Eza pun menilai, kesaksian dari teman Rasti itu berbau konspirasi. Menurutnya, mereka bersekongkol untuk mejatuhkannya.
"Saya nggak bisa apa-apa, yang saya harapkan cuma satu, yaitu keadilan," ungkap Eza usai sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (18/4/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam sidang tersebut, Shareena membeberkan kejadian kekerasan yang menimpa Rasti pada 7 Juni 2012 lalu. Ia menuturkan, setelah dugaan adanya kekerasan itu, Rasti menemuinya dan menceritakan kejadian yang dialaminya.
"Rasti masuk ke mobil, mata sembab, rambut awut-awutan. Dia menangis, suara bergetar. Saya peluk. Saya di bangku supir, pas saya pegang kepalanya dia kesakitan. Ada benjolan besar. Dia belum bilang apa-apa, cuma nangis," tutur Shareena.
(nu2/mmu)










































