"Saya nggak mau ada kebohongan publik, dari saksi-saksi yang melihat kejadian di TKP (Tempat Kejadian Perkara-red), banyak kejanggalannya, saya ingin sekali adanya kejujuran," ujar Widyawati dengan nada bergetar ketika ditemui di kediamannya di Jl Garuda V No 1, Bintaro Jaya Sektor 1, Jakarta Selatan, Rabu (3/9/2008).
Widyawati dan kedua anaknya mulai mencurigai ketidakwajaran meninggalnya Sophan saat menerima surat kronologis kejadian dari Polda Jawa Timur. Saat surat tersebut sampai di tangannya sudah dalam keadaan terbuka. "Surat itu sudah sobek saat sampai ke keluarga dan itu berarti sudah ada yang buka," imbuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kabar meninggalnya pria kelahiran Makasar 26 April 1944 itu karena konspirasi memang sudah berhembus di kalangan wartawan beberapa hari setelah Sophan wafat. Diduga konspirasi untuk menghilangkan nyawa Sophan karena almarhum tengah mengerjakan sebuah proyek politik bersama sejumlah politisi jelang Pemilu 2009.
(fjr/yla)










































