ADVERTISEMENT

Cerita Pendek

Musim Hujan

Nuzul Ilmiawan - detikHot
Minggu, 17 Jul 2022 10:00 WIB
ilustrasi cerpen
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Blackbird singing in the dead of night. Take these broken wings and learn to fly.

"All your life."

Musim hujan yang panjang membangunkan Amadeus dari mimpinya. Ia duduk lantas meraih kembali beberapa helai kardus bekas yang menjadi alasnya untuk tidur. Dengan kardus itu ia membungkus tubuhnya yang menggigil. Ia tak tahu ini pukul berapa, suhu seakan menurun drastis dari biasanya. Ia rasa ini pukul tiga. Ia menghembus kedua tangannya sesekali sambil digosok-gosok. Ia merasakan suatu kehangatan, membuatnya tersenyum. Sesaat sebelumnya, Amadeus berada dalam pangkuan ayah yang menyanyikannya sebuah lagu yang ia lupa siapa yang menyanyikannya. Tapi sekarang, ia hanya dibaluti sepi.

Matanya membias api yang menyala-nyala di atas kayu yang seringkali mengeluarkan suara percikan, sementara pakaiannya tergantung di atas api untuk dijemur akibat basah selama berjalan seharian. Tatapannya seakan menghilang pada kedamaian, api yang berdansa seolah membuat matanya terpana. Tapi tidak, ia selalu merasa awas. Sedikit saja terdengar suara kayu patah atau jejak kaki dari semak-semak, ia langsung sigap. Sedari kecil ayah melatihnya untuk memiliki indra yang peka. Bahkan di kala hujan deras seperti ini, ia tahu bahwa ada seekor tupai yang tak sengaja menjatuhkan buah di salah satu pohon yang berjejer di hadapannya.

Di tengah kedamaian pagi itu, ia menyeduh bubuk kopi yang dirampasnya dari seorang lelaki tua saat ia tengah berjalan menuju Barlo. Ia mendengar kabar bahwa di Barlo, ada sebuah peradaban. Harapan untuk selamat. Orang-orang saling menjaga satu sama lain dari para pemburu atau perampas yang berkeliaran seperti anjing-anjing gila. Saat ia hendak menuang bubuk ke dalam gelas aluminium bekas itu, ia bersedih hati membayangkan lelaki tua tak bersalah itu harus menerima konsekuensi dari ini semua.

"Kau bisa makan aku jika kau mau, tapi jangan ambil makananku." Demikian kata lelaki tua itu saat Amadeus menodongnya dengan pisau. Ia tahu bahwa apa yang ia lakukan adalah salah, tapi apa daya, moral sudah tak berlaku di tanah ini. Semua orang membicarakan tentang dirinya sendiri, dan tak ada hukum yang mengatasnamakan keadilan. Tentu saja ia akan melakukan apa saja untuk menyelamatkan dirinya. Tapi dia memikirkan, bahwa lelaki tua yang lebih memilih mati ketimbang persediaan makanannya diambil adalah sebuah keironisan yang cantik. Seakan peran Tuhan sudah digantikan oleh makanan.

Sembari merebus air hujan yang ia tampung tadi, ia mengambil sebuah peta dari dalam tasnya yang bau apek. Di bawah jembatan yang sedikit lembab itu, ia berlindung dari malam yang kejam. Di peta yang sedikit robek itu, ia menatap rute-rute yang ada menuju Barlo. Pada pojok kanan atas peta itu, tertulis tahun 2064. Melihat peta yang terlihat seperti sebuah tatanan kehidupan yang terstruktur itu membuatnya mengingat bagaimana ayah bercerita tentang masa kecilnya yang indah-masa di mana Amadeus tak sempat merasakannya. Sebelum akhirnya orang-orang mulai berpindah ke bulan dan menyusun peradaban yang baru saat sekawanan asteroid raksasa yang sudah diprediksi berdekade-dekade sebelumnya akan tiba lebih cepat dari dugaan para ahli. Ayah bercerita kepada Amadeus, bagaimana manusia menampakkan sisi kehewanannya.

Berhari-hari sebelum keberangkatan besar ke bulan, kejahatan merajalela di mana-mana. Orang-orang yang tak punya uang untuk membeli tiket berhamburan turun ke jalanan melakukan aksi anarkis saat suara mereka tak dipedulikan oleh pemerintah. Mereka merampok, membunuh, memperkosa dan segala macam kelakuan yang jauh di luar kata "makhluk bermoral" yang menyemat pada mereka.

"Sudah tak ada harapan untuk mendapatkan tiket, karena tiket sudah terlanjur habis," kata ayah. dan keputusasaan itu memicu sebuah gerakan "kebebasan" sebelum mati. Aturannya hanya satu, lakukan apa yang kau mau. Tentunya itu disepakati bersama. Sehingga muncul sebuah pertanyaan, apakah benar-salah itu ada atau ditetapkan? Para kapitalis elit mana peduli dengan kelas pekerja. Bahkan kelas menengah, seperti guru yang berjasa seperti ayah saja tak diberi tiket gratis oleh mereka.

Terkadang, saat langit cerah di malam musim kemarau, Amadeus tidur telentang menatap bulan. Ia membayangkan sebuah resor megah di mana orang-orang berpesta dengan segelas sampanye menikmati malam di dalam sebuah kolam air hangat. Hanya itu hiburan yang ia punya.

Ia menunjuk posisinya di peta yang sedikit basah. Jaraknya sudah dekat. Mungkin ia akan sampai di Barlo nanti malam. Setelah mendengar gumpalan air mendidih di atas panci, ia menyimpan peta kemudian mengangkat panci itu dengan sobekan kardus bekas. Saat ia menuangnya ke dalam gelas, ia tidak mencium aroma bubuk kopi, hanya aroma tanah. Tapi saat ia menyesapnya dengan penuh hati-hati karena gelas begitu panas, bibirnya langsung menyungging. Sudah lama sekali lidahnya tidak merasakan kopi.

Sebenarnya kopi itu jauh sekali dari kata nikmat, bubuknya sudah tidak segar, dan sedikit terasa seperti berdebu. Tapi tak ada yang lebih nikmat dari secangkir kopi di pagi hari yang hujan. Setelah menyesap gelas untuk kesekian kalinya, Amadeus tersenyum mengingat mimpinya barusan. Sungguh ia tak ingin bangun dan berharap dapat hidup dalam mimpinya sendiri untuk selamanya. Ia bersiul. Menirukan lagu yang disenandungkan oleh ayah. Saat itu ia tersadar, ia begitu kesepian. Membuat perlahan-lahan air matanya jatuh ke tanah yang lembab. Kemudian ia menaruh gelas dan memeluk lututnya dan memejamkan mata. Ia menangis bersama langit yang muram.

Hingga tak beberapa lama kemudian, kepalanya mendongak. Ia mendengar burung-burung mengepakkan sayapnya terbang tak jauh dari jembatan itu. Tanpa membuang waktu lama, ia langsung mematikan api unggun di hadapannya dengan persediaan air yang dia punya dan memakai pakaian yang dijemur tadi. Lantas menginjak-injaknya sampai bara api tak bersisa. Dan dalam sekejap, matanya membias kegelapan.

Ia bersandar pada tembok usang. Mengawasi sekitarannya dengan memasang mata-mata yang tajam. Jantungnya berdetak hebat, membuatnya bisa mendengar deru nafasnya sendiri di tengah hujan. Dari kejauhan ia mendengar tapak kuda berlari mendekatinya. Ia mencoba sembunyi ke semak-semak di sebelah kanannya. Tetapi saat ia hendak keluar dari kolong jembatan itu, kuda-kuda itu sudah berjarak beberapa meter. Ia tak ingin kelihatan, lantas ia bersembunyi di antara kegelapan itu dan berharap orang-orang yang mengendarainya tak menemukannya di sana.

Kuda-kuda itu berhenti tepat di atasnya. Seseorang turun dari pelana. Sepatunya yang bertapak tebal membuat semua langkahnya terdengar di telinga Amadeus. Amadeus mengeluarkan pisau dari jaketnya.

"Aku yakin, api unggun itu berasal dari sini," kata pria itu. Suaranya serak seperti sepatu yang diseret di jalan aspal. Lelaki itu memakai mantel hitam. Rambutnya yang basah menutupi matanya. Ia kemudian meludah. "Kau tunggu di sini, biar kuperiksa."

Amadeus yang terus merapat di dinding seperti cicak melihat ke segala penjuru, dan ia akan memastikan dengan pasti dari mana pria itu akan muncul. Jejak pria itu mendekati sebelah kirinya, Amadeus melangkah ke kanan dengan mengendap-endap. Sampai akhirnya ia tak sengaja menyenggol gelas aluminium dengan kakinya dan suara itu mengejutkannya. Amadeus pun langsung berlari ke semak-semak yang ada.

"Itu dia!" kata pria yang masih menunggang di atas kudanya. Tanpa menunggu rekannya, ia langsung menyuruh kudanya untuk berlari ke bawah jembatan dan menerobosi semak-semak.

