Irfan Hakim Soal Kebakaran Hutan Kalimantan: Orangutan Jadi Korban

Irfan Hakim Soal Kebakaran Hutan Kalimantan: Orangutan Jadi Korban

Febryantino Nur Pratama - detikHot
Minggu, 06 Sep 2026 17:44 WIB
Raffi Ahmad dan Irfan Hakim di FYP Trans7, Selasa (7/7/2026).
Foto: Instagram @fyp_trans7
Jakarta -

Irfan Hakim ikut menyoroti persoalan kebakaran hutan di Kalimantan. Presenter sekaligus pencinta satwa itu mengaku melihat langsung dampak pembukaan lahan dengan cara dibakar yang berujung pada kerusakan habitat dan kematian satwa.

Irfan menceritakan pengalamannya saat melakukan perjalanan ke Kalimantan. Dari atas perahu, ia melihat sendiri bagaimana api dari pembakaran lahan dapat merembet ke area lain karena terbawa angin.

"Nah kemarin perjalanan ke Nusa Tenggara Timur, kemudian perjalanan juga ke Kalimantan. Di Kalimantan gue melihat secara nyata bagaimana di ketika gue pakai perahu, terbanglah itu bukan binatang, hasil yang dibakar," kata Irfan Hakim saat ditemui di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta Pusat, kemarin.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia kemudian mengungkap adanya lahan yang dipersiapkan untuk pembukaan. Menurutnya, pembakaran lahan tersebut berpotensi menyebarkan api ke area lain.

"Jadi ternyata... Ngomong nggak ya? Aduh. Ternyata yang gue lihat di sana tuh ya ada lahan yang memang dipersiapkan untuk pembukaan lahan, tapi ya misal misal ya, misal 5 hektar yang disiapin, dibakarlah. Nah kepulan asapnya tuh itunya tuh bara-bara, apa sih, percikan apinya itu kebawa angin. Tes ber, tes ber (membakar tanaman lain) akhirnya," bebernya.

ADVERTISEMENT

Dampak kebakaran tersebut, lanjut Irfan, tidak hanya dirasakan manusia. Satwa yang menjadikan hutan sebagai habitat turut menjadi korban, termasuk orangutan.

"Ya udah dari hal itu akhirnya banyak juga korbannya, salah satunya juga orangutan sebagai penghuni hutan itu sendiri. Jadi gue melihat secara langsung orangutan yang ibunya meninggal di perkebunan, ada juga ibu orangutan dan anaknya beneran udah layu banget, udah mau meninggal, akhirnya kita selamatkan," tuturnya.

Irfan mengatakan dirinya berusaha ikut membantu penyelamatan satwa tersebut. Ia juga berencana kembali ke Kalimantan untuk melihat kondisi orangutan yang telah diselamatkan.

"Dan alhamdulillah nanti juga gue kan gue langsung syuting, langsung ke Bandung karena besok ada program penggalangan dana juga untuk Kalimantan. Jadi mudah-mudahan harus selalu bermanfaat," ungkap Irfan.

Irfan menegaskan dirinya bukan pihak yang menolak pembangunan. Menurutnya, pemanfaatan sumber daya alam tetap diperbolehkan selama dilakukan secara wajar dan tidak berlebihan.

"Dan itu kalau ngomongin tentang alam aduh gue mah... Jadi gue kemarin juga udah ngomong bahwa kita itu bukan anti pembangunan. Boleh kita ngambil batu baranya, boleh nikelnya, boleh, nanam apa pun boleh, sawit nanam boleh, tapi sewajarnya. Jangan serakah," tegasnya.

"Kalau serakah itu ya udah, alam akan melakukan kehebatannya, gitu. Jadi ya itu, secukupnya aja," sambungnya.

Ia juga menyoroti persoalan pembagian hasil dari pemanfaatan sumber daya alam. Menurut Irfan, jangan sampai keuntungan hanya dirasakan segelintir pihak, sementara masyarakat dan lingkungan menanggung dampaknya.

"Nah masalahnya kan harusnya dibagikan rata ya. Kalau ini kan yang kaya beberapa doang, jadi itu yang bikin gemas gue sampai-sampai ih... Dengan melihat si orangutan itu kayak beneran minta kasih sayang dan lain-lain, aduh," ujarnya.

"Jadi ya mudah-mudahan dengan gue men-share video-video tersebut ada kesadaran untuk menjaga alam kita," lanjut Irfan.

Ditanya mengenai keinginannya mengadopsi anak orangutan, Irfan menjelaskan bahwa adopsi satwa bukan berarti membawa pulang dan merawatnya di rumah.

"Mengadopsi orangutan tuh ya bisa saja kayak (berdonasi), tapi itu dengan bukan mengambil dan merawat di rumah, itu bukan mengadopsi, itu merampas. Karena mereka juga kan perlu hidup layak, " jelasnya.

Menurutnya, masyarakat dapat membantu melalui donasi untuk kebutuhan satwa yang sedang menjalani proses rehabilitasi.

"Jadi adopsi itu dengan mengirimkan biaya pakan mereka dan insyaallah Desember, insyaallah entar gue ke Kalimantan lagi atau bisa lebih cepat untuk merilis orangutan ibu dan anak," bebernya.

Irfan juga menceritakan kondisi dua orangutan, yakni induk dan anak, yang sebelumnya ia temui dalam keadaan sangat kurus dan lemah. Keduanya nantinya akan dirilis ke alam.

"Dua individu orangutan ibu dan anak yang tadi gue cerita yang udah sayu banget, yang udah kurus banget sekarang lagi digemukin nanti akan dikembalikan ke hutan. Mudah-mudahan saya ada kesempatan untuk ikut melepasliarkan orangutan tersebut," ungkapnya.

Kepedulian Irfan terhadap lingkungan rupanya juga menjadi pembahasan di rumah. Ia menyebut isu mengenai satwa dan kelestarian alam kerap dibicarakan bersama anak-anaknya.

"Oh ya itu kalau di rumah jadi salah satu topik pembicaraan kalau kita lagi makan bareng ya itu. Topik-topik yang hangat seperti ini mereka, apalagi kan gue ada videonya dan mereka yang tahu kalau Jalu, Dzaky tuh, Dzaky yang kecil juga tahu kok, 'Oh ini dilindungi, ini enggak boleh, ini mau punah ya, Yah?'" cerita Irfan.

Ia juga mengatakan edukasi mengenai lingkungan tidak hanya diberikan kepada anak-anaknya di rumah. Irfan menyebut ada banyak anak yang diajarkan mengenai pentingnya menjaga alam.

"Ya itu, jadi tidak hanya anak-anak, di rumah juga kan banyak ratusan anak-anak setiap hari diajarkan tentang menjaga alam," tuturnya.

Irfan berharap pembicaraan mengenai kerusakan alam dapat meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa manusia hidup berdampingan dengan makhluk hidup lainnya.

"Jadi mudah-mudahan wawancara seperti ini juga mengingatkan, hei kita tuh hidup gak sendirian, bukan manusia doang, lu ada pohon, ada hewan, dan lain-lain. Lu macam-macam sama alam, ya alam... Jangan salahkan alam kalau alam juga bisa macam-macam pada kita. Jadi mudah-mudahan ini kesadaran untuk semuanya, ya," pungkasnya.

Irfan juga menyinggung alasan pembakaran masih dilakukan dalam pembukaan lahan. Menurut informasi yang ia dapat, salah satu pertimbangannya adalah biaya.

"Karena lebih murah. Kalau pembukaan lahan tempat tebang itu, dana yang ternyata sangat besar. Kalau itu cekes, ternyata gitu," ujarnya.

Ia pun meminta masyarakat maupun pihak-pihak yang melakukan pembukaan lahan untuk memikirkan dampak jangka panjang terhadap lingkungan.

"Jadi menurut gue nggak ada otak nih yang, maaf ya, maksudnya ih elu cuma buat elu doang, nggak kepikiran jangka panjangnya. Ya udahlah pokoknya, ya mudah-mudahan disadarkan ya, disadarkan," kata Irfan.

Irfan kemudian mengajak masyarakat untuk lebih banyak menanam pohon dan menjaga lingkungan.

"Kembali lah, kita menanam pohon itu kita dapat pahala karena kita memberikan oksigen pada orang lain. Tapi kalau kita menebang, membakar dan lain-lain, ya berarti kita dapat dosa karena mengurangi kadar oksigen untuk orang-orang dan seterusnya, seterusnya. Gitu jadi, ya di dunia mungkin bisa bebas, oh di akhirat, uh," bebernya.

Kembali soal perjalanannya ke Kalimantan, Irfan mengaku menemukan kondisi satwa lain yang juga memprihatinkan. Ia menyebut burung rangkong hingga trenggiling turut terdampak.

"Di sana ada kayak burung rangkong, burung rangkong itu biasanya banyak banget, kemarin kita cuman ngelihat terbang sepasang doang, sedih banget. Terus bunyi burung juga udah sedikit banget," ungkapnya.

Irfan juga menyebut menemukan kasus trenggiling yang terdampak kebakaran.

"Terus kemarin juga ada trenggiling kebakaran juga. Jadi kalau kebakaran itu, kalau reptil itu sembunyi, seperti ular dan lain-lain tuh lebih ngumpet, akhirnya terbakar di kondisinya," tuturnya.

Menurut Irfan, orangutan memiliki kondisi berbeda ketika menghadapi kebakaran hutan. Satwa tersebut cenderung berusaha melarikan diri, tetapi kemudian menghadapi persoalan lain karena kehilangan sumber makanan.

"Tapi kalau orangutan tuh seperti itu lari, cenderung lari, tapi ya udah nggak ada makanan akhirnya ujungnya ya mati juga. Jadi mudah-mudahan kita bisa menjaga alam kita ya," pungkasnya.



(fbr/nu2)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads