ADVERTISEMENT

Hot Questions

Ayah-Anak Melawan Ego, Farazandi & Din Syamsuddin

M. Iqbal Fazarullah Harahap - detikHot
Selasa, 05 Apr 2022 13:23 WIB
Jakarta -

Anak laki-laki dan orang tua laki-laki kerap kali punya karakter yang terlihat sangat bertolak belakang. Perbedaan pendapat dengan keras dikemukakan, tak jarang melahirkan perselisihan. Padahal yang sering terjadi, di balik itu semua, justru keduanya begitu mirip.

Literasi, baik fiksi maupun ilmiah mengatakan bahwa laki-laki kerap kali mengutamakan ego, dan ego itu harus diberi makan. Dalam artian, harus ada suatu kondisi atau ucapan yang membuat ego tersebut terpuaskan.

Melanjutkan cerita dinamika dengan keluarganya, Farazandi Fidinansyah juga memiliki ego, yang meluap-luap apalagi ketika dia masih remaja. Ayahnya, Din Syamsuddin pun sama. Mungkin lebih kuat karena dia adalah orang tua. Saat kedua ego itu bertemu, lahirnya perselisihan yang ternyata cukup membuat sang anak keluar dari rumah.

farazandi fidinansyahfarazandi fidinansyah Foto: Grandyos Zafna/detikcom

"Jiwa keras, pemberontaknya bokap itu kayaknya turun ke gue. Gue sempat dalam beberapa tahun, di masa remaja SMA, gue nggak dekat sama bokap karena kabur dari rumah, tidak tahan dengan sistem yang ada di rumah, yang saat itu rasanya cukup konservatif buat gue yang nggak bisa dikekang. Bisa dibilang clash besar waktu itu. Dan itu nggak gue tutupin juga kok sekarang."

"Dan iya, itu berdampak bagi masa remaja gue dan kedewasaan gue sekarang. Sekarang jadi lebih paham kenapa dulu dia melakukan itu karena gue ada di pathway beliau. Segala sesuatu yang terjadi di masa lalu, itu jadi pelajaran, bukan untuk disesali. Ego makin kuat, gue nggak bisa tumbuh, mungkin jalan hidup gue nggak sampai sekarang. Jalan hidup itu sudah diatur, tinggal bagaimana memaknainya."

"Di lain sisi, kejadian itu jadi shock terapi, jadi madrasah lain buat bokap di keluarganya sendiri. Di mana beliau bisa menurunkan egonya untuk lebih memahami."

Pria yang juga aktif sebagai Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta (2019-2024) itu bercerita, di masa remaja, Din Syamsuddin juga kabur dari rumahnya di Sumbawa, NTT. Pak Din muda melarikan diri ke Pulau Jawa demi menuntut pendidikan yang lebih tinggi karena di tanah kelahirannya dia selalu meraih juara akademis dan merasa mentok.

"Dia (Din Syamsuddin) kabur naik sampan. Di satu sisi kan ada kegigihan, sisi lain ada jiwa rebelnya," kata Farazandi di rumahnya, di Kawasan Margasatwa, Jakarta Selatan.

farazandi fidinansyahfarazandi fidinansyah Foto: Grandyos Zafna/detikcom

Ternyata, pemberontakan kecil yang dilakukan di rumahnya, tidak hanya punya dampak bagi dia dan ayahanda, tapi juga adik-adiknya. Farazandi yang merupakan sulung dari tiga bersaudara mengakui di masa-masa itu hubungan mereka pun merenggang.

"Waktu gue keluar dari rumah, otomatis hubungan gue jadi berjarak juga sama adik-adik. Sama Ari (Mihra Dildari, anak ke-2), gue sempat diem-dieman lama, padahal karena masalah sepele."

Sama seperti ucapannya, jalan hidup sudah diatur. Pada 2010, ibunda tercinta, Fira Beranata meninggal dunia. Tragedi itu kemudian menjadi titik balik bagi Andi-sapaan akrabnya-untuk melawan egonya, berdamai dengan sang ayah dan kembali mengambil peran sebagai kakak.

"Turning point semua, gue ke bokap dan adik-adik gue, tepat sesaat nyokap meninggal 2010. Gue nggak banyak presence di rumah, sedang egois-egoisnya, orang tua gue tinggal bokap, adik-adik gue nggak ada tempat bersandar lagi. Gue anak paling tua, nggak boleh terus kayak gini. Gue rangkul lagi, komunikasi lagi. Saling memahami. Walaupun cost-nya harus ada musibah dulu."

Sekarang, sebelum akhirnya memutuskan terjun ke politik pun dirinya berbagi cerita dengan sang ayah. Sebagai kakak, pria 33 tahun itu juga mengambil peran untuk mengawal adik-adiknya dalam berbagai urusan.

farazandi fidinansyahfarazandi fidinansyah Foto: Grandyos Zafna/detikcom

"Gue sebagai sulung juga ingin menjadi percontohan yang baik untuk adik-adik gue. Gue bahas sama adik-adik gue untuk bagi peran. Di sini (politik), gue fokus. Adik gue yang kedua dan ketiga mau di mana, fokus di situ. Kita saling dukung satu sama lain. Gue lahir duluan, kecebur dan berkecimpung duluan. Gue bisa cerita ke adik-adik gue berdasarkan pengalaman gue. Jadikan gue studi kasus buat kalian."

Lantas, dari lika-liku perjalanan itu, apa yang paling berharga untuk dijadikan pelajaran?

"Gue harus lebih ikhlas, percaya Tuhan punya jalannya, mungkin ada sisi positif di baliknya. Ini semua jalan pendewasaan buat gue."

(mif/nu2)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT