Cerita Pendek

Alien

Muhammad Al Fatih - detikHot
Minggu, 14 Nov 2021 13:00 WIB
ilustrasi cerpen
Foto: iIustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

"Pada suatu hari," Ira menunggu ayahnya melanjutkan dongengnya, "Hiduplah si Kaya dan si Miskin."

***

Sejak kecil, ayah Ira selalu mendongengkannya sebelum tidur. Suaranya yang berat, namun menenangkan selalu membuatnya nyaman hingga tertidur lelap.

Ayahnya selalu mempunyai dongeng yang menarik untuk diceritakan, dan mungkin ini terdengar mustahil (bahkan konyol bagi sebagian orang), namun sampai Ira sekarang berada di kelas 2 SD, tidak ada satu malam pun dimana ayahnya tidak mendongengkan dirinya sebelum tidur.

Bukan berarti ayahnya tidak mempunyai kesibukan, sebaliknya, ayah Ira sebenarnya orang yang cukup sibuk, terutama belakangan ini. Namun, ia akan selalu menyempatkan dirinya untuk pulang pada malam hari untuk mendongengkan putri semata wayangnya itu-bahkan meskipun kadang ia harus pergi lagi.

Beberapa dongeng kadang diulang-ulang sehingga Ira pun menjadi hafal akan karakter dan jalan ceritanya. Akan tetapi, ayahnya selalu mampu membuat dongeng-dongeng baru sehingga Ira tidak kebosanan. Dongeng-dongeng yang bahkan teman-temannya mengaku tidak pernah mendengarnya sebelumnya saat ia menceritakannya di sekolah.

Itulah kenapa, saat ibu dan ayahnya berpisah beberapa bulan yang lalu, ia memutuskan untuk mengikuti ayahnya. Ibunya adalah orang yang lembut dan sangat menyayanginya, namun sayangnya merupakan seorang pendongeng yang payah.

Ibunya sempat khawatir jika nantinya ayahnya terlalu sibuk hingga tidak sempat merawat Ira.

"Tenang saja," kata ayahnya saat itu, "Akan kupastikan bahwa setidaknya tak satu malam pun terlewat sebelum aku mendongengkannya sebelum tidur."
Ayahnya memegang kata-katanya.

Ira pun sebenarnya anak yang cukup bisa mengurus diri, mencuci pakaian dan memasak untuk dirinya sendiri. Satu-satunya yang ia butuhkan hanyalah ayahnya untuk mendongengkannya sebelum tidur.

***

"Pada suatu hari," Ira menunggu ayahnya melanjutkan dongengnya, "Hiduplah si Kaya dan si Miskin."

"Mereka tinggal di sebuah desa dimana ada kolam dengan dua ekor ikan yang mereka pelihara bersama."

"Mereka memelihara ikan itu hingga akhirnya ikan itu cukup besar untuk mereka makan. Semestinya, satu ikan itu untuk si Kaya dan satunya lagi untuk si Miskin. Namun, si Kaya justru mengambil kedua ekor ikan tersebut, memberikan hanya bagian ekor dari ikan yang kedua untuk si Miskin."

"Anehnya, si Miskin justru berterima kasih kepada si Kaya, menyebutnya sebagai orang yang dermawan. Si Kaya pun kemudian berkata, bahwa sebagai orang yang baik hati, dirinya memang senang memberi."

"Senang memberi?" Ira keheranan, "Tapi bukannya si Kaya hanya memberikan jatahnya si Miskin, Yah? Hanya bagian ekornya, pula!"

Ayahnya tersenyum.

"Ira benar.." kata ayahnya sambil mengelus kepala Ira, "namun seperti itulah si Kaya."

***

Pada suatu malam, seperti biasa, ayahnya datang ke kamarnya untuk mendongengkannya. Namun kali ini, ayahnya terlihat tidak setenang biasanya dan terkesan sedang terburu-buru.

Setelah ayahnya selesai mendongengkannya, ia kemudian berkata kepada Ira.

"Ra, ayah ingin memberitahukan sesuatu kepada Ira, tapi, janji ini rahasia hanya antara Ira dan ayah, ya?"

Ira terlihat kebingungan. "Rahasia itu apa, Yah?"

"Rahasia itu berarti Ira tidak boleh memberitahukan ini kepada siapa pun."

"Termasuk ibu?"

"Iya, termasuk ibu."

"Termasuk Dina?"

Ira menyebutkan Dina, salah satu teman sekelasnya yang paling akrab.

"Iya, termasuk Dina."

"Termasuk Ciko?"

Ciko adalah kucing peliharaan mereka yang sedang tertidur lelap di ujung kasurnya, Ira kadang bercerita banyak hal kepada Ciko.

Ayahnya tersenyum tipis.

"Iya, termasuk Ciko."

Ira kemudian pelan-pelan membawa Ciko sejenak keluar kamar lalu kemudian menutup pintu.

"Enggak boleh memberitahukan pada siapa pun. Enggak boleh memberitahukan pada siapa pun." Ira mengulang-ulang kalimat itu kepada dirinya sendiri.

"Jadi.." ayahnya menghela napas. "Ayah sebenarnya sedang dikejar-kejar oleh alien."

"Alien?"

"Iya...."

"Monster luar angkasa itu?"

"Iya, sayang...."

"Mengapa ayah dikejar-kejar oleh alien?"

"Karena mereka turun diam-diam ke bumi ingin menyerang kita semua, dan ayah tahu. Mereka khawatir ayah akan memberitahukan penduduk bumi lainnya, karena itulah mereka mengejar-ngejar untuk menangkap ayah."

Ira kemudian memasang muka cemas.

"Ayah harus bersembunyi supaya alien itu tidak menangkap ayah," ayah Ira terlihat seperti menahan kelu di tenggorokannya, matanya berkaca-kaca, "Pagi nanti, ibu akan datang menjemput Ira. Mulai besok, Ira tinggal bersama ibu, ya.."

Raut wajah Ira berubah dari yang awalnya cemas menjadi cemberut.

"Enggak mau!" Ira mengerutkan kedua alisnya. "Ira mau bersama ayah! Ira enggak takut dengan alien! Biar saja Ira ditangkap berdua bareng ayah!"

Ayahnya hanya diam sambil memeluknya erat.

"Suatu hari nanti, Ira selamatkan ayah dari alien itu, ya."

***

Itulah kali terakhir Ira melihat ayahnya.

Keesokan paginya, ibunya datang, memeluk Ira sambil menangis tersedu-sedu, kemudian mengemas-ngemas barang dan membawanya pergi dari rumah itu.

Saat dibawa ibunya menuju mobil, Ira mendengar tetangganya berbisik-bisik soal ayahnya yang selalu sibuk mengkritik pemerintah hingga kini nyawa dan keberadaannya terancam, menelantarkan anak dan mantan istrinya. Ibunya yang juga mendengar itu buru-buru membawa Ira masuk ke dalam mobil.

Ira tidak tahu apa yang dimaksud dengan 'mengkritik', namun ia yakin, 'pemerintah' yang disebut-sebut tetangganya itu adalah, mungkin, salah satu alien yang sedang mengejar-ngejar ayahnya.

Dalam hati ia berjanji bahwa ia tidak akan membiarkan alien itu menangkap ayahnya.

Al Ain, Maret 2021

Muhammad Al Fatih penulis lepas, mahasiswa Universitas Islam Antarbangsa Malaysia



Simak Video "Keren! Ketika Tarian Khas 3 Kabupaten Dikolaborasikan"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)