Tugas Tuhan

ADVERTISEMENT

Cerita Pendek

Tugas Tuhan

Mawar Fatmah - detikHot
Sabtu, 26 Nov 2022 12:17 WIB
ilustrasi cerpen
Iustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Kilat kamera berjatuhan di atas tubuh kaku yang tergeletak di atas tempat tidur seiring dengan bunyi klik-klik yang dikeluarkan kamera itu. Tim labfor bergerak cepat mengambil gambar TKP dan korban, mengamankan benda yang bisa dijadikan barang bukti, dan menyalin hasil rekaman CCTV. Tim inafis berusaha mencari sidik jari di luka korban, bantal, seprei, sofa, gagang pintu, dan sepanjang karpet menuju ranjang.

Seorang gubernur ditemukan tewas di kamar hotel berbintang setelah sebelumnya mengikuti rapat di hotel itu. Garis polisi melintang di depan kamar suite room. Beberapa pengunjung memutuskan untuk check out dan pindah ke hotel lain, yang lainnya memilih berkumpul di lobi. Meskipun berita itu disiarkan pukul tiga subuh, masyarakat di sekitar lokasi berkerumun di halaman hotel seperti semut yang mengerumuni gula. Mereka mengangkat ponsel, berubah menjadi wartawan dadakan.

Mobil ambulans dan dua mobil polisi berhenti di depan pintu masuk. Wartawan melompat ke pintu mobil polisi. Wakapolda dan Kadit Reskrimum turun dari mobil pertama, Kapolrestabes dan penyidik Polda turun dari mobil yang kedua.

Wartawan menghujani mereka dengan berbagai pertanyaan, membuat Wakapolda mengangkat kedua tangannya ke depan dada, mengarahkan agar wartawan bertanya satu per satu.

"Kami akan memeriksa TKP dan segera memberitahu hasilnya. Harap semuanya tetap tenang," jawabnya.

"Rekaman CCTV error, Ndan. Jamnya bergerak tapi gambarnya tetap sama," tim labfor memberikan laporannya saat Wakapolda memasuki suite room.

"Sama seperti di kantor Biddokkes, CCTV-nya diretas," ujar Afif, penyidik Polda.

"Bukan. Pelaku menginstal virus di komputer utama yang tersambung dengan jaringan. Kami sudah memperbaikinya tapi virusnya muncul lagi."

"Sepertinya itu bukan sesuatu yang bisa diperbaiki bagian IT yang hanya tahu mengganti IP."

Suara itu menyadarkan mereka bahwa ada seseorang yang sedang berjongkok di dekat luka korban, seorang gadis dengan jas putih. Setengah wajahnya tertutupi masker.

"Dia dokter forensik yang menangani kasus Kabiddokkes, Dokter Naura," tim labfor memperkenalkan.

"Bagaimana kesimpulan dari Dokter terkait luka di tubuh korban?" Wakapolda to the point.

"Ada bekas suntikan di lehernya, berarti korban diberi obat melalui pembuluh darah di leher, lalu melihat bekas jahit di perutnya, sepertinya korban juga kehilangan organ dalamnya. Jahitan yang rapi dan sempurna menandakan ini dilakukan oleh orang yang ahli. Penyebab kematiannya diduga hipoksia," gadis itu menunjuk bibir dan jari-jari korban yang membiru.

"Berarti pelakunya orang yang?"

"Iya. Hasil autopsi Kabiddokkes sudah keluar." Gadis itu melepas sarung tangannya lalu mengambil tablet PC dari dalam ranselnya.

"Korban kehilangan organ hati. Dia disuntikkan natrium tiopenton 200 miligram, obat anestesi umum. Pasien yang diberi anestesi tanpa bantuan pernapasan akan mengalami hipoksia dan itu menjadi penyebab kematian mereka. Obatnya harus dibeli dengan resep dokter."

"Bagaimana dengan sidik jarinya?"

"Bersih, Komandan. Tidak ada jejak satu pun."

"Oh iya, ada pola di ujung jahitan. Ada tiga bentuk bintang di jahitan Kabiddokkes, dan dua bintang di jahitan Gubernur." Naura memperbesar gambar di layar tabletnya.

Afif berpikir. "Tiga, dua, satu. Mungkin akan ada tiga atau empat korban. Setelah membunuh Pak Kabiddokkes, dia menjahit tiga untuk memberitahu kalau masih ada tiga orang yang harus dia bunuh," jawabnya

Dokter Naura mengangguk. Pria itu cukup cerdas. Beberapa pembunuh berantai memang gemar meninggalkan jejak misterius. Mereka suka menantang polisi untuk menemukannya.

***

Afif mengurut pelipisnya setelah menguap untuk yang ketiga kalinya. Dia menemukan hal menarik di media sosial yang mengatakan bahwa kedua korban telah menebus dosa yang mereka lakukan sepuluh tahun lalu.

Saat itu, diadakan konser atas kemenangan Pak Gubernur sebagai wali kota. Ketika wali kota memberi pidato, tim lawan melempar botol bekas ke panggung. Penonton ricuh, tim pro dan kontra saling pukul. Massa berdatangan, membawa busur dan parang. Jumlah polisi yang berjaga hanya 30 orang, mereka kewalahan dan menembakkan gas air mata. Orang-orang berlari sembarangan, berdesakan di pintu masuk dan di parkiran.

Kejadian itu menewaskan 210 orang akibat sesak napas, terinjak, terkena busur, dan parang. Kasat Sabhara Polrestabes, lima polisi yang menembakkan gas air mata, dan ketua penyelenggara menjadi tersangka. Namun, ketua penyelenggara dibebaskan dengan alasan kurangnya bukti. Ketua penyelenggara adalah sponsor utama dalam kampanye Pak Wali Kota saat itu, seorang pengusaha tambang nikel.

"Irwan, kamu bisa cari tahu daftar keluarga korban dan pelaku di peristiwa konser berdarah wali kota sepuluh tahun lalu. Aku curiga kasus ini ada kaitannya dengan itu."

"Siap!"

"Pengusaha nikel itu mungkin korban ketiga. Dia harus diperingatkan. Kalau sesuai dengan pola, korban selanjutnya akan dibunuh seminggu lagi. Di hari minggu subuh."

"Kasat sabhara yang jadi tersangka waktu itu meninggal setelah dipenjara selama enam bulan karena serangan jantung. Istrinya keguguran, pendarahan, lalu meninggal. Dia punya putri yang kuliah di jurusan kedokteran."

"Namanya?"

Irwan menggeleng. "Tidak ada. Tapi dia bisa jadi terduga."

"Luka di leher korban disuntik dengan posisi yang pas, berarti dia lebih tinggi dari Pak Kabiddokkes dan Pak Gubernur."

"Kita bisa mulai menggambar ciri-ciri pelaku."

***

Polisi masih berusaha mencari bukti di kantor Biddokkes dan hotel. Mereka cukup terkesan dengan pelaku yang berhasil menghapus jejaknya seperti seorang pembunuh berpengalaman. Rekaman CCTV di dekat lokasi kejadian tidak menunjukkan ada orang mencurigakan. Polisi hanya bisa menyimpulkan bahwa pelaku seorang perempuan.

Telepon di ruang Direktorat Reskrimum berdering. Irwan yang berada di dekatnya segera mengangkat telepon. Bola matanya membesar.

"Komandan. Pengusaha nikel itu ditemukan tewas di toilet bandara!"

Kadit Reskrimum tanpa sadar memukul meja. Bagaimana pelaku itu bisa mengalahkannya? Itu bisa merusak kredibilitas kepolisian dan tentu saja jabatannya.

"Pembunuhnya mengganti pola. Ini masih hari Kamis dan sekarang jam 10 pagi."

Garis polisi sudah terpasang di pintu masuk toilet kedatangan domestik bandara. Di salah satu bilik, seorang pria tertunduk di atas toilet duduk. Kemeja abu-abunya terkena noda darah yang cukup banyak.

"Ada kemungkinan dia diserang dari belakang dan ditarik ke bilik. Situasinya sama. Tidak ada sidik jari, tidak ada rekaman CCTV," tim labfor memberitahu saat Pak Kadit Reskrimum masuk ke toilet.

"Toiletnya kosong saat kejadian?"

"Pintu toilet macet, saksi memanggil satpam. Saat satpam sampai, mereka sudah melihat banyak darah di bawah bilik ini."

"Lukanya?"

"Dokter Naura belum datang. Tapi ada pola jahitan satu bintang. Darah dan bibirnya masih terlihat segar."

"Tutup jalan keluar. Cari semua tempat termasuk di pesawat!"

"SIAP KOMANDAN!"

Anggota polisi segera berpencar.

Afif mendengar suara aliran air dari toilet perempuan, di mana seharusnya toilet itu dikosongkan saat ini. Pria itu mengeluarkan pistolnya saat berada di depan pintu toilet. Dia memegang gagang pintu dengan tangan kirinya lalu memutarnya dengan pelan. Tangan kanannya menggenggam pistol dengan erat, mengarahkannya ke depan.

Dia mengembalikan pistolnya ke dalam sabuk saat melihat Dokter Naura sedang mencuci tangannya di wastafel.

"Dokter Naura, Anda baru sampai? Tim labfor menunggu Dokter di sebelah."

Dokter Naura tersenyum ke arah cermin di depannya. "Kalian lambat sekali."

Saat itu Afif baru menyadari bahwa tangan dokter itu penuh darah. Ada kantong kresek hitam di atas wastafel. Afif mengambil kembali pistolnya lalu mengarahkan ke Dokter Naura.

Dokter Naura mengeringkan tangannya lalu mengangkat tangannya. "Aku tidak akan lari. Tugasku selesai, mereka sudah dihukum. Tuhan terlalu baik sama mereka, aku jadi lelah menunggu hari kematiannya."

Afif tidak bergerak, tidak juga berteriak bahwa pelakunya ada di depannya.

Gadis itu menurunkan tangannya. "Kamu tahu, ayahku meninggal bukan sebagai polisi. Dia tidak mendapat penghormatan di hari meninggalnya. Pak Gubernur dan pengusaha brengsek itu sengaja mengurangi jumlah polisi yang berjaga. Lalu Pak Kabiddokkes bilang Kasat Sabhara yang bertanggung jawab atas keamanan konser. Ayahku mati dan mendapat semua hujatan itu. Lalu mereka hidup bahagia dan terus naik jabatan," dia tertawa terlalu keras, hingga beberapa menit suara tawa itu hilang lalu akhirnya air mata mengalir di pipinya.

"Aku memberikanmu bukti," Dokter Naura menunjuk kresek hitam di wastafel.

Afif menurunkan pistolnya, mengambil borgol dari kantong belakang celananya. Dia mengambil satu tangan Dokter Naura lalu memasangkan borgol ke sana.

"Dokter Naura, Anda ditahan tanpa surat penangkapan atas tuduhan pembunuhan berencana. Anda berhak untuk diam dan menyewa pengacara selama proses penyidikan."

Dokter Naura merawat dendamnya dengan baik selama sepuluh tahun dan dia terlihat bahagia. Bahkan setelah Afif menuntunnya keluar dari toilet, gadis itu masih saja tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.

Mawar Fatmah mahasiswi, penulis di wattpad

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Simak Video "Yuyun Sukawati Terdorong Nyaleg karena Pernah Jadi Korban KDRT"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT