Seorang pengusaha sukses bernama Alejandro Guillermo Roemmers (kelahiran Buenos Aires, 1958) adalah salah satu dari jutaan penggemar karya klasik 'Le Petit Prince' (Sang Pengeran Kecil) karya penulis Prancis Antoine de Saint-ExupΓ©ry yang terbit pada 1943. Atas kecintaan dan kekagumannya pada karya tersebut, ia pun menulis sebuah karya berjudul 'The Return of the Young Prince' pada 2011. Tapi, apakah ini fanfiction? Apakah ini spin off? Yang jelas bukan parodi! Sejumlah kritikus dan pembaca menyayangkan bahwa Roemmers terlalu berani (baca: nekad) membuat "sekuel" dari 'Le Petit Prince' yang telah melegenda dan menjadi bacaan kegemaraan anak-anak, tua dan muda di berbagai belahan dunia.
Roemmers memang berangkat dari pertanyaan, yang ia asumsikan merupakan pertanyaan banyak pembaca lain, apa yang akan terjadi kepada anak laki-laki yang sangat istimewa (dalam Le Petit Prince) itu seandainya ia terus tinggal di planet kita? Bagaimana kira-kira masa remajanya? Sanggupkah dia mempertahankan kemurnian hatinya?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagaimanapun, sebuah karya tetap bisa dibaca sebagai dirinya sendiri, dan masing-masing pembaca akan memiliki penilaian yang berbeda-beda. Semua tergantung pengalaman dan dialognya dalam bersentuhan dengan karya tersebut. Awal tahun ini, Gramedia Pustaka Utama menerbitkan terjemahan karya Roemmers tersebut, dengan judul 'Kembalinya Sang Pangeran Muda'. Kini, silakan penggemar 'Le Petit Prince' dan pembaca di Tanah Air untuk menikmati dan menilainya sendiri.
Sebagaimana tersurat dari judulnya, dalam 'Kembalinya Sang Pangeran Muda', narator cerita yang tampil sebagai "aku" menemukan Si Pangeran Kecil di sebuah wilayah bernama Patagonia. Ketika tengah mengemudi sendirian menyusuri jalanan yang sepi, mendadak ia melihat sesosok berbentuk aneh di salah satu sisi jalanan. Mengurangi kecepatan laju mobilnya, ia pun melihat sejumput rambut pirang mencuat dari balik sehelai selimut yang menutupi tubuh seorang manusia. Di tengah wilayah terpencil itu, ratusan kilometer jauhnya dari kota terdekat, yang tak terlihat satu rumah pun, atau sebatang pohon dan tiang listrik, seorang anak laki-laki sedang tidur pulas dan terlihat sangat damai.
Sang "aku" pun mengangkut anak itu ke mobilnya, dan kembali melaju. Hingga akhirnya terjadilah dialog di antara mereka setelah agak lama berselang. Di tengah-tengah percakapan itulah, barulah "si aku" menyadari dengan siapa dirinya telah bertemu. Dan, dialog pun terus mengalir, penuh tanya-jawab bernada filosofis, tak jarang juga teori-teori bahkan ada terasa pula semacam petuah ala "self help" yang berlarat-larat.
Sebagaimana 'Sang Pangeran Kecil' yang hanya merupakan sebuah buku tipis, demikian pula 'Kembalinya Sang Pangeran Muda' ini, sehingga tak memerlukan waktu banyak untuk menyelesaikan membacanya. Dengan bab-bab yang pendek, pembaca cukup dibuat penasaran terus-menerus dengan dialog antara "si aku" dengan kawan baru di mobilnya itu. Kadang, rasa penasaran itu muncul dari pertanyaan, topik apalagi yang akan mereka bahas. Sang aku menjawab pertanyaan-pertanyaan sang pangeran muda dengan berbagai perumpamaan yang, apa boleh buat, kadang membosankan, namun tetap saja membuat kita ingin tahu, apa akhir dari dialog dan pertemuan mereka itu.
Mau tidak mau, pembaca tentu akan membandingkannya dengan 'Sang Pengeran Kecil' dari segi konsep, gaya hingga rasa dari buku ini. Ada saat ketika pembaca akan merasa diceramai dengan berbagai uraian panjang, dan diminta merenungkannya βtidak seperti saat membaca 'Sang Pangeran Kecil' yang bebas berfantasi dan menafsirkan sendiri. Cara terbaik untuk membacanya memang tidak dengan membandingkannya; membacanya sebagai versi lain dari petualangan sang Pangeran Kecil yang kini telah beranjak remaja, dan menghadapi sebuah zaman yang berbeda.
Buku ini dilengkapi dengan ilustrasi berwarna yang manis dan menghangatkan, hasil kolaborasi Roemmers dengan Laurie Hastings. Ini adalah upaya sang penulis agar pembaca "tidak terlalu serius memikirkan kisah ini". Lewat coretan tangan sahabatnya itu, Roemmers menciptakan kembali beberapa momen yang diingatnya. Ilustrasi-ilustrasi sederhana tersebut memberikan nuansa imajinatif tersendiri bagi buku ini.
(mmu/mmu)











