Saat Amadeus berlari, ia tak pernah melihat ke belakang. Kedua tangannya tak sempat menghalau ranting-ranting, karena ia pikir itu akan memperlambat geraknya. Sehingga membuat wajahnya tergores-gores. Kemudian Amadeus berbelok ke kiri dan mencoba menarik sebuah akar pohon beringin yang sudah tumbang, ia ingin keluar dari lembah itu. Tangan dan sepatunya yang licin membuatnya sedikit susah memanjat. Dan saat ia sudah berada di atas, ia tak sempat menarik nafasnya dan terus berlari. Kakinya benar-benar terasa lelah sebab air sudah memenuhi seluruh pakaian dan sepatunya. Tapi ia terus berlari untuk hidupnya.

Namun si suara berat itu cerdik, ia tahu anak muda itu takkan berlama-lama di sana. Sehingga langsung mengambil jalan potong. Di antara pepohonan yang patah itu, ia melihat Amadeus berlari tergopoh-gopoh bagai sebuah siluet hitam. Tapi kuda tidak selincah itu, ia agak bersusah payah mengendalikannya, terlebih tanah begitu licin. Sehingga ia mengambil busur dan anak panah yang tersemat di punggungnya. Matanya menyipit sebelah, mencoba dengan presisi mengarah ke kaki anak muda itu. Tapi usaha awalnya gagal, saat tangannya melepas tali, anak panah meluncur ke arah batang pohon tepat di samping Amadeus.

Anak muda itu langsung berpusing ke kanan, mencoba menjauh. Tapi sayang sekali, Amadeus berlari segaris lurus dengan si pria suara berat dan busur panahnya, sehingga kaki kanannya yang kelelahan jadi sasaran yang mudah baginya. Amadeus langsung terjatuh saat anak panah tertancap di betis kanannya, ia mengerang kesakitan. Otot-ototnya mati rasa, sehingga tak mampu lagi berdiri.

Ia menyeret tubuhnya dengan tangan yang menarik rerumputan. Meskipun ia sudah mendengar jejak kuda berhenti tepat di belakang, ia terus menarik tubuhnya. Hingga akhirnya pria suara berat itu menginjak tangannya dan Amadeus pun tak lagi berdaya. Wajahnya mencium tanah yang basah. Ia menangis. Entah karena rasa sakit atau ketidakberdayaan. Mungkin keduanya. Lantas saat suara berat itu menarik rambutnya, Amadeus tak lagi bisa bersuara, karena dadanya sudah begitu sesak.

"Kenapa kau lari anak muda?" katanya. "Kau membuatku sangat kelaparan."

Tak lama kemudian, rekannya yang tersesat di lembah sungai muncul dengan nafas terengah-engah. "Sialan, ingin kugorok lehernya sekarang!"

"Jangan. Jangan. Jangan." Kata si suara berat itu sambil tersenyum. "Aku ingin dia tahu, bahwa manusia sama seperti binatang di tengah kelaparan seperti ini."
"Mungkin lebih dari itu..."

Amadeus yang tak lagi bertenaga dengan mudah diikat tanpa perlawanan. Ia diangkut ke atas kuda. Matanya yang setengah sadar terasa pusing menatap tanah karena tubuhnya terguncang-guncang. Dan tepat sebelum ia pingsan, ia hanya mendengar rintikan hujan dan jejak segerombol kuda perang. Dan ia tersenyum.

***

You were only waiting for this moment to arise. Blackbird fly.

"Blackbird fly."

Di sebuah ruangan yang kering dan hangat, Amadeus tersentak dan terjaga dari tidurnya. Matanya silau menatap lampu kuning yang menyala terang di langit-langit. Kaki kanannya sudah dibalut kain. Masih terasa sakit. Ia sempat terbatuk sebelum akhirnya dapat terduduk dengan tegap. Ada sebuah jendela di sebelah kirinya. Ia mengintip. Begitu banyak orang di luar sana. Ada yang menggergaji kayu, mengangkut tanah, mengasah pisau, dan tampak seseorang menggunakan senjata api.

Amadeus mengernyitkan kedua alisnya. Untuk pertama kalinya, Amadeus melihat kehidupan yang seperti itu. Hitam bola matanya mengembang, tapi kepalanya yang pusing meminta untuk direbahkan. Lantas tak lama kemudian Amadeus dikejutkan oleh suara pintu yang terbuka. Seorang laki-laki bertangan kosong mendekatinya dengan gagah. Amadeus yang merasa terintimidasi lantas mengambil botol kaca di sampingnya, kemudian memecahkan ujung bawahnya lalu mengarahkannya ke lelaki itu.

"Tenang. Kau aman di sini." Kata lelaki itu. Ia terlihat seperti 30-an, tapi mendengar suaranya, Amadeus berpikir pasti umurnya 50. Atau dia seorang pemabuk berat.

"Selangkah saja kau mendekat, aku akan menusukmu." Kata Amadeus dengan suara yang bergetar.

Lelaki itu mengangkat kedua tangannya dan menggeleng seakan mengatakan bahwa ia takkan melakukan apa-apa.

"Di mana ini?" tanya Amadeus dengan nada yang tegas.

"Barlo. Kau sedang berada di Barlo."

Amadeus hanya terdiam. Ia menurunkan botolnya.

Setelah itu pria itu duduk di pinggir kasur, sementara Amadeus memalingkan wajahnya ke arah jendela. Ia membuka tirainya dan menatap keluar dengan penuh kedamaian.

"Aku tak tahu harus berkata apa." kata Amadeus. "Sesaat yang lalu aku merasa seseorang menyanyikanku sebuah lagu yang penuh damai, dan saat aku menghadapi kedamaian aku tak tahu harus bersikap seperti apa."

Lelaki itu mendehem, "Maaf, tapi kau tak bisa berlama-lama di sini."

Amadeus menoleh. "Apa maksudmu?"

"Seorang pria tua berkata padaku bahwa kau mencuri makanannya di tengah jalan."

Amadeus menggeleng. "Aku tak mengerti."

"Aku tak tahu harus mempercayai siapa. Pria tua itu adalah bagian dari Barlo. Meskipun ia juga baru tiba di sini, tapi kau adalah orang asing."

"Kau akan mengirimku kembali ke luar sana?"

"Tidak." Lelaki itu meraih plastik tembakau dari saku bajunya, kemudian mengeluarkan beberapa jumput, dan menggulungnya dengan kertas

"Lantas?"

"Kau akan dijadikan tumbal." Ia membakar ujung gulungan tembakaunya dengan korek kayu.

"Kau lihat bendungan itu," katanya. "Volume airnya semakin lama semakin meninggi. Hujan sialan ini tak kunjung berhenti turun. Suatu saat airnya akan meluap dan mengancam Barlo beserta isi-isinya. Kami tak tahu lagi harus berbuat apa. Jadi para pemburu atau perampas yang ditangkap akan dilempar ke sana bersama dengan batu."

Lelaki itu menghembuskan asap tembakau terakhirnya. "Dan kau tak ada bedanya dengan mereka."

"Kau gila!" teriak Amadeus, "Aku tak membunuh pria tua itu, mengapa aku harus mati? Ini tak adil!"

"Kau tidak membunuhnya. Tapi kau membunuh harapannya. Kami menemukannya dengan keadaan menyedihkan di antara reruntuhan bangunan, matanya hampir buta karena menangis. Katanya kelaparan."

"Maafkan aku," lanjutnya. "Demikianlah aturan yang sudah kami tetapkan."

"Persetan dengan aturan bodoh itu!"

"Setidaknya dengan aturan itu, kami bisa bertahan hidup."

Mendengar hal itu, Amadeus jadi menangis. Ia meratap ke arah dinding. Seakan mengerti penderitaan yang dialami Amadeus, si pria itu keluar dan menutup pintu dengan rapat setelah menginjak tembakau di lantai.

Barlo dan kehidupan di luar sana tak ada bedanya bagi Amadeus, sama seperti pagi dan malam di musim hujan yang panjang ini. Hanya saja, Barlo menyadarkannya bahwa tak ada hal yang membuat maut melupakan tugasnya. Ia hanya menanti di saat yang tepat. Ia bisa saja mati dikuliti hidup-hidup oleh para pemburu, tapi hidup takkan mengajarinya arti bahwa setiap tindakan ada konsekuensi. Andai kata Amadeus tak punya hati dan memilih untuk membunuh pria tua asing yang ditemuinya di tengah jalan dua hari yang lalu, ia tak hanya dapat menikmati secangkir kopi dan makanan rampasan untuk hidup, tapi juga kedamaian di Barlo.

Hingga datang masanya, saat barisan orang-orang menanti dari kejauhan dan Amadeus berdiri di tepi bendungan dengan kaki terikat batu menatap air bendungan yang berguncang-guncang, adalah masa musim penghujan berhenti menyanyi. Hujan bermata pisau itu kini menarikan tariannya, menyambut sebuah sesembahan yang kesekian kalinya. Sedemikian ramai orang-orang yang menyaksikan, tapi Amadeus merasa kesepian. Kesepian merasuki tubuhnya sedemikian cepat, membuatnya ingin bernyanyi.

Blackbird singing in the dead of night. Take these broken wings and learn to fly.

"All your life." Dan secercah cahaya yang menyala pada lilin di dadanya, akhirnya tertiup angin.

Padang, 2022.

Nuzul Ilmiawan mahasiswa jurusan Sastra Indonesia di Universitas Andalas, Padang. Lahir di Bireun, 19 Oktober 2001



Simak Video "Medina Zein Irit Bicara Usai Jalani Persidangan "
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT