Helmy berharap pemerintah tidak meloloskan wacana tersebut. Sebaliknya, pemerintah harus mendorong remaja untuk melakukan hal yang positif dalam pergaulan. Misalnya dengan menambah fasilitas tempat remaja bergaul dan berkarya, agar remaja tidak terjerumus ke pergaulan bebas.
"Menurut saya lebih penting bagaimana menciptakan suasana yang positif. Sayang sekali kegiatan remaja sekarang nggak ada tempatnya. Nggak terlalu banyak, bayangkan saja nggak semua kota punya gelanggang remaja. Mereka mau menyalurkan kegiatan positif di mana?" jelas Helmy saat ditemui di Kantor RCTI, Jalan Raya Perjuangan, Jakarta Barat, Kamis (30/9/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lagi pula, lanjut Helmy, banyak remaja putri yang kehilangan keperawanan bukan karena kesalahan diri sendiri. "Jadi mari kita pikirkan lagi. Jangankan remaja, anak kecil, orangtua saja banyak salahnya. Bukan berarti lantas orang yang melakukan kesalahan tidak boleh masuk ini, masuk itu (sekolah)," papar presenter 'Siapa Berani' itu.
Wacana untuk melakukan tes keperawanan pada calon siswa awalnya dilontarkan anggota Komisi IV DPRD Provinsi Jambi, Bambang Bayu Suseno. Tujuannya bukan untuk menghambat siswi yang sudah tidak perawan untuk masuk sekolah, melainkan hanya untuk menghadirkan efek malu. Calon siswi yang kedapatan sudah tidak perawan tetap bisa bersekolah namun terlebih dahulu mendapat bimbingan dari psikolog.
(ebi/iy)











































