Cerita Pendek

Grafiti di Masjid

Saharuddin Ronrong - detikHot
Sabtu, 22 Jan 2022 10:43 WIB
ilustrasi cerpen
ILustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Pertemuan keempat remaja tanggung itu singkat saja, di selasar masjid kampung selepas Salat Isya.

"Oke ya, semua sudah paham. Kita masing-masing berdua. Setelah itu balik ke rumah masing-masing."

"Kalau ketahuan?"

"Paling nginap semalam di polsek, lalu dirotan bapak masing-masing!"

"Ha-ha-ha-ha!"

"Ha-ha-ha-ha!"

Benar saja, keesokan harinya kampung itu geger, muncul grafiti di tiga lokasi berbeda, di tembok kantor desa, pagar rumah pak kades, dan satu lagi yang membuat warga ternganga, grafiti di bagian dalam masjid persis di depan tempat imam.

Pak Kades mondar-mandir sambil mengumpat. Wajahnya tidak ramah kepada siapa pun. Saat bujang kantor desa datang dengan ember kecil berisi cat tembok putih yang telah dicampur air, dia hanya menginstruksikan lewat tangannya agar sang bujang segera memoles tembok itu. Dia terdengar sewot di telepon.

Sekelompok warga memenuhi halaman kantor; ada sekitar dua puluh orang dewasa ditambah anak-anak berjumlah hampir sama. Mereka berbisik-bisik satu sama lain. Anak-anak kecil yang berlarian segera ditarik oleh orangtuanya agar diam dan berdiri di dekat mereka.

"Mau kamu dimakan Pak Kades?" Anak-anak itu menggeleng, tapi sama sekali tidak kapok. Beberapa saat kemudian anak-anak itu kembali berlarian. Mereka belum mengerti apa makna tulisan yang kini menjadi sumber masalah sekalipun mereka sudah bisa membaca atau mengeja tulisan itu.

DARI MANA JAM TANGAN MAHAL PAK KADES?

Anak-anak kecil itu bahkan mengulang-ulangnya dengan suara keras. Pak Kades mendengus. Orang-orang dewasa pasrah melihat tingkah anak-anak mereka, mereka menunduk atau pura-pura memandang ke arah lain.

Tak jauh dari kantor desa, kerumunan lain terbentuk pula di depan rumah Pak Kades. Di tembok pagarnya yang mewah berwarna kuning gading juga muncul grafiti bernada mengejek.

UANG SKINCARE MAHAL BU KADES HARUSNYA JADI SALURAN IRIGASI

Bu Kades mencak-mencak di depan kerumunan itu, karena tak bisa mengontrol mulutnya; beberapa nama yang dia curigai tak sengaja lolos dari bibirnya yang sepagi itu pun sudah merah membara. Dia menengarai ini ada kaitannya dengan kandidat kepala desa yang kalah saat pemilihan kepala desa beberapa bulan lalu.

Wajahnya yang tampak licin terawat kemerahan diterpa matahari pagi. Napasnya tersengal. Orang-orang khawatir Bu Kades akan jatuh pingsan.
Orang-orang di kerumunan kedua ini jauh lebih banyak dan lebih berisik.

"Ini biasanya hanya ada di tivi-tivi, kok bisa-bisanya sekarang kejadian di kampung kita. Pengaruh globalisasi ini."

"Oh, nonton berita juga kau rupanya ya, kukira hanya nonton Ikatan Cinta kau!"

"Ha-ha-ha-ha!"

"Ha-ha-ha-ha!"

"Nasibnya si Andin itu gimanakah sekarang?"

Percakapan itu terus bergulir di tengah kekesalan Bu Kades dengan mulut yang terus komat-kamit.

Pak Jamal tergopoh-gopoh diikuti Pak Kades dari belakang, "Semua bubar, pulang ke rumah masing-masing," kata Pak Kades kepada kerumunan di depan rumahnya.

Di depan kantor desa massa juga sudah nampak membubarkan diri seiring mengeringnya cat tambalan Pak Jamal.

"Tunggu Pak Jamal, jangan dihapus dulu, biar saya foto sebagai bukti. Ini sudah pasti saya laporlan ke polisi!" cegah Bu Kades saat Pak Jamal siap dengan kuasnya. Bujang itu mundur beberapa langkah dan memberi kesempatan Bu Kades untuk mengambil gambar.

"Kenapa catnya putih?" protes Bu Kades dengan suara memekik.

"Untuk sementara dulu, Ma," sergah Pak Kades dengan cepat. Pak kades memberi kode Pak Jamal untuk segera mengerjakan tugasnya.

Bu Kades mendengus.

Orang-orang bukannya beranjak pulang; kedua kerumunan tadi justru bergerak ke arah masjid, bergabung dengan yang lainnya. Halaman masjid penuh sesak layaknya orang-orang yang datang hendak salat Idulfitri pada satu Syawal. Bagian dalam masjid kosong melompong, pintu-pintu dan jendelanya telah dikunci. Orang-orang tidak bisa melihatnya dari dekat, hanya mengintip lewat kaca jendela. Hanya jemaah Salat Subuh saja dan imam masjid yang sempat menyaksikan grafiti itu dari dekat.

TUHAN, KAMI LELAH DIKIBULIN PAK KADES!

Orang-orang bergidik membacanya, betapa berani pelakunya merusak rumah Allah, itu yang selalu mereka ulang-ulang. Dibanding dua grafiti sebelumnya yang tidak terlalu mereka pedulikan amat, grafiti di masjid ini justru memancing massa untuk ikut serta mencari pelaku.

"Kalau protes pemerintah desa saya setuju, tapi kalau sampai menodai kesucian masjid, ini keterlaluan!"

"Kalau mau protes, jangan di masjid dong!"

"Kita harus cari pelakunya!"

"Kalau tidak cepat, bisa-bisa kita ditimpa azab. Celaka kita!"

Imam masjid menerobos kerumunan bersama Pak Jamal dan Pak Kades; orang-orang segera memberi jalan, lalu mengekor mengikuti mereka mendekati pintu utama. Dorong-dorongan tak bisa dihindarkan hingga membuat Ustaz Kholil kesulitan memasukkan anak kunci ke lubangnya, Pak Kades membalikkan badannya.

"Cat Pak Jamal bisa tumpah karena ulah Bapak-Ibu semua!" teriaknya dengan suara parau. Matanya melotot ke arah orang-orang yang berdesakan. Orang-orang mundur sejenak, lalu maju kembali.

Kraaak...pintu terbuka. Ustaz Kholil dan Pak Jamal masuk. Pak Kades kembali membalikkan badan; itu semacam peringatan, yang lain tidak usah masuk.

Kraaak...pintu kembali dikunci dari dalam. Orang-orang mendekati jendela untuk melihat kondisi di dalam masjid. Beberapa mengaduh kesakitan karena kejedot kaca akibat dorongan dari belakang. Suara anak kecil menangis mulai bersahutan karena terhimpit atau terinjak orang dewasa. Suasana benar-benar gaduh; semua orang merasa berkepentingan untuk tahu apa yang terjadi di dalam masjid.

Tampak Pak Kades mengeluarkan telepon genggamnya lalu menjepret beberapa kali ke arah tulisan itu sama seperti yang dilakukan Bu Kades tadi di depan rumahnya. Pak Jamal segera beraksi dengan kuasnya.

Pak Kades terlihat berbicara dengan Ustaz Kholil dengan tangan diacung-acungkan; dia masih sangat geram. Ustaz Kholil menepuk-nepuk pundak Pak Kades. Barulah setelah itu Pak Kades tampak lebih tenang.

Tak jauh dari masjid empat remaja tanggung itu bersidang; tak ada yang memperhatikan mereka, orang-orang sedang sibuk di sudut lain.

"Siapa yang berani masuk masjid semalam hah?" tanya Yakub sambil mengedarkan padangannya kepada ketiga temannya. Nada suaranya tegas dan menginterogasi.

"Aku sama Aris langsung pulang setelah dari rumah Pak Kades," celetuk Hakim.

"Kalau aku kan sama-sama dengan kau toh, Kub. Kau liat aku masuk rumahku lewat pintu samping toh!" Ahmad menimpali.

"Tapi kan bisa saja kau keluar lagi...."

"Enak aja, kepalamu...."

"Kepalaku kenapa?" tantang Aris.

"Husssh, sudah. Ini kita dikerjain berarti. Dan itu artinya ada yang tahu rencana kita malam kemarin!"

"Tapi siapa?"

"Itu dia. Intinya sekarang orang-orang sedang memburu kita. Masuk sel semalam untuk pembinaan tidak apa. Masalahnya karena grafiti di masjid itu membuat warga geram. Kita bisa diamuk. Kita pun bisa masuk neraka!" suara Yakub meninggi bercampur isakan. Suaranya bergetar, bibirnya gemetar.

"Woe, sadar woe, orang-orang bisa mencurigai kita kalau kamu teriak-teriak begitu."

"Nanti malam kita ngobrol lagi setelah mengaji. Bubar!" Yakub mengibaskan tangannya. Dia sudah bisa menguasai dirinya kembali. Mereka membubarkan diri, berpencar, tak lagi bergabung ke kerumunan yang juga mulai terurai menjadi kelompok-kelompok lebih kecil.

Malam itu tidak boleh ada yang keluar rumah lewat dari jam sembilan malam. Pak Kades dan perangkat desa lainnya mengeluarkan jam malam; mereka akan berpatroli. Sekalipun diprotes para pedagang yang selama ini biasa berjualan di pinggir lapangan hingga pukul sebelas malam, mereka bergeming; aturan adalah aturan, dan mereka merasa berhak menegakkan aturan di kampung itu tanpa persetujuan warga.

Masjid hanya dibuka jika waktu salat tiba; selesai salat sunah ba'diyah semua sudah harus beranjak pulang, masjid akan dikunci, begitu instruksi Pak Kades kepada Ustaz Kholil, tidak ada lagi ngobrol-ngobrol atau belajar mengaji selepas Isya. Ustaz Kholil manut.

Keempat remaja tanggung pembuat dua grafiti merasa kebingungan bagaimana mereka akan bisa berkoordinasi kembali. Apa mau dikata mereka terpaksa harus 'rapat', begitu istilah mereka, lewat Whatsapp.

"Ris, kau buat grup WA berempat."

"Apa namanya, Kub?"

"Buronan Warga!"

"Lah, serius?"

"Pemuda Soleh."

"OK."

"Undang Hakim dan Ahmad."

"OK."

Hingga percakapan di grup itu berakhir menjelang pukul dua pagi, mereka belum juga menemukan titik terang atau setidaknya petunjuk sosok misterius yang telah ikut dalam rencana rahasia mereka.

***

"Abah, apa tidak sebaiknya Abah mengaku saja. Laporkan anak-anak itu juga. Apa Abah tenang menutupi ini?" Ustazah Marwah duduk di dekat Ustaz Kholil setelah meletakkan mukena dan sajadah yang baru saja dilipatnya.

"Tidak sekarang, Ummi. Percuma buat itu kalau tidak ada dampaknya untuk perbaikan kampung ini. Anak-anak itu pasti akan saya lindungi, entah bagaimana caranya nanti. Abah akan usahakan."

"Abah sudah bukan aktivis lagi seperti dulu. Dan sebaiknya Abah siapkan penjelasan ke warga kenapa Abah membuat itu di dalam masjid." Setelah mengucapkan itu Ustazah Marwah beranjak ke arah dapur.

Ustaz Kholil menatapi Pilox yang tergeletak tak jauh dari tempatnya duduk, lalu tersenyum sendiri.

Taeng, 2021

Saharuddin Ronrong koordinator Divisi Pengembangan Karya FLP Cabang Gowa Sulsel, bekerja sebagai kepala Departemen Kurikulum Sekolah Islam Athirah Makassar

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Simak Video "Hujan Tak Surutkan Antusiasme Pengunjung Java Jazz Festival"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)