungkapan makna terasa lebih dalam.
"Filosofis hitam putih dan berwarna juga lain. Sketsa hitam putih menggambarkan kepolosan, sesuatu yang jujur dan apa adanya. Sementara spiritualitas ada dibalik warna," katanya.
(fip/utw)











































