Anggota Geng Motor Yang Tobat Lewat Tarian Sufi

Mengupas Tarian Sufi (8)

Anggota Geng Motor Yang Tobat Lewat Tarian Sufi

- detikHot
Kamis, 25 Jul 2013 15:30 WIB
Anggota Geng Motor Yang Tobat Lewat Tarian Sufi
Jakarta - Meski tanpa banyak publikasi, Kafe Rumi tenyata telah banyak melahirkan banyak penari sema atau penari sufi. Mereka tersebar di banyak daerah di Indonesia. Seperti di Pekalongan, Jepara, Demak hingga Semarang.

Namun, khawatir ada orang yang lupa pondasi tarian ini adalah untuk membawa misi cinta, maka setelah Lebaran tahun ini Kafe Rumi akan memberikan workshop kepada para penari sema, agar tetap ada keseragaman.

Hanya belasan orang yang masih berada di Kafe Rumi. Tapi tak serta merta mereka yang pernah berlatih tari sufi bisa langsung menampilkan di manapun mereka berada. "Setelah lancar sebelum tampil di luar, harus tampil di majelis untuk berzikir, agar ia mendapatkan rasa dalam tariannya," kata Muchsin.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tari ini tak bisa bawakan serampangan karena pada dasarnya, tari sema adalah untuk menyebarkan energi kebaikan dan menarik orang. Maka cukup mengherankan jika menurut Muchsin, tarian ini kini banyak menarik minat anak muda dan menjadi salah satu cara di Kafe Rumi untuk membuat seseorang mau memperbaiki dirinya. Misalnya keberhasilan membuat anak-anak muda yang dulunya pemabuk untuk mengenal dan akhirnya mendalami agama.

Salah satu penari yang punya masa lalu kelam adalah Nafid, 27 tahun. Ia sudah bergabung dengan Kafe Rumi, sekitar lima tahun lalu. "Sejak saat itu akhirnya mulai berkenalan dengan tarian sufi, disana baru paham kalau tarian ini melambangkan dunia yang berputar," ujarnya kepada detikHot.

Penari ini menjelaskan bahwa putarannya itu melawan arah jarum jam dan disini ia mulai menemukan makna-makna spiritualitas dalam tarian sufi.

Akhirnya ini menjadi profesi yang ia jalani hingga sekarang dan ia mengaku mulai mendapat ketenangan. "Sebelum saya disini, saya itu anak nakal yang tergabung pada geng motor, setelah gabung disini alhamdullillah semua sudah selesai, balapan motor, rokok, minum-minum sudah saya tinggalkan."

Ia melihat tarian Sema sebagai sebuah keunikan dimana orang berputar dari menit demi menit tanpa rasa pusing, dan karena keseriusannya ini, Nafid bisa mempraktekkan tarian Sema setelah belajar selama satu minggu. "Semua pasti bisa, tinggal hati kita dianiatkan dan jika ada kemauan pasti bisa," ujarnya.

Ketika ditanyakan soal warna dalam tarian Sema ini, Muchsin menjelaskan bahwa asal muasal tarian ini adalah warisan dari Abu Bakar As Sidiq, menurun hingga ke masa Mawlana Jalaludin Rumi, dan tidak ada aliran yang berbeda.

Untuk warna seragam, bila Anda perhatikan ada yang menggunakan warna putih, atau dipadukan dengan merah hitam, bahkan oranye. Menurut Nafid, ini hanya untuk menginterpretasikan keindahan dari warna bunga dan hanya sebatas kreasi.

Seragam penari sema di Kafe Rumi, Muchsin menjelaskan bahwa sudah bisa dibuat sendiri disini. Tapi tidak dengan topinya, "Ini masih harus impor dari Turki, karena disini belum ada yang bisa buat, karena ini terbuat dari bulu unta yang di-press jadi tidak ada jahitan, harganya sekitar Rp 400 - 600 ribu."

(utw/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads