Cerita Pendek

Roh Penghuni Laut

Iin Farliani - detikHot
Minggu, 26 Sep 2021 08:45 WIB
ilustrasi cerpen
IIustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Sudah dua jam Dalli dan Didi menunggu di dermaga. Angin pantai menggoyangkan tiang-tiang kayu dermaga yang rapuh. Dalli yang sedari tadi diam kini mulai mengumpat. Ia bangun dari tempat duduknya sambil menunjuk ke arah perahu motor yang datang.

Perahu motor membunyikan deruan tak berkeputusan. Ketika semakin dekat ke pantai, salah satu dari para lelaki yang duduk di atasnya dengan sigap mulai melempar tali tambang yang terkait jangkar. Orang-orang turun dari perahu. Salah satu di antara mereka adalah seorang perempuan muda yang menjinjing ember.

Ia satu-satunya perempuan di tengah rombongan itu. Ia mengenakan topi pelindung sinar matahari. Ia duduk ragu-ragu di atas pinggiran perahu. Merasa tidak yakin apakah langsung melompat saja. Desir angin berpadu ombak kecil menggoyangkan perahu yang kini telah ditambatkan itu. Wajah perempuan muda itu pucat seperti akan memuntahkan sesuatu.

"Turun!" teriak seseorang. "Tidak ada bulu babi!"

Perempuan muda itu masih terlihat ragu-ragu. Salah satu lelaki maju ke arahnya, merentangkan kedua tangan seakan telah siap menggendong perempuan itu. Namun, si perempuan tiba-tiba saja melompat, melengos dari rentangan kedua tangan si lelaki yang masih menggantung. Ia jatuh tersungkur ke air. Tawa membahana meledak seketika.

"Taruhan. Dia tidak akan bertahan lama di sini," kata Dalli. Ia memicingkan matanya masih melihat ke arah rombongan yang mulai memencar satu-satu. Didi bersiap-siap membantunya mengangkut tiga keranjang berisi rumput laut yang telah menggumpal kering.

"Apa salahnya? Ia cantik dan orang-orang menyukainya," sahut Didi.

Dalli dan Didi mulai berjalan bersisian melintasi dermaga dengan bergerak cepat menuju perahu motor. Beberapa dari rombongan tadi meminta maaf pada mereka karena telah menggunakan perahu begitu lama dari waktu yang seharusnya. Didi tersenyum mengatakan tidak apa-apa. Sedangkan Dalli tidak menyahut kata-kata orang-orang itu.

Setiap tiga hari sekali selalu hal ini yang terjadi. Para teknisi dari hatchery kerang mutiara menggunakan perahu motor terlebih dahulu untuk menyeberang menuju keramba jaring apung yang berada di tengah laut. Meski telah bersepakat tentang jadwal pemakaian yang bergilir, tetap saja mereka menggunakan perahu motor satu-satunya milik balai perikanan itu pada hari ketika semestinya hatchery kerang abalon mendapat giliran pertama.

"Ini karena kau tidak bangun pagi-pagi. Seandainya kau datang lebih cepat, kita bisa berangkat lebih dulu," kata Dalli bersungut-sungut.

Didi meminta maaf. Didi mengiyakan perkataan Dalli; ia seharusnya datang lebih awal. Tetapi sebagai peneliti baru di tempat itu, terkadang sangat sulit baginya menyesuaikan diri dengan jam kerja di balai perikanan itu. Ia sebenarnya tak memiliki kewajiban untuk membantu teknisi di sana, tetapi Didi merasa kecut hatinya bila melihat Dalli bekerja sendirian di keramba jaring apung. Mereka sudah cukup dekat dan saling membantu keperluan masing-masing sejak hari pertama Didi memulai penelitiannya. Umur mereka juga tidak jauh berbeda. Hal ini turut menimbulkan rasa keakraban di antara mereka.

Meski memulai hari dengan gerutuan kesal dan perdebatan kecil, toh mereka tetap menjalankan tugas memberi pakan abalon itu. Tiga hingga lima keranjang berisi rumput laut dari jenis Ulva dan Gracilaria dipikul bersama-sama. Mereka mengumpulkannya sore hari sebelum esoknya memberi pakan. Sore hari ketika air laut surut dan hamparan Ulva yang terdampar di pantai dimasukkan ke dalam keranjang dengan satu raupan tangan.

Pegawai dari hatchery kerang abalon beberapa di antaranya sedang menjalankan dinas ke luar kota. Ada juga yang masih tinggal. Tapi, pegawai negeri seperti mereka sering datang ke hatchery lebih siang dibandingkan buruh seperti Dalli yang selalu datang lebih pagi. Pegawai itu kerjanya lebih banyak duduk-duduk, mengobrol hal tak perlu, dan suka menunggu pekerjaan bagiannya dibereskan oleh teknisi.

"Biar saja. Tak perlu diprotes. Sudah biasa hal itu terjadi di sini," kata Dalli ketika Didi mencoba mengeluarkan gerutuannya soal itu.

Sesudah memberi makan abalon-abalon itu, mereka duduk di atas titian yang menghubungkan kerangka keramba dari satu keramba ke lainnya. Dalli duduk mencangkung dengan pandang khidmat ke arah laut. Ia menawari Didi sebatang rokok. Didi menggeleng cepat. Dalli mengisap rokoknya. Sesekali posisi duduk mereka terombang-ambing oleh gerakan ombak, juga benturan antar keramba yang cukup keras. Angin laut berhembus kencang. Mula-mula kepala terasa sangat pusing, perut mulai mual.

Didi terkadang belum terbiasa dengan hal itu, tetapi ia senang karena tidak pernah muntah lagi seusai meninggalkan keramba. Ia memandang birunya laut yang semakin terlihat menyilaukan oleh terpaan terik matahari siang.

"Berapa lama lagi baru akan selesai penelitianmu?" tanya Dalli.

"Kira-kira satu bulan lagi," Didi menyahut pelan sambil mengamati tubuh kurus Dalli dan matanya yang cekung. "Hei, Dalli mengapa kau tidak pernah mengajak Sassa bicara?" lanjutnya.

"Siapa dia?" tanya Dalli.

"Sassa! Perempuan muda yang ikut bersama rombongan lelaki dari hatchery mutiara tadi. Masakah kau tidak tahu? Ia juga penelitian di hatchery abalon. Bukankah ia datang lebih dulu ketimbang diriku?"

"Oh, Sassa! Nama seperti merek bumbu masak! Aku tahu. Yah, bagaimana ya? Aku memang tidak suka berbicara dengan perempuan."

"Tapi, dia rajin dan selalu datang pagi sekali."

"Memang." Dalli menjawab acuh tak acuh. "Tapi, aku tetap tidak ingin satu perahu dengannya. Bisa saja aku ikut bersama kawan-kawan mutiara itu. Tapi, aku selalu beralasan ingin menunggumu dulu. Aku akan menunggu Didi, begitu kataku. Tapi, perempuan itu agak kurang sabar sepertinya. Ia ingin cepat-cepat pergi menimbang abalonnya di keramba. Sepertinya, dia tidak suka bekerja menunda-nunda. Jadilah dia selalu ikut bersama rombongan mutiara itu."

"Lagi pula dia...." Dalli berhenti sejenak menatap Didi. Ia berdiri dari duduknya sebab di tempatnya kini telah panas dan membuatnya tak henti memicingkan mata menahan sinar matahari. Ia duduk di tempat yang lebih teduh dekat dengan rumah apung lalu melanjutkan lagi perkataannya.

"Lagi pula dia itu...Bagaimana aku menyebutnya? Persisnya? Dia itu...Kupikir dia itu perempuan sinting."

Nada bicara Dalli seperti tidak yakin. Didi terkejut. Dari tepian keramba, Didi melihat ke arah pantai yang kini tampak begitu kecilnya seperti titik di kejauhan. Tampak buram.

"Suatu hari aku melihatnya duduk di pantai. Waktu itu sore hari, ia duduk bersila. Di sampingnya tumpukan Ulva yang sudah ia kumpulkan dalam keranjang. Aku pikir ia sedang menunggu hingga air laut benar-benar surut dan mengambil beberapa Ulva lagi. Tapi, dia tetap diam di sana masih dengan duduk bersila, tubuh tegap, tatapannya ke arah laut begitu teguh dan dalam. Seakan ia sedang menunggu sesuatu yang akan datang dari kejauhan.

"Rambutnya dibiarkan tergerai, sedikit basah. Tubuhnya terendam dari bawah hingga sebatas dada. Hingga menjelang malam ia tetap duduk di sana. Waktu itu aku hendak pulang dari memancing melintasi dermaga. Sebenarnya aku tidak suka menegur duluan. Tapi, tingkahnya waktu itu benar-benar aneh, membuatku segera berteriak memanggilnya, 'Hei! Sedang apa kau di sana? Cepat naik. Mau mati kedinginan, hah?'"

"Aku memanggil berkali-kali hingga ia menoleh padaku dan menjawab dengan nada tinggi, 'Aku menunggu kedatangan roh. Roh-roh penghuni laut sebentar lagi akan datang.' Jawabannya itu! Benar-benar membuatku geleng-geleng kepala. Jawaban macam apa itu! Aku tidak menghiraukan lagi lantas segera pergi dari sana."

Mendengar cerita Dalli, Didi tertawa terpingkal-pingkal. Didi menyetujui sedikit pendapat Dalli bahwa kadang-kadang Sassa itu terlihat aneh. Ia bisa sangat pendiam, menyelesaikan pekerjaan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Dan bisa juga terkadang sangat ramah membawakan sekotak rokok dan kopi untuk kenalan-kenalan di balai.

"Tapi apakah kau tahu, Didi? Sejak hari itu, tidak ada pekerja-pekerja lelaki yang menggodanya. Menggoda dengan suitan atau perkataan tidak sopan lainnya. Aku tidak tahu apakah hari itu ada orang selain diriku yang melihat Sassa bertingkah aneh di pantai. Tapi, esoknya beberapa pekerja membicarakannya. Mereka mengaku saat melihat Sassa sedang mengumpulkan Ulva di sore hari, ia juga berlaku seperti sedang semadi menunggu kedatangan roh penghuni laut."

Didi bergumam sejenak, "Mungkinkah ia bertingkah aneh seperti itu agar tidak ada laki-laki yang mengganggunya? Kau tahu, ia satu-satunya peneliti perempuan yang masih melanjutkan percobaannya hingga saat ini. Dan, dia... aku juga bingung mengatakannya. Kau tahulah, dia itu memang cantik. Sungguh cantik!"

Dalli mengangkat bahu, "Tak tahulah. Kadang-kadang ia menjawab sapaan pekerja yang menggodanya dengan jawaban meracau. Jika ada yang menyapanya 'Selamat pagi, Sassa' lalu diikuti kata-kata menggoda lainnya, maka ia mulai menjawab, 'Lihat! Ada serigala dimakan laba-laba.' Pokoknya ia mengatakan hal-hal tak terduga setiap kali diajak bicara. Tentu saja orang-orang kemudian menganggapnya aneh."

Obrolan siang itu diakhiri dengan menyantap bersama-sama bekal makan siang berupa nasi hangat dan dua potong ikan tongkol yang besar. Di sela-sela suara benturan perahu dengan keramba dan gerakan rumah apung yang naik turun, mereka makan dengan sangat lahap. Sesudah menyantap habis nasinya, Dalli masuk ke rumah apung menyatakan akan tidur siang sejenak. Sementara, Didi memilih duduk menepi dekat perahu ditambatkan.

Suara ombak terdengar keras membentur perahu. Ia memicingkan mata ke arah pantai. Rumah-rumah di seberang pantai itu tampak semakin mengecil. Dan, bukit-bukit gersang di belakangnya tampak bagai pemandangan yang tak nyata. Barangkali sama tak nyatanya dengan roh penghuni laut itu.

Tiba-tiba ia tersenyum. Didi masih memikirkan cara yang tepat untuk kembali membujuk Sassa agar bisa makan malam bersamanya nanti. Makan malam bersama di dermaga sambil menyaksikan roh-roh itu. Ia tersenyum lagi. Tubuhnya perlahan-lahan dimundurkan, berbaring di atas titian. Perlahan-lahan, ia pun mendengkur di sana.

Keterangan:

Ulva: Jenis rumput laut hijau yang ditemukan terdampar di sepanjang pantai teluk. Ulva diberikan sebagai pakan abalon untuk yang masih dalam tahap juvenil.

Gracilaria: Jenis rumput laut dari filum Rhodophyta yang dijadikan pakan utama abalon.

Hatchery: tempat pembenihan atau pemeliharaan biota laut. Biasanya berupa bangunan semi-indoor.

Iin Farliani buku kumpulan cerita pendeknya berjudul Taman Itu Menghadap ke Laut (2019). Lahir di Mataram, Lombok, 4 Mei 1997. Alumnus Jurusan Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Mataram. Aktif di Komunitas Akarpohon Mataram

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Simak Video "Lisa BLACKPINK Akan Didapuk Jadi Ikon Terbaru Thailand?"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)