Seto Mulyadi akhirnya buka suara mengenai dugaan yang menyeretnya mengenai kasus child grooming yang menimpa Aurelie Moeremans.
Kala itu disebutkan, orang tua Aurelie Moeremans, pernah meminta perlindungan kepada Seto Mulyadi sebagai Komisi Nasional Perlindungan Anak kala itu.
Laporan itu dirasa mandek dan gak ada kejelasan lebih lanjut. Hal ini membuat Seto Mulyadi buka suara dalam Instagram Stories miliknya. detikcom sudah meminta izin untuk mengutip pernyataan ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami mengikuti dengan sungguh-sungguh diskusi publik yang berkembang, termasuk berbagai kutipan dan pernyataan di masa lalu yang kembali diangkat. Perlu kami sampaikan bahwa praktik pendampingan anak dan cara pandang terhadap relasi kuasa, kerentanan remaja, serta dampak psikologis jangka panjang telah mengalami perkembangan yang sangat signifikan," ungkap dalam Instagram Stories miliknya dilihat detikcom, Kamis (15/1/2026).
Ia mengatakan pada masanya setiap pendampingan dan pernyataan disampaikan berdasarkan pengetahuan, kewenangan serta kerangka pemahaman yang berlaku saat itu.
Seto Mulyadi Foto: dok instagram Seto Mulyadi |
"Namun, kami menyadari bahwa standar perlindungan anak hari ini menuntut kepekaan, kehati-hatian dan perspektif yang lebih jauh, lebih kuat terhadap potensi manipulasi, tekanan emosional dan ketimpangan kuasa dalam relasi yang melibatkan anak dan remaja," tuturnya lagi.
Ia mengatakan semua itu menjadi refleksi pembelajaran atas apa yang sudah terjadi. Hal ini disebut untuk memperkuat perlindungan anak ke depan.
"Kami mengecam segala bentuk manipulasi, relasi tidak setara dan praktik child grooming. Anak tidak berada dalam posisi setara untuk dimintai pertanggung jawaban atas relasi yang dibangun melalui tekanan, bujuk rayu, atau ketimpangan kuasa," paparnya.
Pria yang akrab disapa Kak Seto itu memberikan apresiasi kepada siapa saja yang berani bicara mengenai apa yang dirasakan.
Seto Mulyadi Foto: dok instagram Seto Mulyadi |
"Kami menghormati keberanian siapa pun yang memilih untuk bersuara atas pengalaman masa lalunya, dan memandang suara tersebut, sebagai pengingat penting agar sistem perlindungan anak terus diperbaiki, diperkuat dan semakin berpihak pada kepentingan terbaik anak," bebernya.
Di akhir klarifikasinya, ia mengajak semua orang untuk memberikan empati terhadap apa yang disampaikan Aurelie.
"Kami mengajak seluruh pihak untuk menyikapi isu ini dengan empati, kebijaksanaan, dan fokus pada tujuan bersama: menciptakan ruang yang aman bagi anak-anak Indonesia hari ini dan di masa depan," tutupnya.
(wes/dar)













































