Kertas-kertas itu hanya dikreasikan dengan teknik lipat melipat, atau sering disebut origami. Kalau hanya bentuk standar, tentu prosesnya tidak sulit. Tapi, jika sudah lebih kompleks, maka perlu keterampilan yang cukup.
"Origami itu asyik. Bagaikan sebuah tantangan dalam menyelesaikan sebuah puzzle. Kita ditantang untuk dapat menyelesaikan sebuah masalah dengan petunjuk-petunjuk tertentu," kata Linda kepada Detik, Senin (9/9).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Rasanya bahagia dan bangga banget bisa memecahkan 'puzzle' yang sulit," ujarnya. Linda tidak pernah mengambil pendidikan formal khusus origami melainkan belajar secara otodidak. Itu pun hanya sekedar kegiatan 'iseng'.
Lama kelamaan menjadi lebih serius dan menyebarkan manfaat origami lewat sebuah komunitas. Ada beberapa gaya dalam seni melipat kertas dari Jepang ini. Pertama, origami karakter yang modelnya seperti hewan, manusia, atau tokoh kartun. Kedua, origami modular atau origami matematika.
Origami jenis ini mempunyai bentuk bangun geometris dan terdiri dari unit-unit yang tersusun dengan ketentuan tertentu. "Kalau saya memang lebih menyukai origami modular dan tessellation," kata Linda.
Wanita lulusan jurusan Matematika Universitas Padjajaran Bandung itu menjelaskan gaya origami yang lain, yakni tessellation. Model origami ini berupa pola-pola geometri yang dibuat dari selembar kertas dengan teknik pembuatan grid.
"Teknik membuat grid yang banyak, lalu dipadankan dengan teknik lain sehingga menghasilkan pola yang indah," ujarnya.
Kemudian ada origami abstrak, yaitu model origami yang bentuknya tidak mencirikan sebuah benda tertentu tapi tetap mempunyai keindahan. Lalu origami practical dan realis, yang masing-masing punya model berbeda.
"Sebenarnya ada banyak sekali gaya origami. Kalau yang practical itu sebutannya origami praktis, misal bentuk amplop, vas, mangkok, dan lain-lain. Kalau yang realis mengikuti bentuk objek aslinya," kata Linda.
(fip/tia)











































