DetikHot

celeb

Tangisan Sukmawati dan Kritikan Pipik sampai Kartika Putri

Rabu, 04 Apr 2018 17:09 WIB  ·   Veynindia Esaloni Pardede - detikHOT
Tangisan Sukmawati dan Kritikan Pipik sampai Kartika Putri Foto: Ari Saputra
Jakarta - Beberapa waktu lalu tepatnya pada tanggal 29 Maret, Sukmawati Soekarnoputri membacakan sebuah puisi yang mengundang kehebohan. Tak terkecuali beberapa publik figur seperti umi Pipik dan Kartika Putri.

Puisi berjudul 'Ibu Indonesia' ini mengundang komentar negatif dari banyak pihak karena dituduh melecehkan agama. Banyak publik figur yang juga berkomentar mengenai hal tersebut.

"Jika kita jaga agama Allah maka Allah akan jaga kita. Semoga kita masih ada ghirah utk membela agama Allah. Jika kau tak faham akan cadarku itu hak mu! Karena aku pun punya hak utk tidak faham dgn pakaian mu. Tetapi jangan kau bandingkan suara adzan dgn kidung yg kau sebutkan. Sekalipun suara adzan itu fals yg terdengar di telingamu. Ingatlah saat adzan itu berhenti tdk kita dengar lagi maka bumipun berhenti berputar dari porosnya, atau engkau lupa bahwa saat kau dimasukkan ke dlm tanah maka suara terakhir yg mengantarmu adalah adzan? Semoga penegak hukum tidak pilih kasih dlm menghukum," tulis Umi Pipik dalam salah satu postingan media sosialnya.



Sambil menangis, Sukmawati Soekarnoputri menjelaskan bahwa ia tidak ada niatan sama sekali memasukan isu SARA saat membacakan puisi tersebut di pagelaran '29 Tahun Anne Avantie Berkarya' di Indonesia Fashion Week 2018 di jumpa persnya hari ini.

Hal ini mengundang pro dan kontra dari beberapa kalangan, terutama public figure yang beragama muslim. "Saya mewakili pribadi, tidak ada niatan untuk menghina umat Islam Indonesia dengan 'Puisi Ibu'," ujar Sukmawati saat ditemui di kawasan Cikini, Jakarta Pusat.

Hal ini juga disampaikannya dalam lima poin yang berisi penjelasan klarifikasi setelah banyak mengundang kontroversi. "Puisi itu juga saya tulis sebagai bentuk dari upaya mengekspresikan dari melalui 'suara kebudayaan' sesuai dengan tema acara. Saya pun tergerakkan oleh cita-cita untuk semakin memahami masyarakat Islam nusantara yang berkemajuan sebagaimana cita-cita bung Karno," tukasnya.



Kartika Putri yang baru-baru ini memutuskan untuk berhijab dan hijrah juga membeberkan pendapatnya melalui postingan akun instagram pribadinya. Ia melemparkan kritik terkait puisi kontroversi.

"Jika tidak tahu akan Syariat Islam lebih baik mencari tahu atau jauh lebih DIAM saya rasa itu lebih bijak," ujarnya.

"Aku tak tahu Syariat Islam* (Maka cari tahu atau DIAM). *yang kutau sari konde ibu Indonesia sangatlah indah lebih cantik dari cadar dirimu* (Cadar bukan perkara kecantikkan ibu, tapi itu adalah Sunnah dan tahu kah manfaat dari cadar??? Jika belum tahu juga maka mari saya beritahu)," lanjut presenter ini.

Wanita yang identik dengan logat Tegal ini pun sangat keberatan saat bait dari puisi Ibu Indonesia yang menyinggung azan yang mengingatkan setiap muslim untuk segera salat.

"Azan bukanlah seni suara yang dimana harus merdu melainkan panggilan dari Allah kepada hambanya untuk mengerjakan sholat. Jika tidak tahu maka saya beri tahu bahwa seluruh umat Islam (laki laki, tamyiz, dan berakal sehat) dibolehkan melantunkan adzan tepat pada waktunya dengan suara yang keras bukan wajib merdu saja karena ingat ini panggilan Allah bukan pentas tarik suara," ungkap Kartika.

Di beberapa poin tersebut, Sukmawati juga menjelaskan mengenai pro dan kontra yang muncul setelah ia membacakan puisi yang dibuatnya di tahun 2006 tersebut.

"Namun karena karya sastra dari puisi Ibu Indonesia ini telah memantik kontroversi di berbagai kalangan, baik pro dan kontra khususnya di kalangan umat Islam, dengan ini dari lubuk hati yang paling dalam, saya mohon maaf lahir bathin kepada umat Islam Indonesia khusus bagi yang merasa tersinggung dan berkeberatan dengan puisi Ibu Indonesia," tambah Sukmawati.
(vep/kmb)

Photo Gallery
1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed