Aktris senior Dewi Irawan, dikenal luas sebagai sosok tegar di balik perjuangan anggota keluarganya melawan berbagai penyakit. Selama bertahun-tahun, ia mencurahkan seluruh hidup dan energinya untuk menjadi pendamping atau caregiver bagi orang-orang tercintanya, mulai dari adiknya, Ria Irawan, hingga mendiang suaminya, Lukman Karim.
Perjalanan Dewi Irawan sebagai penyokong utama keluarga, dimulai jauh sebelum publik menyadari beban emosional yang dipikul. Ia menjadi saksi, sekaligus pengawal setia dalam perjuangan panjang Ria Irawan melawan kanker getah bening. Tak berselang lama setelah kepergian Ria pada awal 2020, ia harus menghadapi kenyataan pahit saat ibundanya, Ade Irawan, turut berpulang hanya dalam hitungan hari.
Dewi Irawan mengungkapkan, menjadi seorang pendamping bagi orang sakit membutuhkan kekuatan mental yang berkali-kali lipat dibandingkan pasien itu sendiri. Baginya, tugas tersebut bukan sekadar membantu secara fisik, melainkan menjaga semangat hidup mereka agar tidak padam di tengah rasa sakit yang mendera.
"Saya mendedikasikan waktu saya sebagai sukarelawan untuk keluarga sendiri. Selama ini saya cuma punya pengalaman jadi caregiver untuk keluarga, untuk mendampingi Ria dan suami saya yang juga meninggal karena kanker," kata Dewi Irawan saat ditemui di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Minggu (19/7/2026).
Ujian kesabaran Dewi Irawan berlanjut saat suaminya, Lukman Karim, didiagnosis mengidap kanker hati. Demi mendampingi proses pengobatan suaminya, aktris berusia 63 tahun itu rela menetap di Italia selama berbulan-bulan. Ia mengurus segala kebutuhan medis dan memberikan dukungan moral penuh hingga suaminya mengembuskan napas terakhir pada Juli 2021.
Pengalaman mendalam tersebut, membuatnya memahami setiap individu yang dirawat membutuhkan pendekatan yang berbeda. Bintang film Rumah Singgah itu, harus mampu membagi fokus dan emosinya agar tetap stabil saat menghadapi kondisi kesehatan anggota keluarga yang terus menurun secara bergantian.
"Seorang caregiver itu harus jauh lebih kuat daripada orang yang dirawatnya. Hatinya harus punya banyak ruang atau berbilik-bilik, supaya bisa memperlakukan setiap anggota keluarga dengan cara yang berbeda-beda sesuai kebutuhan mereka," bebernya.
Baginya, pengalaman bertahun-tahun di ruang perawatan telah memberikan perspektif baru mengenai arti ketulusan. Ia menyadari kehadiran seorang pendamping adalah kunci utama bagi pasien untuk tetap merasa berharga di masa-masa tersulit hidup mereka.
"Hati kita harus bisa menampung segala keluh kesah pasien. Sebagai pendamping, kita harus lebih sabar dan memiliki persiapan mental yang matang karena situasinya tidak pernah mudah," terangnya.
Hingga kini, dedikasi Dewi Irawan terus diingat sebagai bentuk cinta tanpa batas. Meski harus melewati duka yang bertubi-tubi, ia tetap berdiri tegak dan membagikan pesan tentang betapa krusialnya peran keluarga dalam mendukung kesembuhan maupun memberikan ketenangan bagi mereka yang sedang berjuang.
"Pengalaman mendampingi orang-orang tersayang sampai akhir hayat, adalah bentuk dedikasi terdalam yang bisa saya berikan sebagai anggota keluarga," pungkasnya.
Simak Video "Video: Cerita Dewi Irawan Buka Donasi untuk Perawatan Tio Pakusadewo di RS"
(ahs/wes)