Korban Pencabulan Minta Pangeran Andrew Bersaksi di Bawah Sumpah

Korban Pencabulan Minta Pangeran Andrew Bersaksi di Bawah Sumpah

- detikHot
Kamis, 22 Jan 2015 10:54 WIB
Korban Pencabulan Minta Pangeran Andrew Bersaksi di Bawah Sumpah
Jakarta - Virginia Roberts, wanita asal Florida yang mengaku pernah dipaksa berhubungan seksual dengan Pangeran Andrew kini kembali buka suara. Ia meminta adik dari Pangeran Charles tersebut untuk memberikan kesaksian di bawah sumpah.

Awal Januari 2015, Virginia menuntut bankir Jefrey Epstein, yang telah memaksanya untuk melakukan hubungan seks dengan sejumlah pria saat usianya masih 17 tahun. Wanita yang kini disebut dengan Jane Doe No.3 itu kemudian meminta pihak Andrew untuk memberikan kesaksian agar bisa membantunya memenangkan perkara tersebut.

"Surat ini adalah permintaan resmi atas nama Mr Edwards dan Profesor Cassell (pengacara pihak Virginia) untuk mewawancarai Anda, di bawah sumpah, mengenai interaksi yang pernah Anda lakukan dengan Jane Doe No.3 sekitar awal 2001. Jane Doe No.3 saat itu masih berusia 17 tahun," demikian bunyi kutipan surat yang disampaikan ke pihak Istana seperti dikutip US Magazine, Kamis (22/1/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Antara lain, kami ingin membahas mengenai insiden yang terjadi ketika foto di bawah ini diambil, dan kejadian setelahnya," lanjutnya. Foto yang dimaksud adalah foto lama Pangeran Andrew yang tengah berpose bersama Virginia ketika masih muda.

Namun pihak Istana Inggris sebelumnya telah menyangkal pemberitaan tersebut. Melalui sebuah pernyataan, pangeran berusia 54 tahun itu mengaku sama sekali tak terlibat dalam masalah ini.

Baca juga: Marilyn Manson Klaim Courtney Love Pernah Bercinta dengan Semua Temannya

"Masalah ini berkaitan dengan proses sipil yang lama dan sedang berlangsung di Amerika Serikat yang mana Duke of York sama sekali tak terlibat. Dengan demikian kami tak akan memberikan komentar lebih lanjut. Namun untuk lebih jelasnya, berbagai tuduhan mengenai pelecehan seksual pada wanita di bawah umur adalah tidak benar," demikian bunyi pernyataan dari pihak kerajaan Inggris kala itu.

(dal/mmu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads