Itu terjadi pada Juli 2010 saat dirinya menjadi pembicara diskusi musik di Universitas Indonesia. "Saya, Alm. Franky, Ras Muhammad datang ke UI. Kita membicarakan tema sosial. Tapi celetukan si mahasiswa itu apa saya lupa, yang jelas langsung dibuatkan lagu dan langsung dinyanyikan saat itu juga sama Alm. Franky," papar Bens di rumah duka Jl WR Supratman, Bintaro, Tangerang, Kamis (21/4/2011).
Meskipun belakangan memang aktif dalam berbagai gerakan politik, namun menurut Bens Franky tidak pernah memihak pada salah satu partai. Termasuk, kedekatan Franky dengan Gus Dur, juga tidak membuatnya berpihak ke satu kelompok tertentu. Hal tersebutlah yang juga menjadi kekaguman Bens terhadap Franky.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bens mengenal Franky sejak akhir tahun 70-an. Ia juga sangat kagum akan tema-tema cinta yang humanis pada lingkungan dalam lagu-lagu ciptaan Franky. "Mas Franky tidak ada yang berubah, bahkan dia lebih kritis lagi, dia tidak pernah bergeser kepada genre lain," ujarnya.
"Musik-musik balada bukan hanya persoalan bangsa dan kritik sosial, tapi alam juga. Tentang bis kota yang miring ke kiri, ternyata ada relevansi dengan kota kita, saat masih Franky dan Jane," tambah pengamat musik itu.
(nu2/mmu)











































