Ya, pastinya salah satu yang membuat Anda kangen adalah sinetron Indonesia. Sebut saja di antaranya 'Noktah Merah Perkawinan', 'Tersanjung', 'Jin dan Jun', hingga 'Janjiku' yang diperankan Paramitha Rusady.
Namun, di balik kesuksesan sinetron-sinetron tersebut juga terdapat para penata atau pencipta lagu. Banyak dari para pecipta lagu yang dulunya berkibar kini terasa dilupakan oleh dunia industri pertelevisian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
***
Sejarah lagu sinetron di Indonesia tak lepas dari perkembangan dunia pertelevisian swasta di tanah air. Saat itu, setelah 27 tahun lamanya hanya menonton satu saluran yakni TVRI, pemerintah akhirnya mengizinkan berdirinya televisi swasta.

Dimulainya dengan Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) pada 1989. Dua tahun kemudian, salurannya dibuka untuk umum. Serta makin banyak dibukanya televisi swasta.
Kala itu pun muncul pemain sinetron yang aktingnya mumpuni di tiap sinetron. Biasanya mereka pun diajak untuk menyanyikan lagu bagi sinetron yang diperaninya.
"Daya jual dulunya seperti itu. Semuanya ikut dipikirkan alur cerita, aktor dan aktris dan lagu sinetronnya," kata pengamat musik Denny Sakrie kepada detikHOT Selasa (8/10/2013).
***
Di Indonesia, istilah sinetron ini kali pertama dicetuskan oleh salah satu pendiri Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Soemardjono. Sinetron merupakan kepanjangan dari Sinema Elektronik. Mengapa disebut seperti itu?
Pasalnya sinetron adalah tayangan (sinema) yang disiarkan melalui media elektronik. Episodenya pun bukan sekali main lalu selesai, bahkan ada sinetron yang jumlah episodenya hingga ratusan.
Di era kejayaannya, lagu sinetron juga digunakan sebagai strategi marketing guna mempopulerkan sinetronnya. Berbeda dengan sinetron masa kini yang tak lagi menggunakan theme songs.
Menurut Denny, kejayaan lagu sinetron menurun sejak paruh tahun 2000an. Kini, lagu yang dipakai tak lagi menggunakan pencipta lagu yang sesuai jalan ceritanya.
Semuanya sudah menggunakan band ternama atau lagu yang sedang terkenal saat ini. Ia menyebutkan di dalamnya terdapat dua kepentingan.

"Sebuah sinetron butuh lagu yang tengah booming untuk menyeret minat penonton. Atau yang kedua, pihak label ingin mengkatrol popularitas lagu dari band atau artisnya dalam bentuk sinetron," ujarnya.
Khususnya untuk tayangan sinetron kejar tayang atau disebut stripping. "Kalau didengarkan di sinetron tiap hari di layar kaca kan bisa melejit."
(utw/utw)











































