Mengantar Hosti Terakhir

ADVERTISEMENT

Cerita Pendek

Mengantar Hosti Terakhir

Petrus Nandi - detikHot
Sabtu, 05 Nov 2022 10:00 WIB
ilustrasi cerpen
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Jika hanya untuk menghadapi gosip ibu-ibu di sekitar rumah Bibi Meta, Maria berani melangkah maju. Namun, bukan itu yang membuat ia bimbang dan takut melanjutkan perjalanannya hari itu.

***

Ia telah melayani empat orang lansia di kampung sebelah. Tugas terakhirnya hari itu ialah mengantar hosti yang tersisa untuk Bibi Meta. Bibi Meta akhir-akhir ini tak menginjakkan kaki di gereja. Stroke iskemik yang setahun belakangan menderanya membuat ia tak bisa berjalan ke mana-mana. Jangankan ke gereja, untuk ke kamar mandi saja, tubuhnya harus ditopang oleh dua putrinya yang masih SMP dan SMA.

Setiap hari minggu, ia selalu menjadi orang terakhir yang dilayani oleh Maria dengan alasan bahwa di antara kelima pasien yang dilayani Maria, tempat tinggalnya adalah yang paling jauh dari Gereja.

Maria telah melewati permukiman warga. Kini duduk memunggungi jalan raya, dengan tubuh disandarkan pada sebuah pohon ketapang. Tempat itu menjadi satu-satunya tempat perhentiannya dalam sekali patroli. Selain karena naungan ketapang yang menyejukkan dan lanskap sawah yang asri di depan matanya, tempat itu cukup jauh dari keramaian warga sehingga ia bisa menghindarkan diri dari perbincangan-perbincangan yang tak penting.

Ia biasa berdoa rosario di sepanjang perjalanan. Dan berhenti di tempat itu selalu berarti bahwa ia telah tuntas mengenangkan lima peristiwa rosario.
Di parokinya, tidak sedikit awam Katolik merelakan diri ditahbis menjadi petugas akolit.

Ia sadar, tak ada yang istimewa dari pengorbanannya selain kenyataan bahwa ia menjadi satu dari ribuan orang muda yang enggan mengisi akhir pekan dengan berekreasi di tempat-tempat wisata atau membiarkan jemari menari di layar gawai. Ya, hanya Marialah yang berani berkarib matahari dan hujan demi melayani para lansia dan orang-orang sakit yang rindu menyambut tubuh Kristus.

Sudah tiga tahun ia bertugas di stasi yang bernama sama dengan dirinya: stasi Santa Maria. Walaupun tak termasuk bilangan umat stasi itu, Maria tetap tekun menjalani tugasnya. Bahkan ketika aneka cibiran dan umpatan bagaikan anak panah menembusi jantungnya, pendiriannya untuk menjalankan pelayanan tetaplah setegak Gunung Kalvari.

Pada minggu-minggu sebelumnya, ia enggan berlama-lama di bawah naungan ketapang itu. Lima menit saja sudah cukup baginya untuk sekadar minum air dan menormalkan kembali irama napasnya setelah lelah melintasi tanjakan dan beberapa kelokan yang melelahkan di sepanjang perjalanan yang telah dilaluinya.

Namun, kali ini sangat berbeda. Ia merasa begitu terikat dengan tempat itu. Bukan karena sensasi udara yang sejuk dari dasar lembah. Bukan karena hamparan sawah yang menguning di hadapan matanya. Tapi....

***

Beberapa bulan belakangan ini, telinganya terbakar oleh gosip ibu-ibu di sekitar rumah Bibi Meta yang mengaitkan namanya dengan alasan kepindahan Romo Rudy. Konon, kata mereka, Uskup Agung memindahkan pastor kapelan tersebut untuk menjauhkannya dari Maria.

Dulu, Maria memang sering berkunjung ke pastoran untuk berjumpa dengan Romo muda itu. Apapun alasannya, tentu hanya mereka berdua dan Tuhan yang tahu.

Sesudah cerita miring seputar dirinya beredar dan sampai ke telinganya sendiri, ia menutup jalan ke pastoran paroki. Bila ada keperluan mendesak di pastoran yang membutuhkan campur tangannya, ia selalu mempunyai alasan untuk tak terlibat. Semua urusan pelayanan yang mengaitkan dirinya dengan Romo Rudy dibicarakan lewat telepon. Tak lagi ada batang hidungnya di pastoran itu, bahkan jauh setelah kepindahan Romo Rudy. Tetapi, ibarat bunglon, gosip tentangnya segera berubah.

"Wajar saja kalau ia tak nongol di pastoran, kan Romo Rudy sudah tak ada di situ," oceh Bu Wati.

"Benar itu, Bu. Akhir-akhir ini memang ia tak lagi ke pastoran. Apa pula yang ia cari di sana?" Bu Rita membenarkan sembari memburu kutu-kutu yang berkeliaran di kepala sahabat karibnya itu.

"Ya. Tapi sama saja. Anak saya yang kuliah di Kupang bilang, sekarang ini kita memasuki era komunikasi digital." Bu Wati tanggap balik. Ia memandang teman bicaranya sambil tersenyum tipis setelah menyadari kemampuannya mengucapkan dua kata terakhir dalam kalimat itu dengan baik-dua kata yang membuat Bu Rita menggaruk-garuk kepala seolah ribuan kutu sedang berlomba lari di kepalanya.

"Maksudnya?"

"Kalau tak bertemu empat mata, masih untung mereka bisa teleponan, sayang-sayangan, say hallo, tanya 'kamu sudah makan atau belum?'," timpal Bu Wati seraya memperagakan seseorang sedang bertelepon.

"Hahahaeee...."

"Hahahahaeee...."

Begitulah ibu-ibu membusukkan nama Maria. Dan, lagi-lagi, semua itu terlalu remeh dan murah untuk hatinya yang terlampau tegar dan teguh melayani umat Tuhan. Ia tak pernah gentar menerobosi gang yang penuh dengan aroma sirih pinang itu demi membawa Tuhan yang masih dinanti penuh rindu oleh Bibi Meta. Tapi....


***

Kali ini, keberaniannya runtuh. Dan, bukan gosip ibu-ibu itu alasannya. Ceritanya begini. Minggu lalu, disaksikan mata kepalanya sendiri, Pak Hamid, seorang juragan kopi kaya raya mendatangi rumahnya. Orang tua itu memukul ayahnya hingga babak belur. Ia berteriak-teriak sembari memorak-porandakan barang-barang dalam rumah keluarga Maria.

"Dasar miskin! Penuhi janjimu! Mana?" teriaknya sambil memuncratkan ampas sirih pinang ke lantai. "Minggu depan, saya akan membawa Maria ke Kupang. Sudah lama saya haus akan dirinya. Kau paham maksud saya, kan? Masih ingat janji kita berdua kan?" Telunjuknya beralih dari mata ayah Maria ke dada Maria. Jari telunjuk itu begitu dekat dengan dadanya. Begitu dekat hingga Maria terkesiap.

Enam belas tahun lalu, saat Maria berusia satu tahun, ayahnya membuat suatu perjanjian dengan lelaki itu. Maria sekeluarga konon warga pengungsi dari negara tetangga. Kemelut politik di negara itu mendesak mereka untuk mencari perlindungan di negeri yang setengah aman ini. Saat itu, mereka hidup terlantar sebab ayahnya tak memiliki uang untuk membeli tanah dan membangun rumah di atasnya.

Pak Hamid datang sebagai pahlawan. Ia menawarkan sebidang tanah yang cukup untuk sebuah rumah dan halaman kecil seluas 30x20. Untuk menebus jasa Pak Hamid, ayah Maria harus memberinya uang sebesar 100 juta dalam tempo enam belas tahun. Itu opsi pertama. Opsi kedua: jika ia tak mampu membayar lunas dalam yang diberikan, puteri pertamanya-tak lain Maria-harus kawin dengan Pak Hamid, kapan saja ia mau.

Nasib baik rupanya tak berpihak pada keluarga Maria. Ayahnya hanya mampu membayar selama dua tahun dari upah pekerjaannya sebagai tukang bangunan. Itu pun tak bisa mencapai seperempat dari total uang yang harus diserahkan.

Nahas merundung pula kala ayahnya jatuh dari bubungan sebuah rumah tetangga yang sedang dikerjakannya pada suatu hari. Ayahnya selamat, tetapi kelumpuhan total akhirnya membuat hidupnya hanya berkisar antara kursi roda dan tilam.

Ibunya yang sehari-hari bekerja sebagai pemasak di pastoran paroki tak mampu menebus utang dengan gaji yang hanya cukup untuk belanja kebutuhan harian. Dengan begitu, suka atau tidak suka, Maria jatuh ke tangan Hamid.

Sampai kini, ketakutan masih mengguncang batinnya. Ia sebetulnya belum siap dan matang untuk menjadi seorang istri. Apalagi, orang tua itu sudah beristri empat, sementara ia masih seorang gadis belia berusia tujuh belas tahun yang kebetulan tak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi karena keterbatasan ekonomi. Dan ternyata Bu Wati, anggota komplotan yang giat mencibir dan membusukkan namanya itu merupakan istri tertua Hamid.

***

Singgah di pohon ketapang tak lagi menjadi tanda bahwa lantunan doa rosarionya telah usai. Ia membuka tas kecilnya, membuka piksis dan mendapati Tubuh Kristus tinggal satu-itulah yang akan diberikannya pada Bibi Meta. Air mata membanjiri pipinya. Tapi ia tak punya pilihan lagi. Di mana pun ia berada hari itu, di rumahnya atau di rumah Bibi Meta atau di bawah naungan ketapang itu, Pak Hamid akan menjemputnya hari itu juga.

Maka kini, pekerjaan terakhir yang harus dituntaskannya adalah mengantar hosti terakhir itu kepada Bibi Meta. Dengan keberanian yang masih tersisa, ia meraih tas kecilnya dan melanjutkan perjalanan.

Langkahnya tersaruk-saruk di atas kerikil dan rerumputan. Ia rasakan butir-butir keringat mengalir di punggung lantaran hawa panas menusuk kulit. Debu jalanan dan serbuk-serbuk putih dari deretan pohon ara di pinggir jalan bergentayangan di sekitar wajahnya. Sesekali ia berhenti untuk mengebaskan masker agar tak ada yang menerobos masuk ke lubang hidungnya.

Sementara berjalan, ia mendengar tangisan dari dua rumah yang saling berhadapan. Semakin dekat langkahnya menuju rumah bibi Meta, semakin keras tangisan-tangisan itu.

Demikianlah cerita ini berakhir ketika hosti yang tinggal satu di tasnya tak sampai ke mulut bibi Meta, saat Maria hanya bisa menangis di sisi Bibi Meta, sedang dari rumah yang lain terdengar tangis empat perempuan yang tak kalah histerisnya.

Pra-Novisiat Claret-Matani, Mei 2022

Petrus Nandi lahir di Pantar, Manggarai Timur, NTT, 30 Juli 1997. Buku puisinya yang telah terbit berjudul 'Memoar'. Saat ini menetap di Pra-Novisiat Claret, Kupang

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Simak Video "Rahasia Cantik dan Awet Muda Sarah Azhari"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT