"Sampai kapanpun saya tidak bersalah, memang sebagai manusia saya ada kekurangan, di saat ada panggilan bersama saya tidak bisa datang, karena ketakutan dan panik, "ujarnya menjelaskan kealpaannya pada panggilan pertama dan kedua oleh Polres Metro Tangerang.
Namun menurut JK lagi, ketakutan serta kepanikannya cukup beralasan. Selain merasa tidak tahu dan tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi, Wapres Republik Mimpi itu juga merasa diperlakukan layaknya seorang teroris.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai sahabat JK, Effendi Ghazaly juga merasa ikut terintimidasi. Menurutnya ini layaknya zaman Orde Baru, banyak hak bersuara yang dibungkam.
"Bagi kami, ini intimidasi. Karena kasusnya akan bisa meluas, saya bisa dituduh menyembunyikan Bapak Jarwo. Ini seperti zaman orde baru, bisa saja saya lagi naik mobil, ditabrak atau menabrak orang, kemudian terlibat kasus penganiayaan," ujarnya tegas. (eny/eny)











































