ADVERTISEMENT

Cerita Pendek

"Stand by Me"

Mumu Aloha - detikHot
Sabtu, 13 Agu 2022 10:18 WIB
ilustrasi cerpen
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Sekitar pukul delapan, ketika band yang sejak kami datang pada pukul tujuh seperempat tadi sudah sound check akhirnya mulai memainkan lagu pertama mereka, aku merasakan bahwa Vera mulai tak nyaman. Aku bisa melihat dari cara duduknya, dan tatapan matanya yang sebentar-sebentar dilemparkan ke arah jalanan.

Aku mencoba bersikap biasa, menyalakan satu batang rokok lagi untuk mencegah supaya dia tidak mengajak pergi dari tempat ini.

"Mau minum lagi?" kataku.

"Aku pesenin ya? Mau minum apa?" sambungku sambil berdiri, sebelum dia merespons tawaranku.

"Baiklah," Vera mendesah, seperti memahami maksudku. "Es kopi lagi."

"Oke. Cemilan?"

"Pisang goreng boleh," katanya tanpa berpikir panjang. "Eh, tapi ini belum habis," katanya lagi sambil menunjuk tahu cabe garam yang sebelumnya kami pesan.

"Nanti kuhabiskan, tinggal sedikit," kataku.

Aku segera masuk ke bangunan paviliun berdinding kaca yang berfungsi sebagai kasir pemesanan, dan berdiri dalam antrean. Sejak kami datang, antrean di kasir tak pernah henti, tapi tidak sampai memanjang karena pelayanan di sini cepat dan bagus.

Aku menyukai tempat ini, dan masih ingin berada di sini lebih lama. Aku bukannya ingin menikmati musik dari band yang bermain di sudut yang tak terlihat dari tempat kami duduk. Suara vokalisnya tidak buruk, dan lagu pertama yang dibawakannya juga jenis lagu yang mudah aku sukai, walau aku tak bisa mengingat judulnya, tapi jelas itu lagu dari masa remajaku.

Aku menyukai tempat ini lebih karena suasananya. Aku tipe orang yang menyukai keramaian, dan tempat ini memberi hampir semua yang diinginkan oleh jenis orang sepertiku. Luas, bahkan sangat luas, sehingga walaupun ramai tapi tidak berisik. Lampu-lampunya juga tidak terlalu terang berlebihan, tapi juga tidak dibikin temaram agar terkesan sok romantis. Aku masih bisa melihat dengan jelas wajah orang-orang yang duduk di bangku-bangku di sekitarku, dalam jangkauan pandangan mataku, juga orang-orang yang terus mengalir berdatangan, langsung berjalan masuk ke paviliun untuk memesan makanan dan minuman, lalu mencari tempat duduk setelah penjaga kasir memberikan benda bulat hitam yang akan berbunyi ketika pesanan sudah siap diambil.

Vera dan aku memilih duduk di bagian bangku semen yang dibuat mirip tribun gelanggang olahraga, di undakan paling bawah, di sisi paviliun. Di setiap undakan yang memanjang diberi meja-meja bundar dari besi yang dicat putih, dengan tiang penyangga yang menempel pada dinding semen, berderet dengan jarak sekitar dua meter, terlihat mirip jamur-jamur raksasa yang tumbuh di sebuah media tanam.

Ketika aku kembali dari paviliun, pasangan seme dan uke --aku baru tahu istilah-istilah ini dari Vera beberapa puluh menit yang lalu-- yang duduk di sebelah kami serentak memperhatikanku. Aku bisa melihatnya karena sebelum duduk aku sempat melirik ke arah mereka. Aku memang penasaran sama mereka, sejak Vera membisikkan dua kata asing itu ke telingaku ketika kami baru datang tadi.

Ketika kami datang dan memilih tempat duduk setelah memesan makanan dan camilan di paviliun, mereka sudah ada di situ, duduk bersebelahan, bersandar di dinding semen dengan kedua kaki sama-sama diangkat ke undakan, sibuk memainkan handphone tanpa mengobrol satu sama lain. Tapi, walaupun diam dan asyik dengan layar handphone masing-masing, keberadaan mereka di situ cukup menarik perhatian kami, terutama aku, karena penampilan mereka yang menurutku unik.

Begitu duduk, kudekatkan mulutku ke telingat Vera untuk membicarakan penampilan kedua cowok remaja itu. Saat itulah, Vera membisikkan dua kata yang awalnya tak bisa dengan jelas kudengar. Lalu ia mengulanginya dengan lebih mendekatkan bibirnya ke telingaku. Sempat kurasakan embusan napasnya yang lembut dan hangat dan beraroma lipstik --aku menebak itu aroma stroberi. Ketika aku bertanya, apa maksud dua kata itu, dia menjelaskan dengan singkat, dengan suara yang terus dijaga agar tidak terdengar sampai ke sekitar, namun cukup membuatku paham. Dalam hati aku lalu aku mengulang-ulang mengucapkan dua kata itu. Seme. Uke. Lalu aku senyum-senyum sendiri karena merasa dua istilah itu lucu.*)

Benda bulat yang kutaruh di atas meja berkedip dan berbunyi. Aku buru-buru bangkit. Tapi, Vera mencegahku dengan gerakan tangannya yang nyaris menyentuh tanganku.

"Biar aku yang mengambil," katanya sambil berdiri dan langsung melangkah ke arah paviliun. Aku kembali duduk, dan melihat Vera yang gesit melangkah ke bagian pengambilan pesanan di sisi kasir. Untuk pertama kalinya aku bisa memandangi pinggangnya yang ramping, pinggulnya yang padat penuh terbungkus high waist loose jeans warna biru pudar yang dipadu dengan crop top rajut berlengan pendek yang menggantung di perutnya. Aku memuji pilihan warnanya, beige, yang memberi kesan lembut, tidak terlalu kontras dengan lengannya yang putih, tapi tetap menarik perhatian.

Jarak antara tempat kami duduk dan paviliun pemesanan tak sampai lima langkah. Ketika Vera kembali, aku sempat memperhatikan poninya sebelum pura-pura mengecek sesuatu di layar handphone-ku.

"Pisang gorengnya gede banget, tidak dipotong-potong," katanya sambil menaruh makanan yang disajikan di dalam kotak kardus itu. Aku segera mencium aroma coklat dan keju. Kuletakkan handphone-ku.

"Tapi sepertinya enak," kataku sambil mengendus aroma harum yang menguar dari makanan itu.

"Iya, sepertinya enak," katanya.

Vera duduk di sampingku dan langsung menyesap es kopinya. Aku memesan minuman yang tak berhasil kuhafal namanya, tapi dari keterangan yang tertera di menu terbuat dari teh rosela yang dicampur soda dan disajikan dengan es batu. Setelah kucicipi, lumayan, menyegarkan untuk malam yang berhawa agak gerah.

Kota ini terkenal dengan hawanya yang dingin, dan kafe ini merupakan sebuah area yang terbuka. Tapi, barangkali apa yang dibicarakan dunia selama ini mengenai perubahan iklim memang nyata adanya. Meskipun tidak sampai bikin berkeringat, tapi udara malam ini terasa kering.

Terdengar vokalis band berbicara, tidak begitu jelas tertangkap sampai ke sini, tapi sepertinya meneriakkan kepada pengunjung, kalau ada yang mau meminta lagu, atau mungkin menawarkan siapa yang ingin menyumbangkan suaranya untuk menyanyi, pokoknya kalimat-kalimat semacam itu, yang biasa diucapkan oleh seorang penyanyi band yang bermain di kafe. Lalu, terdengar sebuah intro lagu yang sangat familier di telingaku. Sesaat kemudian, udara dipenuhi alunan suara yang membuat para pengunjung kafe tanpa sadar menggerak-nggerakkan ujung sepatunya mengikuti irama.

Sampai di bagian reffrein, refleks aku ikut menyanyi lirih-lirih sambil menggoyang-goyangkan kepalaku.

"Ini lagu siapa?" tanya Vera.

"Oasis, band dari Inggris," jawabku, kemudian lanjut menyanyi lagi.

Vera mencongkel pisang goreng dengan garpu dan mengunyahnya, lalu berkomentar. "Enak." Dia kemudian menyodorkan garpu kecil itu kepadaku, sebagai isyarat memintaku untuk mencicipinya. Aku menyukai sikapnya yang asyik dan akrab. Seolah kami sepasang kekasih, atau paling tidak dua orang yang sudah lama saling mengenal dan sedang menuju hubungan yang lebih serius. Diam-diam aku jadi semakin punya banyak harapan padanya malam ini.

Aku mencongkel sepotong kecil dan memakannya. Pisangnya sangat lumer. Topping coklat dan kejunya menambah rasa manis. Aku mencongkel sekali lagi, dan setelah memasukkan potongan kecil ke mulutku, kukembalikan garpu ke Vera, tapi dia memberi isyarat agar aku menaruhnya.

"Jadi, habis ini kita ke mana?" tanyaku setelah jeda diam yang agak lama. Tentu maksudku, apakah dia akan ikut aku ke hotel atau langsung pulang.

Vera hanya mengangkat bahu. Aku tidak tahu, apakah dia paham maksud pertanyaanku tapi ragu-ragu untuk menjawab, atau ada makna lain dari jawabannya yang tanpa kata-kata itu. Perasaanku jadi bergemuruh tidak keruan.

***

Aku baru bertemu Vera beberapa jam yang lalu. Sebenarnya aku hanya iseng saja ketika di sela-sela memberikan pelatihan digital marketing siang tadi aku menghubungi beberapa nama yang pernah match denganku di aplikasi kencan. Aku dikirim oleh perusahaan tempatku bekerja untuk memenuhi undangan menjadi salah satu narasumber dalam workshop yang diadakan oleh sebuah lembaga di bawah salah satu kementerian.

Ketika bos menunjukku, aku hanya berpikir tentang jalan-jalan dan menginap di hotel gratis di tengah pekan yang sibuk dan membosankan. Persetan dengan para PNS yang hendak belajar tentang strategi digital campaign untuk program-program instansi mereka agar lebih sampai ke masyarakat. Memangnya sejak kapan mereka punya program? Acara-acara seperti itu hanya untuk menghabiskan anggaran! Digelar di luar kota, dengan visi-misi yang muluk-muluk, agar memberikan output yang maksimal. Omong kosong! Tapi apa peduliku. Aku hanya orang yang ditunjuk oleh bosku.

Saat break isoman, setelah menyelesaikan makan siangku dengan cepat, aku menyingkir untuk menghindari obrolan basa-basi yang tak kuharapkan. Sambil menunggu sesi lanjutan berikutnya, aku duduk di lobi hotel dan membuka-buka kembali jejak digitalku di aplikasi kencan. Ada beberapa nama dari kota ini yang dulu pernah match, dan sempat sedikit chit-chat. Kukontak mereka satu per satu, dan sambil menunggu balasan, aku berjalan-jalan melihat kolam renang hotel.

Aku dan para peserta workshop menginap di hotel ini. Acara digelar di meeting room kecil, di hotel yang sama, karena pesertanya tidak terlalu banyak. Acara hanya akan berlangsung sampai sore, tapi kami menginap sampai esok hari.

Kolam renang hotel lumayan luas dan sangat bersih. Aku bertanya pada penjaga, kolam buka sampai jam berapa. Katanya, sampai jam delapan malam. Sebelum pukul setengah dua aku sudah kembali ke meeting room, dan sambil menunggu semua peserta berkumpul lagi, aku mengecek handphone, membuka aplikasi, dan tidak ada satu pun yang merespons ajakanku untuk bertemu.

Sorenya, setelah acara kelar sekitar pukul empat, aku langsung kembali ke kamar dan berharap sudah ada satu atau dua ajakanku yang "nyantol". Sambil rebahan kubuka aplikasi, dan ternyata ada satu nama, Vera, yang menyambut ajakanku. Kulihat kembali foto profilnya. Khas foto-foto profil perempuan-perempuan aplikasi kencan. Glamor, seksi, colorful, dengan background tempat wisata populer yang semua orang ingin mengunjunginya. Wajahnya tidak terlalu cantik, tapi menurutku cukup menarik.

Di foto itu, dia memiliki rambut yang dipotong sedikit di atas bahu. Umurnya tertera 24 tahun. Terpaut denganku...refleks aku menghitung....13 tahun! Buru-buru kubalas lagi chat-nya, dan sampai hampir magrib tidak ada tanda-tanda komunikasi akan berlanjut. Setengah putus asa, kutinggalkan nomer HP-ku dan berharap, kalau dia memang serius akan berpindah dari chat di aplikasi dan langsung menghubungiku via WA atau menelepon. Tapi, setelah capek menunggu, aku memutuskan untuk melupakannya, dan berpikir akan menghabiskan malam dengan jalan-jalan saja melihat suasana kota.

Pukul enam lebih sepuluh menit, ada pesan masuk di WA-ku. Ini Vera, jadi ketemu? Segera kubalas dengan penuh antusias, dan tak sampai setengah jam kemudian dia sudah duduk di lobi hotel menungguku. Aku memang mengajaknya untuk ketemu di hotel saja dan dia setuju. Sebuah pertanda baik, pikirku, dan sekujur tubuhku langsung dirayapi perasaan yang campur aduk antara girang dan deg-degan. Ternyata segalanya lebih mudah dari yang kusangka.

Ketika berdiri untuk menyalamiku, Vera tampak tinggi dan meskipun kurang semenarik dari yang terlihat di foto, tapi kupikir dia tetap cukup menarik untuk sebuah kencan singkat yang akan berlalu dalam beberapa jam. Tapi, segalanya ternyata tidak seperti yang kupikirkan. Vera menolak ketika terang-terangan aku mengajaknya naik ke kamarku di lantai atas. Jadi, kenapa dia bersedia bertemu di hotel kalau tidak mau diajak ke kamar?

Apakah dia kecewa setelah melihatku? Apakah aku terlalu tua untuknya? Apakah aku tidak seperti yang dibayangkan dan diharapkannya? Aku kecewa dan sedikit kesal. Aku jarang ditolak. Aku tidak biasa dengan penolakan. Apakah dunia sudah tidak tertarik lagi pada lajang petualang sepertiku? Aku hampir saja meninggalkannya, ketika Vera kemudian menawarkan untuk pergi ke kafe. Ada kafe baru yang asyik, katanya. Bagian dari jaringan kafe raksasa yang sedang hits di berbagai kota, katanya.

Sesaat aku ragu. Aku merasa sudah bukan lagi orang yang tepat untuk mengikuti tren. Tapi, sejujurnya, dalam hati yang paling tersembunyi aku masih menyimpan harapan pada Vera. Mungkin aku terlalu buru-buru. Mungkin caraku terlalu kasar, langsung mengajaknya ke kamar. Sebagian perempuan tidak bisa diperlakukan seperti itu. Baiklah, beberapa hal harus kupelajari lagi dengan lebih baik. Kukatakan pada diriku sendiri, malam ini akan menjadi petualangan yang panjang dan mendebarkan.

***

Telepon Vera berbunyi. Suaranya lirih dan terdengar seperti dari tempat yang jauh, tapi cukup nyaring menggema menerobos udara malam yang makin pekat dengan alunan musik. Vera mencari-cari di dalam tas kecilnya. Aku memperhatikannya. Dia menemukan benda yang dicarinya, dan buru-buru memencet tombol yang membuat bunyinya seketika mati.

"Kok dimatiin?"

Dia memasukkan kembali teleponnya ke dalam tas, menyesap minumannya, dan tidak mengatakan apa-apa. Telepon berbunyi lagi. Kali ini dia mengangkatnya, tapi lagi-lagi hanya diam. Tak sampai lima belas detik, dia menurunkan telepon yang digenggamnya dari telinganya, memasukkannya ke tas dan meraih tas itu dari atas meja sambil berdiri.

"Maaf ya, aku harus pergi. Pacarku menjemputku di depan. Maaf ya...nanti aku hubungi. Terima kasih sudah ditraktir."

Aku tidak sempat mengatakan apa-apa karena Vera tidak menunggu kata-kata dariku. Aku menatap punggungnya yang menjauh dengan tatapan bingung. Sesaat terpikir untuk mengejarnya, tapi secepat itu pula aku merasa bahwa itu bukan keputusan yang tepat, hanya akan menimbulkan banyak perhatian karena dikira kami pasangan yang sedang bertengkar. Aku berusaha tetap duduk dengan sikap yang wajar dan santai seperti tidak terjadi apa-apa.

Segera kualihkan pandanganku dari Vera sebelum dia menghilang, dan saat itu aku tahu seme dan uke di sebelah memperhatikanku. Aku pura-pura tidak tahu. Kunyalakan rokok, kusandarkan punggungku ke dinding tangga semen di belakangku, dan aku berlagak riang dengan menyenandungkan lagu Oasis yang tadi dimainkan dan masih terus menggema di kepalaku, karena sudah lama sekali aku tidak mendengar lagu itu. Stand by me, nobody knows the way it's gonna be....**)

Kunaikkan kedua kakiku ke undakan tempat aku duduk. Kuembuskan asap rokokku tinggi-tinggi. Kutengadahkan kepalaku ke langit. Stand by me, nobody knows the way it's gonna be.... Hitam, kelam, dan luas. Seperti lobang gelap yang menganga, dan aku merasa tubuhku terisap ke dalamnya. Aku takut tersesat dan hilang. Kuturunkan lagi pandanganku. Ke meja besi bundar mirip jamur.

Pisang goreng di kotak kardus masih tersisa. Sisa tahu cabe garam yang tadi ingin kuhabiskan sejak tadi belum tersentuh lagi. Minumanku pun belum habis. Minuman Vera juga masih separo. Mungkin nama aslinya bukan Vera. Stand by me, nobody knows the way it's gonna be. Kafe masih sangat ramai. Seme dan uke di sebelah sedang mengobrol dengan seorang pria separo baya bertubuh gempal, bercelana pendek, dan mengenakan kaos oversize bergambar beruang. Aku tidak melihat kedatangannya.

Beberapa detik aku memperhatikannya. Dia duduk di kursi besi seberang meja jamur dengan kedua lutut bertaut. Ada clutch bag Louis Vuitton cokelat KW di pangkuannya. Dia bicara sambil menggerak-nggerakkan kepalanya. Apa sebutan untuk pria itu? Vera mungkin tahu. Vera pasti tahu. Tapi, apa benar namanya Vera? Nanti aku hubungi. Aku merasa sangat bodoh karena masih juga mengingat kata-kata itu. Aku tertawa hampa dalam hati.

Keterangan:

*) dalam manga "boys love" (genre percintaan antara laki-laki dengan laki-laki), terdapat dua karakter laki-laki yang disebut seme dan uke. Seme mengambarkan karakter laki-laki yang dominan, sedangkan uke kebalikannya, seolah mengambil peran sebagai perempuan

**) lagu Stand by Me terdapat di album ketiga Oasis yang berjudul Be Here Now (1997)

Mumu Aloha menulis dan menyunting naskah; cerpennya termuat dalam sejumlah antologi bersama



Simak Video "Permintaan Maaf Zee JKT48 Usai Heboh Video Nge-vape"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT