"Ini gerakan kita untuk mengingat sejarah yang mungkin selama ini hampir kita lupakan. Banyak hal yang masih kita harus peduli, tapi kita justru tidak peduli," kata Dinda.
Hal itu diungkapkannya saat deklarasi 'Anak Muda Jadi Barisan Pengingat' di Demang Cafe, Jakarta Pusat, Selasa (28/1/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Contohnya kisah Wiji Thukul. Seorang penyair, seniman yang menyuarakan suara rakyat dengan kata-kata dia yang sederhana tapi menusuk. Dan dia hilang karena dianggap sebagai ancaman," jelasnya.
"Itu bisa dilihat dong. Untuk berekspresi saja kita masih harus dianggap sebagai suatu ancaman. Dia (Wiji) hilang entah kemana. Jadi buat saya itu termasuk hal yang nggak bener," sambungnya.
Kata Dinda, dirinya akan menyuarakan ketidakadilan di Tanah Air lewat berbagai cara. Ia mengaku tidak takut dengan ancaman demi sebuah kebenaran.
"Banyak aktivis yang melakukan cara-cara yang lebih berani. Saya membantu pun dengan cara yang saya bisa. Kalau dibilang takut, saya nggak takut. Kalau saya takut, saya nggak akan bersuara di sini. Kalau masalah mati konyol, ya itu masalah nasib," tandasnya.
(hri/mmu)











































