"Nggak percaya papa saya meninggal," ungkap Adi ditemui usai pemakaman di Sentul Bogor, Jawa Barat, Kamis (6/3/2014).
"Dia tiga hari dirawat, biasanya November dia cek up kontrol asmanya, biar jangan kronis," lanjut Adi.
Adi mengatakan, dirinya mendapat firasat sebelum kepergian ayahandanya. Ia menceritakan saat firasat itu datang kepadanya.
"Firasat ada, saya ada kehilangan kendaraan tapi ketemu lagi, Pas itu malamnya saya dapat kabar, saya ditelepon 'cepet kemari, papah nih, cepet ke mari' jam 11 saya langsung ke sana. Jam satu pagi dia koma, labil jantungnya. Di situ saya nggak mau telepon siapa-siapa termasuk ke media," ujarnya.
Adi juga mengenang sosok Jojon sebagai ayah yang tegas. Adi mengatakan, ayahnya tak suka melihat anaknya tak bekerja keras untuk meraih kesuksesan.
"Dia tidak suka anaknya males, dia mau anaknya punya inspirasi dan inisiatif. Kalau lihat ada anak yang nggak kerja kadang dia suka kasih uang buat modalin, tapi dibercandain dulu. 'Lo mau duit? Ya carilah', tapi ujung-ujungnya itu buat anak-anaknya mandiri," paparnya.
Jojon meninggal karena serangan jantung dan penyakit asma pada Kamis pagi. Ia meninggal di usia 66 tahun.
(kmb/doc)











































