"Sudah dikasih tahu dan sudah diambil beberapa tindakan jug," katanya saat ditemui di kantornya di kasawan Tomang, Jakarta Barat, Selasa (3/9/2013).
Meski begitu, dirinya tak mau gegabah. Hingga saat ini, baik Daniel maupun kuasa hukumnya masih mencari jalan untuk bermusyawarah dalam masalah yang tengah terjadi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski begitu, pembajakan tersebut juga tak hanya terjadi di Singapura. Di Yogyakarta Daniel juga menemukan beberapa toko yang mengaku sebagai penyalur resmi produk tersebut.
"Dari pihak kami sudah ada yang bertindak. Marah dan sedih banget sih. Kami punya misi yang positif tapi tetap aja kena bajak. Ketakutannya kami kan punya brand yang kuat, premiun dan eksklusif," jelasnya.
"Kami nggak mau buatan Indonesia terlihat murah, makanya kami bikin di mal-mal besar. Kalau banyak yang bajak dengan kualitas yang rendah nanti akan ngaruh ke brand image, orang ngeliatnya nanti oh Damn I Love Indonesia itu bahannya nggak bagus ya, itu sih ketakutannya," tambah Daniel lagi.
(wes/mmu)











































