"Tiada bandingannya," kata Ray dengan air mata membasahi pipinya saat ditemui di rumah duka, Jl. Jagakarsa Raya 25, Cilandak, Jakarta Selatan, Jumat (11/6/2010).
Dalam kenangan Ray, Gisca merupakan anak yang sangat jujur dan spontan. Kalau ada yang tidak disukainya, perempuan 28 tahun itu pasti akan langsung mengatakannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama Gisca sakit, Ray mengaku selalu ada di samping sang putri. Meski sangat sedih, ada rasa bahagia karena bisa terus bersama sang anak sampai saat terakhirnya.
Di saat-saat menemani Gisca itu, kata Ray, ada suatu kegiatan yang selalu mereka lakukan. "Selalu lihat-lihatan dan kita ketawa, dan kita lihat-lihatan lagi," kenangnya.
(eny/eny)











































