DetikHot

book

'The Boy Who Drew Monsters': Kisah Horor yang Lembut dan Puitis

Jumat, 10 Mar 2017 14:28 WIB  ·   Is Mujiarso - detikHOT
The Boy Who Drew Monsters: Kisah Horor yang Lembut dan Puitis Foto: Is Mujiarso
Jakarta - Drama tentang mimpi masa muda untuk memiliki sebuah keluarga yang bahagia bisa menjelma menjadi kisah horor di tangan Keith Donohue, novelis asal Amerika bergelar Ph.D dalam bidang sastra Irlandia Modern, penulis buku-buku best seller antara lain 'The Stolen Child'. Dalam novelnya kali ini, yang berjudul 'The Boy Who Drew Monsters', Donohue meramu sebuah harapan yang umum dan sederhana, menjadi mimpi buruk yang mencekam.

Disebut-sebut sebagai "hypnotic literary horror novel", karya Donohue bisa dibaca sebagai kisah cinta berbumbu perselingkuhan, drama keluarga yang tak sempurna, persahabatan ganjil dua bocah misterius yang terperangkap dalam dunia mereka sendiri; sebuah novel dengan alur yang melingkar-lingkar antara masa kini dan masa lalu, antara kenyataan dan fantasi. Berlatar desa kecil pesisir laur di wilayah Maine, New England, bagian utara Amerika Serikat menjelang akhir tahun yang basah, dingin, berkabut dan penuh angin badai bahkan hingga turun salju, novel ini menjadi panggung kehidupan sebuah keluarga yang berjuang membesarkan anaknya di luar kelaziman yang telah mereka angankan.

Hadir dalam bahasa Indonesia lewat terjemahan Maria Renata yang diterbitkan oleh Penerbit Qanita (grup Mizan), novel ini mengalir lancar sebagai sebuah cerita horor yang pelan-pelan menghantui, membuat pembacanya bergidik dengan kemunculan sosok-sosok hantu dan penampakan teror lainnya di tengah alurnya yang tenang dan lambat. Misteri itu berpusat pada sosok seorang bocah bernama Jack yang menderita sindrom asperger hingga menjadi anak yang autistik, tidak berani keluar rumah. Seperti tersurat dari judulnya, ia gemar menggambar monster, dan sosok-sosok menyeramkan lainnya, sesuai dengan apa yang ada di kepalanya. Gambar-gambar itu disembunyikannya, karena orangtua mereka, pasangan Holly dan Tim, tidak pernah benar-benar memperhatikannya atau malah justru mengabaikannya sama sekali.

Setelah dibuka dengan prolog yang agak terbata-bata dan tak terlalu membantu dari sudut pandang Jack, pembaca segera diajak untuk memasuki keluarganya dari sudut pandang Holly dan Tim, dan untuk seterusnya, pasangan inilah yang akan lebih banyak menyedot perhatian. Perjalanan di hari-hari yang panjang akhir musim dingin menjelang Natal ini dibuka dengan memperkenalkan kesibukan keseharian keluarga Jack, dan keanehan bocah berusia 10 tahun itu ketika pada suatu pagi dibangunkan oleh Holly, dan memukul ibunya itu karena merasa dikejutkan. "Aku kira ada monster di bawah tempat tidur," ujar Jack, dan untuk seterusnya fantasi mengenai monster di kepala Jack terus membayangi halaman demi halaman buku ini, membuat Tim dan Holly repot.

Tim bekerja mengurus rumah-rumah liburan musim panas di pinggiran pantai milik orang-orang kaya, sedangkan Holly kadang-kadang juga mengerjakan hal lainnya, di samping rutinitasnya berbelanja. Di tengah itu, seiring dengan keanehan Jack yang makin tak tertangani, dan berbagai kejadian aneh lainnya yang susul-menyusul, Holly menyelinap diam-diam ke gereja, dan di sana bertemu dengan Pastor Bapa Bolden serta asistennya, seorang wanita Jepang bermata satu yang misterius, Tiramaku. Lukisan tentang kapal yang pernah tenggelam di laut yang terpasang di gereja itu, dan cerita di baliknya tentang korban-korban tewas, ditambah cerita-cerita hantu ala Tiramaku, membuat Holly semakin terpuruk dalam situasi yang serba tak terpahami.

Apa kaitan semua itu dengan kondisi anaknya yang selalu menggambar sosok-sosok aneh, dan meyakini ada monster di bawah tempat tidurnya? Misteri itu masih ditambah lagi dengan apa yang dialami oleh Tim, ketika mengantarkan Nick, sahabat Jack, pulang sehabis menginap di rumah. Jack melihat sesosok makhluk putih yang melayang di tebing, namun Nick mengaku tak melihat apa-apa. Kehadiran sosok Nick sendiri tak kalah misteriusnya; dia satu-satunya anak di desa itu yang masih berteman dengan Jack, dan karena orangtuanya bersahabat dengan Tim dan Holly, maka Nick kerap dititipkan untuk tinggal bersama mereka, sekaligus menemani Jack yang tak pernah keluar rumah.

Kisah-kisah dari masalalu kembali satu per satu, mengurai apa yang terjadi di masa kini. Namun, semua tetap serba samar, menguji kesabaran pembaca untuk menuntaskannya sampai halaman terakhir, ketika misteri yang menyelimuti benar-benar terjawab. Dari bagian demi bagian, alur berpilin pada kejadian-kejadian aneh yang berulang, dan baru menemukan eskalasinya pada halaman-halaman terakhir, ketika Holly, yang semakin membuat pembaca bersimpati, berkeluh kesah di hadapan sang pastor gereja dengan sedih, nyaris kehilangan harapan.

"Kami datang ke Maine karena Tim. Ketika kami menikah, saya berniat untuk mengikutinya ke mana saja. Mimpi suami saya adalah tinggal di utara dan memiliki rumah yang menyenangkan di sisi laut, menetap dan berkeluarga. Dia berkata bahwa dia merasa jiwanya seirama dengan air pasang. Dia keluar dari ketentaraan dan berpikir bahwa di sini dia dapat kembali bersekolah. Mempelajari lautan. Dan dalam benak saya kehidupan akan seperti yang terlukis di kartu pos. Kapal-kapal di pelabuhan, lobster di musim panas, dan cahaya di akhir September. Pada awalnya kami bahagia, dan sepertinya bagian lain dari mimpi itu akan segera hadir. Kami mulai berpikir untuk memiliki anak-anak —peri-peri air mungil— yang akan kami biarkan bermain di matahari, di tengah udara bersih dan air garam, dan mereka akan tumbuh besar, kuat dan sehat."

Prosa Donuhue jernih dan indah, membungkus kisah ala gotik yang kadang memacu jatung berdegup lebih kencang. Bagi pembaca yang terbiasa dengan cerita horor berdarah-darah penuh jeritan, barangkali gaya penulisan Donohue terasa "datar". Namun, penikmat sejati teks yang lebih memperhatikan atmosfer penggambaran suasana akan mendapatkan sensasi yang berbeda. Rumah dan keluarga impian Holly, pada akhirnya, barangkali adalah rumah dan keluarga impian banyak orang dari pembaca buku ini. Tapi, seperti tersirat dari ungkapan perempuan itu, kehidupan ternyata tak seindah lukisan kartu pos. Sebagai "novel horor", buku ini mungkin tak memberi kejutan yang besar yang membuat pembacanya terjengkang dari tempat duduk. Namun, pembacaan dengan penuh perhatian dan kehati-hatian pada setiap detail yang diberikan, yang kadang terasa lembut dan puitis, akan menghasilkan semacam retrospeksi yang memperkaya pengalaman batin, serta meninggalkan gema yang panjang di ruang benak.




(mmu/mmu)

Photo Gallery
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed